kicknews.today – Setelah kebakaran menghanguskan puluhan rumah di Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pertanyaan berikutnya bukan hanya kapan rumah-rumah itu dibangun kembali. Pertanyaan yang lebih rumit adalah, bisakah Sade dikembalikan seperti semula tanpa mengulang kerentanan yang sama?
Berdasarkan data BPBD NTB, sebanyak 89 rumah mengalami rusak berat akibat kebakaran yang terjadi Sabtu (22/8/2026) malam. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Pemerintah kini mulai menyiapkan langkah pemulihan. Pemprov NTB juga menyusun konsep pengembangan Sade pascakebakaran dengan tetap mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata dan budaya di kawasan tersebut.
Namun membangun kembali Sade tidak sesederhana mengganti rumah yang terbakar dengan bangunan baru yang bentuknya serupa.
Rumah-rumah tradisional di Sade menggunakan material lokal seperti kayu, bambu dan atap ilalang. Material itu menjadi bagian dari karakter arsitektur Sasak, tetapi sekaligus memiliki kerentanan tinggi terhadap api.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia mengatakan proses pemulihan harus mempertemukan pelestarian budaya dengan aspek keselamatan.
“Kita perlu menghadirkan sistem mitigasi bencana yang lebih baik sehingga pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan aspek keselamatan masyarakat dan pengunjung.”
Pernyataan tersebut menjadi penting karena rekonstruksi Sade nantinya tidak hanya menyangkut bentuk rumah, tetapi juga bagaimana kawasan adat itu lebih siap menghadapi risiko bencana.
Salah satu persoalan yang mencuat setelah kebakaran adalah belum tersedianya jaringan air khusus untuk penanganan kebakaran di dalam kawasan.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan mengatakan kampung adat memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap api sehingga membutuhkan sistem perlindungan yang lebih baik.
“Kampung adat memiliki kerentanan terhadap api, maka kampung adat harus punya jalur-jalur pipa untuk air. Kampung Adat Sade sekarang tidak ada pipa untuk air.”
Pemerintah juga mendorong agar kawasan heritage memiliki sistem mitigasi seperti jalur pipa air, fire hydrant dan alarm peringatan dini.
Di sisi lain, penggunaan material atau teknik konstruksi baru dalam proses rekonstruksi tetap perlu mempertimbangkan nilai autentik arsitektur Sade. Sebab yang dipulihkan bukan hanya tampilan rumah, tetapi juga pengetahuan dan tradisi yang melekat dalam cara masyarakat membangun dan menata kampung.
Sade bukan sekadar kumpulan bangunan tradisional. Kawasan itu masih dihuni masyarakat Sasak dengan praktik budaya yang terus berjalan, mulai dari menenun, tradisi lisan, pola ruang permukiman hingga pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Ketua Lombok Heritage and Science Society, Muhammad Ali Akbar menilai aspek manusia justru menjadi unsur paling penting dalam proses pemulihan.
“Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya.”
Menurut dia, selama masyarakat adat tetap berdaya, kebudayaan Sade masih memiliki peluang besar untuk terus hidup.
Karena itu, membangun kembali rumah saja belum tentu berarti mengembalikan Sade.
Proses rekonstruksi nantinya harus mempertimbangkan hubungan antara bentuk rumah, bahan bangunan, tata ruang kampung, sistem sosial dan aktivitas budaya yang selama ini membentuk identitas kawasan tersebut.
Kebakaran juga menjadi momentum untuk memperbaiki sistem keselamatan tanpa harus menghilangkan karakter tradisional.
Sistem mitigasi seperti jaringan pipa air, fire hydrant, alarm peringatan dini, instalasi listrik yang lebih aman dan jalur evakuasi menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan dalam proses pemulihan.
Tantangannya adalah bagaimana seluruh perangkat keselamatan itu dapat diterapkan tanpa mengubah karakter utama kampung adat.
Sade memang dapat dibangun kembali.
Namun tantangan terbesarnya bukan membuat rumah-rumah baru terlihat seperti rumah lama. Tantangannya adalah memastikan pengetahuan, masyarakat, tata ruang dan kehidupan budaya yang membuat Sade menjadi Sade ikut kembali hidup setelah puing-puing dibersihkan. (red.)






