Tanah yang Digali, Tanah yang Ditanami: Perjalanan Menemukan Masa Depan Maluk

Umar P. berjalan di antara tanaman padi di persawahan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Mantan operator alat berat yang sekitar 15 tahun bekerja di sektor pertambangan itu kini kembali menggarap sawah dan belajar menerapkan metode SRI. (Foto: Hilal)
Umar P. berjalan di antara tanaman padi di persawahan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Mantan operator alat berat yang sekitar 15 tahun bekerja di sektor pertambangan itu kini kembali menggarap sawah dan belajar menerapkan metode SRI. (Foto: Hilal)

Perjalanan menuju Maluk awalnya tidak saya mulai dengan pertanyaan tentang pertanian.

Saya datang dengan sepeda motor dari Mataram menuju Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat pada Minggu (2/8/2026). Di wilayah ini, cerita tentang tanah hampir selalu bersinggungan dengan apa yang tersimpan jauh di bawahnya.

Tembaga. Emas. Pertambangan.

Namun pagi itu, di Pantai Pasir Putih Maluk, saya justru bertemu dengan orang-orang yang sedang memunguti sesuatu dari permukaan tanah.

Sampah.

Di antara mereka ada Reza, seorang sarjana hukum dan anak muda Maluk yang pernah bekerja di lingkungan pertambangan. Bersama sejumlah pemuda, ia membersihkan pantai.

Saya bertanya siapa yang membiayai kegiatan mereka.

“Tidak ada,” jawabnya.

Jawaban pendek itu membuat percakapan kami menjadi panjang.

Pagi itu saya belum tahu, pertemuan dengan Reza akan membawa saya pada cerita lain tentang Maluk: tentang sawah, cacing tanah, kompos, sembilan karung gabah, dan seorang mantan operator alat berat yang kini kembali mengurus tanah dengan tangannya.

Dari pantai menuju sawah

Reza ternyata juga bertani.

Di daerah yang tumbuh bersama industri pertambangan, pilihan itu menarik. Tambang menawarkan pendapatan yang relatif lebih pasti. Petani berhadapan dengan musim, air, penyakit tanaman, biaya produksi, harga dan pasar.

Bersama petani dan pemuda lainnya, Reza belajar memanfaatkan jerami, kotoran ternak dan rerumputan untuk membuat kompos serta Mikroorganisme Lokal (MOL).

Sejumlah pemuda membersihkan sampah di Pantai Pasir Putih Maluk. Dari kegiatan sederhana inilah pertemuan dengan Reza membuka perjalanan menuju cerita lain tentang tanah dan pertanian Maluk.
Sejumlah pemuda membersihkan sampah di Pantai Pasir Putih Maluk. Dari kegiatan sederhana inilah pertemuan dengan Reza membuka perjalanan menuju cerita lain tentang tanah dan pertanian Maluk.

Percobaannya tidak berhenti di sawah.

Di RT 6, tempat tinggalnya, sebidang tanah tak lebih dari dua are di tikungan sungai sedang mereka coba ubah menjadi organic field. Sisa organik rumah tangga diolah menjadi kompos untuk menanam sayur. Mereka juga merancang budidaya lele dan ayam petelur.

Sebelum menentukan apa yang ditanam, Reza dan kawan-kawan membuat kuesioner sederhana kepada warga: sayuran dan sumber protein apa yang paling sering dibutuhkan keluarga? Cabai dan tomat termasuk jawabannya.

Mereka mencoba menanam apa yang memang dimakan tetangganya sendiri.

Reza, anak muda Maluk yang pernah bersentuhan dengan dunia pertambangan, kini ikut mengembangkan gagasan pertanian dan pengelolaan sampah organik dari lingkungan tempat tinggalnya.
Reza, anak muda Maluk yang pernah bersentuhan dengan dunia pertambangan, kini ikut mengembangkan gagasan pertanian dan pengelolaan sampah organik dari lingkungan tempat tinggalnya.

AMMAN membantu menyediakan ember dan sejumlah kebutuhan dasar bagi percobaan tersebut. Reza lebih melihatnya sebagai ruang kolaborasi terhadap gagasan yang tumbuh dari masyarakat.

Skalanya masih sangat kecil. Tetapi dari Reza, perjalanan saya berlanjut ke persawahan Maluk dan Benete.

Di sana, urusan dengan tanah menjadi lebih serius.

Ketika cacing kembali

Saya bertemu Yogi Ahmad, atau Kang Yogi, yang mendampingi petani menerapkan System of Rice Intensification (SRI) Organik.

Program Pengembangan Pertanian Organik sebagai Penguatan Struktur Nafkah Rumah Tangga Masyarakat Lokal itu mulai berjalan pada Agustus 2025, dijalankan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Aliksa Organik SRI. Sebanyak 35 petani mengikuti pelatihan awal, sekitar 30 persen di antaranya perempuan.

Yogi menjelaskan bahwa petani diminta mengubah banyak kebiasaan sekaligus.

Benih diuji, bibit ditanam sangat muda dan hanya satu pada setiap titik. Jarak tanam diperlebar, sawah tidak terus-menerus digenangi, sementara bahan organik, MOL dan pestisida nabati digunakan menggantikan ketergantungan pada bahan kimia.

Di atas kertas terdengar sederhana.

Di sawah, tidak.

Petani telah bertahun-tahun memiliki cara sendiri dalam menanam padi. Pengetahuan baru tidak otomatis menghapus kebiasaan lama. Mereka perlu melihat sendiri hasilnya.

Salah satu perubahan yang ditunjukkan kepada saya justru bukan padi.

Cacing.

Sebelumnya tanah diceritakan keras dan cacing semakin sulit ditemukan. Setelah bahan organik digunakan dan pola pengairan berubah, cacing mulai muncul kembali.

Menurut catatan program AMMAN, kondisi keasaman tanah juga bergerak menuju pH 7. Burung dan sejumlah serangga predator mulai terlihat di sekitar persawahan.

Tetapi petani tidak selalu berbicara menggunakan angka pH.

Mereka memegang tanah, melihat tanaman, lalu menghitung karung gabah.

Salah satunya Pak Umar.

Sembilan karung Pak Umar

Umar P. sedang mencacah rerumputan ketika saya melihatnya.

Rumput itu akan dikembalikan ke sawah sebagai bahan organik.

Pak Umar menggarap sekitar 50 are sawah. Sebelumnya, selama kurang lebih 15 tahun ia bekerja sebagai operator alat berat di sektor pertambangan.

Selama belasan tahun ia mengenal tanah dari balik mesin. Setelah masa kerjanya selesai, ia kembali menjadi petani.

Kini ukuran tanah baginya bukan lagi seberapa banyak yang dapat dipindahkan alat berat, melainkan bagaimana padi tumbuh di atasnya.

Dua anaknya telah mandiri dan bekerja. Seorang lainnya masih kuliah di Mataram. Dari sawah itulah sebagian kebutuhan pendidikan anaknya ikut ia usahakan.

Ketika ditanya tentang perubahan hasil pertaniannya, Pak Umar tidak menggunakan ukuran ton per hektare.

Ia menggunakan petak dan karung.

Umar P. menunjukkan persawahan yang digarapnya di Maluk. Ia menyebut hasil yang sebelumnya diperoleh dari empat petak kini dapat dicapai dari dua petak setelah menerapkan pola budidaya SRI.
Umar P. menunjukkan persawahan yang digarapnya di Maluk. Ia menyebut hasil yang sebelumnya diperoleh dari empat petak kini dapat dicapai dari dua petak setelah menerapkan pola budidaya SRI.

“Dulu empat petak sawah menghasilkan sembilan karung. Sekarang dua petak saja menghasilkan sembilan karung,” katanya.

Saya memastikan kembali.

Hasilnya naik?

“Luar biasa,” jawabnya.

Namun ia tampak lebih antusias ketika bercerita tentang warna tanaman padinya.

“Dulu kalau satu minggu mulai tanam, terus mulai kuning, aduh, pusing saya. Kadang-kadang saya sampai ke Mataram beli obat macam-macam,” tuturnya.

Sekarang pengalamannya berbeda.

“Tapi sekarang setelah pakai SRI, hijau terus sampai berbuah. Alhamdulillah.”

Saya tidak mengubah sembilan karung itu menjadi kilogram atau ton. Ukuran petak dan berat karung dapat berbeda. Saya membiarkannya sebagai ukuran Pak Umar terhadap sawahnya sendiri.

Data program memberikan pembanding.

Pada panen perdana 30 April 2026, AMMAN mencatat produktivitas mencapai 10,02 ton per hektare. Sebelum program, produktivitas disebut berada pada kisaran 4 hingga 5 ton per hektare.

Satu musim tentu belum cukup untuk menentukan apa yang akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

Pak Umar mempunyai alasan lebih sederhana untuk melanjutkan: padinya tetap hijau sampai berbuah. Ia bahkan ingin menggunakan lebih banyak kompos.

Saya kemudian bertanya, bagaimana jika suatu hari pendampingan berakhir?

Apakah ia mampu meneruskan cara bertani ini sendiri?

“Kalau saya melihat cara mereka mengajar dan membimbing, insyaallah bisa. Kalau dua tahun beliau-beliau ini di sini mendampingi kami, insyaallah ke depan kita bisa mandiri,” katanya.

Ia menyebut kemampuan mencari bahan dan membuat MOL sebagai salah satu pengetahuan yang kini mereka pelajari.

“Seperti cari bahan MOL dan lainnya, insyaallah.”

Mungkin justru di situlah ujian sebenarnya dari sebuah program pendampingan: ketika pendamping tidak lagi datang, apakah pengetahuannya masih tinggal?

Jalan setelah panen pertama

Hasil budidaya itu kini sudah berupa sesuatu yang bisa ditimbang dan dimasak: beras.

Beras tersebut dipasarkan terbatas sekitar Rp25 ribu per kilogram dan menurut kelompok petani, hasil panen terakhir telah habis terjual.

Petani membentuk Presidium Pertanian Organik Kecamatan Maluk. BUMDes Maluk ikut dilibatkan. Berikutnya mereka menghadapi pekerjaan lain: penguatan kelembagaan, sertifikasi, dan akses pasar.

Sertifikasi organik sendiri masih berproses. Karena itu hasil budidaya tersebut belum tepat disebut sebagai produk organik bersertifikat.

Air juga akan menjadi ujian. Sebagian sawah sebelumnya mengandalkan hujan dan dalam kondisi tertentu hanya dapat ditanami sekali setahun. SRI menggunakan air lebih hemat karena sawah tidak harus terus-menerus digenangi.

Apakah produktivitas 10,02 ton dapat bertahan pada panen berikutnya? Apakah petani mampu melewati kemarau? Apakah beras Rp25 ribu per kilogram memberikan keuntungan yang cukup menarik?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum selesai.

Tanah yang sama

Perjalanan ke Maluk tidak membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa pertanian akan menggantikan pertambangan.

Keduanya bekerja dalam skala yang terlalu berbeda untuk dibandingkan sesederhana itu.

Pak Umar justru mempertemukan dua dunia tersebut dalam satu kehidupan.

Bentang kawasan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, dengan lahan pertanian dan kawasan pesisir yang menjadi ruang hidup masyarakat setempat.
Bentang kawasan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, dengan lahan pertanian dan kawasan pesisir yang menjadi ruang hidup masyarakat setempat.

Lima belas tahun ia mengoperasikan alat berat.

Sekarang ia menggarap sekitar 50 are sawah.

Dari sawah itu, sebagian kebutuhan kuliah anaknya ikut diperjuangkan. Di sana pula ia melihat dua petak yang menurut perhitungannya kini mampu menghasilkan gabah sebanyak empat petak sebelumnya.

Ketika percakapan kami selesai, Pak Umar kembali pada rerumputan yang sedang dicacahnya.

Rumput-rumput itu nantinya akan kembali ke sawah sebagai bahan organik.

Saya teringat jawabannya ketika ditanya apakah ia sanggup meneruskan cara bertani ini jika kelak pendamping tidak lagi ada.

“Insyaallah.”

Lalu ia kembali bekerja.

Rumput dicacah. Tanah dipersiapkan. Padi akan ditanam lagi. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Lalu Azwin

Berkecimpung dalam dunia jurnalistik dan media di Nusa Tenggara Barat sejak 2015.

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI