kicknews.today – Krisis pasokan air bersih di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, kembali berdampak serius terhadap sektor pariwisata. Sedikitnya tiga hotel dipastikan terancam menghentikan operasional mulai hari ini, Rabu (9/9/2026) apabila pasokan air bersih belum kembali normal.
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan mengatakan, selain tiga hotel yang dipastikan tutup, terdapat dua hotel lainnya yang juga berpotensi menghentikan operasional. Kondisi tersebut terjadi karena pelaku usaha tidak lagi memiliki kepastian pasokan air untuk memenuhi kebutuhan tamu.

“Per tadi malam saya sudah menerima konfirmasi bahwa ada sekitar lima tempat penginapan hotel yang mungkin besok akan tutup. Tiga sudah pasti,” kata Kusnawan, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, para pelaku usaha sejauh ini telah melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan operasional, salah satunya dengan membeli air secara mandiri. Sebagian hotel juga terpaksa mencampurkan air yang dibeli dengan air payau dari sumber tradisional yang masih tersedia di pulau tersebut.
Di sisi lain, sejumlah hotel memilih tidak menerima reservasi baru untuk mengantisipasi kondisi yang semakin memburuk.
“Mostly mereka membeli air. Kemudian mencampur air dengan air payau, karena ada beberapa sumber tradisional di sini yang kita gunakan. Ada juga teman-teman yang lain tidak menerima reservasi baru lagi,” ujarnya.
Kusnawan menyebut kondisi yang terjadi saat ini bukan persoalan baru. Krisis air serupa pernah terjadi sekitar dua tahun lalu dan menyebabkan sejumlah hotel di Gili Trawangan menghentikan operasional selama empat hari.
Ironisnya, menurut dia, persoalan tersebut kembali muncul ketika sektor pariwisata memasuki masa ramai kunjungan wisatawan.
“Ini persis berulang seperti dua tahun yang lalu, bahkan lebih parah. Dua tahun yang lalu sempat empat hari ditutup dan selalu di masa high season,” katanya.
Dia mengatakan, penyelesaian persoalan dua tahun lalu dilakukan melalui negosiasi antara pemerintah daerah dengan mitra penyedia air. Bahkan, saat itu GHA turut melaporkan persoalan tersebut ke pemerintah pusat.
Untuk kondisi terbaru, Kusnawan mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi sejak pasokan air terhenti pada Kamis lalu. Ia menghubungi Bupati Lombok Utara dan Gubernur NTB agar persoalan tersebut segera mendapatkan penanganan.
Menurutnya, koordinasi tersebut kemudian dilanjutkan dengan pertemuan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTB bersama Pemkab Lombok Utara.
“Hasil keputusan rapat kemarin memperkuat diskresi dari Pemda dan ada dukungan penuh dari jajaran Forkopimda NTB untuk membantu mitra PDAM dalam mencari solusi jangka panjang untuk masalah perizinan,” jelasnya.
Kusnawan menduga persoalan pasokan air di kawasan Tiga Gili tidak terlepas dari kompleksitas regulasi dan kewenangan pemerintah pusat dan daerah. Sebab, kawasan Tiga Gili juga memiliki status sebagai kawasan konservasi laut dan kawasan konservasi hutan.
Dia bahkan mengaku telah menyurati Presiden Prabowo Subianto pada Minggu lalu untuk menyampaikan persoalan tersebut dan meminta perhatian pemerintah pusat.
Dampak krisis air kini mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Hotel yang terdampak mulai menghentikan penerimaan reservasi baru. Bahkan, tamu yang ingin melakukan early check-out akan diupayakan untuk dipindahkan ke akomodasi lain.
Persoalannya, kondisi serupa juga terjadi di Gili Meno sehingga pilihan relokasi tamu menjadi terbatas.
“Gili Meno memang kasusnya sama, malah lebih parah. Sudah hampir empat tahun belum ada solusi untuk suplai air bersih,” katanya.
Sementara itu, kondisi di Gili Air relatif lebih aman karena masih mendapatkan pasokan air dari daratan, meskipun jumlahnya terbatas.
Tak hanya hotel, krisis air juga mulai mengganggu operasional usaha lain. Kusnawan menyebut salah satu restoran bahkan telah menyatakan tidak dapat beroperasi akibat keterbatasan pasokan air.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena air merupakan kebutuhan dasar dalam menjalankan industri pariwisata, mulai dari hotel, restoran hingga usaha jasa lainnya.
“Ini kebutuhan dasar. Bagi kami persoalan ini tidak menarik karena over and over. Ini terjadi berulang-ulang,” ujarnya.
Kusnawan berharap persoalan tersebut tidak kembali diselesaikan hanya dengan langkah jangka pendek. Menurutnya, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu membangun solusi permanen agar persoalan air tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas pariwisata di kawasan Tiga Gili.
Dia menilai kepastian pasokan air menjadi bagian penting dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan dan meningkatkan kualitas destinasi wisata NTB.
“Kita berbicara pariwisata berkelanjutan, kita berbicara quality tourism. Kalau persoalan dasar seperti air saja masih berulang, tentu masih jauh,” tutupnya. (gii)






