kicknews.today – Musim hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat diperkirakan baru mulai berlangsung pada Desember 2026. Kondisi tersebut membuat musim kemarau berpeluang bertahan hingga akhir November dan memperpanjang ancaman kekeringan di sejumlah daerah.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini mengatakan, musim hujan yang biasanya mulai terjadi pada November diperkirakan mengalami kemunduran akibat rendahnya potensi hujan serta pengaruh El Niño.

“Kekeringan semakin meluas. Peringatan dini berlaku untuk satu dasarian ke depan dan masih ada potensi perluasan karena potensi hujan beberapa dasarian mendatang sangat rendah,” kata Suci seperti dilansir Antara, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, El Niño saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74. Kondisi tersebut diperkirakan bertahan hingga akhir 2026 sebelum melemah menjadi kategori kuat hingga moderat pada awal 2027.
“El Niño kini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks mencapai 2,74. Angka itu diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2026, baru kemudian melemah menjadi kategori kuat hingga moderat pada awal 2027, tetapi tetap dalam fase El Niño,” katanya.
Baca Juga: Mengenal El Niño, nama pemberian nelayan yang kini membuat NTB semakin kering
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang dapat mengurangi pembentukan awan dan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau, El Niño dapat memperkuat kondisi kering, memperpanjang hari tanpa hujan serta mengurangi ketersediaan air di permukaan dan dalam tanah.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Dasarian III Agustus atau periode 21–31 Agustus 2026, wilayah NTB yang masuk peringatan dini kekeringan meteorologis level Awas terus bertambah. Kecamatan Gangga di Kabupaten Lombok Utara menjadi salah satu wilayah yang masuk kategori tersebut.
Baca Juga: Debit mata air turun, 13 kelurahan Mataram terancam gangguan air bersih
Sebanyak sembilan dari 10 kabupaten dan kota di NTB juga telah berada dalam status Awas kekeringan meteorologis. Kondisi hari tanpa hujan berturut-turut berada pada kategori sangat panjang, yakni 31–60 hari, hingga ekstrem lebih dari 60 hari.
Hari tanpa hujan terpanjang tercatat di Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 105 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem.
BMKG mengingatkan masyarakat mewaspadai keterbatasan air selama beberapa bulan mendatang. Penggunaan air secara hemat diperlukan karena musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang.
Pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi penurunan debit mata air, kekurangan air bersih, gangguan irigasi, gagal tanam, kebakaran lahan serta berkurangnya pakan ternak.
Meski musim hujan secara umum diperkirakan baru berlangsung pada Desember, hujan masih dapat turun di sejumlah tempat sebelum periode tersebut. Awal musim hujan pada setiap zona musim di NTB juga dapat berbeda bergantung pada kondisi atmosfer dan geografis wilayahnya.
Dalam pengertian klimatologis, turunnya hujan selama satu atau dua hari tidak otomatis menandakan musim hujan telah dimulai. Penetapan awal musim didasarkan pada jumlah curah hujan dalam satu dasarian dan keberlanjutannya pada periode berikutnya.
Masyarakat diminta terus mengikuti informasi resmi BMKG karena prakiraan awal musim dapat diperbarui mengikuti perkembangan El Niño, angin monsun dan dinamika atmosfer lainnya. (red.)






