kicknews.today – Menjadi desa wisata berarti membuka harapan baru bagi warga. Pengunjung diharapkan datang, usaha lokal berkembang, dan kampung memperoleh penghasilan. Namun, bagaimana jika desa sudah sibuk berpromosi dan mengikuti penghargaan, sementara wisatawan yang ditunggu belum hadir?
Persoalan itu dikaji Connor Rechtzigel, peneliti antropologi dari Cornell University, Amerika Serikat. Ia meneliti desa-desa di Lombok yang mengikuti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.

Dalam abstrak pemaparan riset di Cornell bertanggal 17 Oktober 2025, Connor menyoroti kerja para penggerak lokal. Mereka menjadi relawan tanpa upah, membuat video, berkoordinasi, dan membangun hubungan untuk memperkenalkan potensi desa.
Ia juga membahas kunjungan Menteri Sandiaga Uno ke salah satu desa di Lombok. Connor melihat kunjungan tersebut sebagai momen ketika pejabat mengambil peran pengunjung yang sedang dinantikan.
“Negara itu sendiri menggantikan wisatawan yang tidak hadir,” tulis Connor dalam abstraknya, diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Melalui gagasan itu, Connor membahas bagaimana pengakuan pemerintah menjadi sesuatu yang diharapkan oleh penggerak desa wisata. Mereka terus menunjukkan kesiapan menerima investasi, meski harus menghadapi birokrasi yang tidak transparan dan hasil yang belum pasti.
Disertasinya berjudul Tourism without Tourists: State Performance and Regional Development in Indonesia, atau “Pariwisata Tanpa Wisatawan: Peran Negara dan Pembangunan Daerah di Indonesia”. Profil Cornell mencatat Indonesia sebagai lokasi penelitiannya, dengan Marina Welker sebagai pembimbing.
Judul tersebut mengajak pembaca melihat pariwisata dari sisi orang-orang yang mempersiapkan destinasi. Ada pekerjaan panjang sebelum tamu datang, mulai dari memperkenalkan desa hingga mencari dukungan untuk mengembangkannya.
Ketertarikan Connor terhadap pariwisata Lombok sudah berlangsung sejak penelitian tentang pariwisata halal. Menurut American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), ia menerima pendanaan Fulbright-Hays 2021–2022 untuk melakukan penelitian selama 12 bulan.
Ia mempelajari kegiatan birokrat pariwisata, tuan guru, mahasiswa, pemilik usaha kecil, dan pihak-pihak lain yang terlibat. Connor ingin memahami bagaimana mereka memaknai dan membentuk citra Lombok sebagai destinasi wisata halal.
Riset tersebut juga melihat hubungan pariwisata dengan identitas masyarakat. Selama penelitian, Connor berafiliasi dengan Universitas Islam Negeri Mataram.
Perhatiannya kemudian menjangkau cerita Putri Mandalika, legenda yang namanya digunakan untuk kawasan pariwisata di Lombok bagian selatan.
Dalam paparan lain yang dimuat di situs Cornell, Connor membahas proyek penyusunan buku Putri Mandalika. Menurut abstrak penelitiannya, proyek tersebut didanai Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2022.
Connor mengamati diskusi dua hari yang melibatkan 19 laki-laki pemegang otoritas budaya. Mereka membicarakan bagaimana kisah Mandalika akan disampaikan dalam pengembangan pariwisata.
Pembahasannya tidak sederhana karena cerita Mandalika memiliki beragam versi. Ada yang mengisahkan sang putri melompat ke laut. Ada pula yang menceritakan bahwa ia berpindah ke alam kedewataan.
Menurut Connor, penyelenggara berusaha memberi ruang bagi perbedaan cerita melalui perundingan. Ia menilai proses tersebut sekaligus memperkuat peran para tokoh dalam menentukan makna budaya yang mendapat pengakuan pemerintah. Kajian Mandalika ini berasal dari bab keempat disertasinya.
Jika dibaca bersama, kedua kajian itu memperlihatkan sisi pariwisata yang sering luput dari perhatian: pekerjaan warga untuk memperkenalkan kampungnya, perundingan tentang cerita budaya, serta harapan memperoleh dukungan pemerintah.
Dari sana muncul pertanyaan bagi pengembangan desa wisata: setelah promosi dilakukan dan pengakuan diperoleh, bagaimana memastikan wisatawan datang dan warga merasakan manfaatnya?. (red.)






