Mengenal El Niño, nama pemberian nelayan yang kini membuat NTB semakin kering

Nelayan beraktivitas di perairan Lombok. El Niño dapat mengubah suhu, arus, kesuburan perairan dan persebaran ikan, tetapi dampaknya terhadap hasil tangkapan berbeda menurut wilayah dan jenis ikan. (Foto: kicknews.today)
Nelayan beraktivitas di perairan Lombok. El Niño dapat mengubah suhu, arus, kesuburan perairan dan persebaran ikan, tetapi dampaknya terhadap hasil tangkapan berbeda menurut wilayah dan jenis ikan. (Foto: kicknews.today)

kicknews.today – El Niño bukan nama ilmuwan, satelit ataupun badai. Nama fenomena iklim yang kini memperkuat kondisi kering di Nusa Tenggara Barat itu justru berasal dari para nelayan di pesisir Peru dan Ekuador.

Sejak berabad-abad lalu, nelayan di pesisir barat Amerika Selatan mengamati air laut yang biasanya dingin berubah menjadi lebih hangat pada waktu-waktu tertentu. Perubahan tersebut kerap muncul menjelang Natal dan diikuti berkurangnya ikan yang dapat mereka tangkap.

Mereka kemudian menyebut air hangat tersebut sebagai El Niño. Dalam bahasa Spanyol, istilah itu berarti “anak laki-laki kecil” dan digunakan untuk merujuk kepada Kanak-Kanak Yesus karena kemunculannya berdekatan dengan perayaan Natal.

Dalam perkembangannya, para ilmuwan mengetahui bahwa perubahan yang diamati nelayan tersebut merupakan bagian dari fenomena laut dan atmosfer berskala besar bernama El Niño–Southern Oscillation atau ENSO.

El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur menjadi lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Pemanasan tersebut mengubah pola angin, pembentukan awan dan distribusi hujan di berbagai wilayah dunia.

Dampaknya tidak sama di setiap negara. Peru dan sebagian wilayah Amerika Selatan dapat menerima hujan lebih banyak, sedangkan pusat pembentukan awan cenderung bergeser menjauh dari Indonesia.

Akibatnya, sejumlah wilayah Indonesia menerima curah hujan lebih sedikit. Dampak tersebut semakin terasa apabila El Niño berlangsung bersamaan dengan musim kemarau seperti yang terjadi pada 2026.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, El Niño dan musim kemarau merupakan dua fenomena berbeda. Musim kemarau terjadi sebagai siklus tahunan, sedangkan El Niño muncul secara periodik akibat interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik.

“El Niño dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niño terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” jelasnya dalam keterangan BMKG mengenai kesiapsiagaan menghadapi El Niño 2026.

Bagi NTB, berkurangnya curah hujan dapat memperpanjang hari tanpa hujan, menyusutkan debit mata air, mengurangi persediaan air irigasi dan meningkatkan risiko kekeringan. Kondisi kering juga memperbesar potensi kebakaran hutan, lahan dan permukiman.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan. Ketersediaan air yang menurun dapat mengganggu jadwal tanam, memperlambat pertumbuhan tanaman, mengurangi produksi dan meningkatkan risiko gagal panen.

Peternak juga dapat menghadapi berkurangnya sumber air dan pakan alami. Di sejumlah daerah kering, rumput lebih cepat menguning sehingga peternak harus mencari pakan ke lokasi yang lebih jauh atau mengeluarkan biaya tambahan.

Dampak El Niño tidak berhenti di daratan. Perubahan suhu permukaan laut dan pola angin turut memengaruhi arus, kesuburan perairan, ekosistem pesisir serta persebaran ikan.

Ikan memiliki rentang suhu dan kondisi perairan yang sesuai untuk mencari makan, berkembang biak dan bergerak. Ketika suhu laut berubah, gerombolan ikan dapat berpindah ke lokasi yang lebih sesuai.

Perubahan tersebut dapat membuat tangkapan nelayan berkurang di lokasi yang biasanya menjadi daerah penangkapan. Nelayan harus mencari ikan lebih jauh, menambah waktu melaut dan mengeluarkan lebih banyak bahan bakar, tanpa memperoleh kepastian hasil tangkapan yang sama.

Namun, El Niño tidak selalu membuat jumlah ikan di seluruh perairan Indonesia menurun. Di sejumlah perairan selatan Indonesia, angin pada musim kemarau dapat memperkuat fenomena upwelling atau naiknya massa air dari lapisan laut yang lebih dalam menuju permukaan.

Air dari lapisan dalam membawa zat hara yang dibutuhkan fitoplankton. Bertambahnya fitoplankton kemudian menyediakan makanan bagi ikan kecil dan dapat menarik ikan berukuran lebih besar.

Badan Riset dan Inovasi Nasional menyebut El Niño berpotensi meningkatkan produktivitas perikanan di wilayah yang mengalami penguatan upwelling. Fenomena tersebut juga dapat mengubah persebaran ikan pelagis besar, termasuk tuna.

Karena itu, dampak El Niño terhadap hasil tangkapan tidak dapat disamaratakan. Tangkapan suatu jenis ikan dapat meningkat di satu wilayah, tetapi menurun atau berpindah musim di wilayah lain.

Penurunan tangkapan nelayan NTB juga tidak dapat langsung dikaitkan dengan El Niño tanpa melihat data pendaratan ikan, jenis ikan, daerah penangkapan, jumlah perjalanan melaut serta kondisi gelombang dan angin.

Selain perikanan tangkap, suhu laut yang berubah dapat memberikan tekanan terhadap budi daya ikan, udang dan rumput laut. Penguapan yang tinggi dapat meningkatkan kadar garam, memengaruhi kualitas air dan meningkatkan risiko penyakit pada komoditas budi daya.

Suhu laut yang terlalu panas dalam waktu lama juga dapat menyebabkan karang mengalami stres dan pemutihan. Kerusakan terumbu karang pada akhirnya dapat mengganggu habitat ikan sekaligus mengurangi daya tarik wisata bahari.

Meski identik dengan kekeringan, El Niño tidak berarti hujan berhenti sama sekali. Hujan masih dapat turun karena cuaca Indonesia juga dipengaruhi suhu laut di sekitar kepulauan, angin muson, aktivitas atmosfer dan kondisi lokal.

Karena berlangsung dalam skala bulanan, satu atau dua kali hujan juga tidak otomatis menandakan El Niño telah berakhir. Statusnya ditentukan melalui pengamatan suhu permukaan laut dan perubahan atmosfer dalam jangka waktu tertentu.

Menghadapi El Niño, penanganan tidak cukup dilakukan ketika masyarakat telah mengalami kekurangan air. Pemerintah perlu memperkuat cadangan air, melindungi mata air, memperbaiki jaringan irigasi, mengaktifkan embung dan mendorong pemanenan air hujan.

Petani membutuhkan informasi iklim untuk menentukan jadwal dan jenis tanaman. Sementara nelayan perlu memperoleh prakiraan cuaca laut dan informasi potensi daerah penangkapan ikan agar dapat melaut dengan lebih aman dan efisien.

El Niño bermula dari pengamatan sederhana para nelayan terhadap perubahan laut. Berabad-abad kemudian, nama pemberian mereka menjadi pengingat bahwa perubahan kecil pada suhu samudra dapat memengaruhi air yang diminum warga, tanaman di ladang, hingga ikan yang dicari nelayan NTB. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI