Musibah beruntun sepanjang Agustus, dari kapal terbakar, gempa hingga Desa Sade dilalap api

Kolase sejumlah musibah yang terjadi sepanjang Agustus 2026, mulai dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok, gempa besar di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, hingga kebakaran Desa Adat Sade di Lombok Tengah.
Kolase sejumlah musibah yang terjadi sepanjang Agustus 2026, mulai dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok, gempa besar di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, hingga kebakaran Desa Adat Sade di Lombok Tengah.

kicknews.today – Agustus 2026 belum selesai. Namun dalam tiga pekan pertama bulan kemerdekaan, Indonesia sudah menghadapi rangkaian musibah dalam waktu berdekatan.

Kebakaran hutan dan lahan muncul di berbagai daerah. KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok. Gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur dan memicu tsunami. Ribuan titik panas terpantau di Kalimantan. Terakhir, Sabtu malam, 22 Agustus 2026, api melalap kawasan Desa Adat Sade di Lombok Tengah.

Rentetan itu terjadi dengan karakter berbeda. Ada bencana hidrometeorologi akibat kondisi kering dan cuaca, ada bencana geologi, serta kecelakaan transportasi laut dan kebakaran permukiman.

Awal Agustus, karhutla dan kekeringan mulai mendominasi

Sejak awal Agustus, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berulang kali mencatat kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan sebagai kejadian menonjol di berbagai wilayah.

Musim kering membuat vegetasi semakin mudah terbakar. Di beberapa daerah, keterbatasan sumber air dan sulitnya akses menuju titik api ikut menyulitkan proses pemadaman.

Namun kondisi Indonesia tidak seragam. Ketika sebagian wilayah menghadapi kekeringan, banjir dan cuaca ekstrem masih terjadi secara lokal di daerah lain.

12 Agustus, KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok

KMP Putri Yasmin yang mengalami kebakaran saat melakukan pelayaran dari Padangbai, Bali menuju Lembar, Lombok Barat
KMP Putri Yasmin yang mengalami kebakaran saat melakukan pelayaran dari Padangbai, Bali menuju Lembar, Lombok Barat

Musibah besar kemudian datang dari laut.

Rabu, 12 Agustus 2026 sekitar pukul 04.15 WITA, KMP Putri Yasmin terbakar ketika berlayar dari Pelabuhan Padangbai, Bali menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.

Kantor SAR Mataram menerima laporan sekitar pukul 04.39 WITA dan mengerahkan unsur SAR menuju lokasi di perairan Selat Lombok. Operasi melibatkan SAR Mataram, SAR Denpasar, TNI AL, Polairud, Syahbandar serta kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.

“Kami telah mengerahkan KN 220 Mataram, Rigit Inflatable Boat (RIB), dan Rigit Buoyancy Boat (RBB) ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi,” kata Kepala Kantor SAR Mataram Muhamad Hariyadi.

Hingga malam hari, Kantor SAR Mataram mencatat 212 orang berhasil dievakuasi. Sebanyak 211 orang dilaporkan selamat dan satu orang meninggal dunia pada pembaruan tersebut.

Jumlah orang yang dievakuasi itu lebih besar dibandingkan data manifest awal sebanyak 131 orang, sehingga pendataan penumpang menjadi salah satu perhatian dalam penanganan insiden tersebut.

Belum selesai operasi pencarian dan penanganan KMP Putri Yasmin, tiga hari kemudian bencana besar datang dari Nusa Tenggara Timur.

15 Agustus, gempa M7,7 mengguncang NTT

Tim penyelamat melakukan pencarian dan evakuasi di tengah reruntuhan bangunan pascagempa M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur
Tim penyelamat melakukan pencarian dan evakuasi di tengah reruntuhan bangunan pascagempa M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur

Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58.24 WIB, gempa bumi tektonik mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur yang dampaknya terasa hingga Nusa Tenggara Barat.

BMKG memutakhirkan kekuatan gempa menjadi magnitudo 7,7 dengan pusat gempa di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo. Gempa berada pada kedalaman 15 kilometer.

Gempa tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik dan memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Tsunami kemudian terdeteksi di sejumlah lokasi.

BMKG mencatat tinggi muka air laut mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, 0,54 meter di Bulukumba, 0,38 meter di Pelabuhan Kewapante, Sikka, 0,36 meter di Labuan Bajo, 0,30 meter di Baubau dan 0,17 meter di Dompu, NTB.

Peringatan dini tsunami berakhir sekitar pukul 07.30 WIB setelah BMKG tidak lagi mencatat kenaikan muka air laut yang dinilai membahayakan masyarakat.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama.

Gempa tersebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan bangunan serta memaksa warga mengungsi. Gempa susulan juga terus terjadi dalam hari-hari berikutnya.

Api kembali mengepung Kalimantan

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan

Ketika penanganan gempa NTT masih berlangsung, ancaman lain menguat di Kalimantan.

Berdasarkan data SiPongi dari pemantauan satelit NASA-NOAA 20 pada 21 Agustus 2026 pukul 14.14 WIB, BNPB mencatat 1.842 titik panas di lima provinsi di Kalimantan. Sebanyak 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang dan 10 titik berkategori kepercayaan tinggi.

Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah dengan operasi penanganan besar.

Hingga Jumat, 21 Agustus, BNPB mendeteksi 53 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 595 hektare di sembilan kabupaten dan kota.

Estimasi luasan terbesar berada di Kabupaten Banjar sekitar 174 hektare, Tanah Laut 107 hektare, Barito Kuala 96 hektare dan Tapin sekitar 85 hektare.

Pemadaman dilakukan melalui darat dan udara.

Sekitar 387 personel gabungan dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan dan masyarakat dikerahkan. BNPB juga menyiagakan dua armada patroli udara dan tiga helikopter water bombing.

Tiga helikopter menjatuhkan lebih dari 1,5 juta liter air dalam operasi tersebut. Helikopter Super Puma melakukan 245 kali penjatuhan dengan sekitar 980 ribu liter air, MI-8 sekitar 228 ribu liter, dan Black Hawk sekitar 328 ribu liter.

Angin kencang, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran serta keterbatasan sumber air menjadi tantangan bagi petugas.

Api tidak hanya muncul di Kalimantan. BNPB juga mencatat karhutla pada 20 Agustus di Desa Sembalun Timba Gading, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. Sekitar 10 hektare lahan terbakar sebelum akhirnya berhasil dikendalikan.

Kekeringan masih berlangsung

Pada saat yang sama, kekeringan belum berakhir.

Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, BNPB mencatat kekeringan melanda sembilan desa di tiga kecamatan dan berdampak terhadap sekitar 1.400 hektare sawah.

Hingga 21 Agustus, debit sumber air utama di Desa Kayu Agung dilaporkan tinggal sekitar 25 persen dari kondisi normal.

Krisis air juga dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah NTB. Di Jerowaru, Lombok Timur, misalnya, warga bahkan harus membeli air menggunakan mobil tangki untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

22 Agustus malam, Desa Adat Sade dilalap api

Kebakaran di Desa Adat Sade, Lombok Tengah

Rentetan musibah kemudian kembali datang dari Lombok.

Sabtu malam, 22 Agustus 2026, kebakaran besar melanda Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Kepala Desa Rambitan Lalu Winakse menyebut kebakaran terjadi sekitar pukul 22.00 WITA.

“Saat ini petugas sedang melakukan pemadaman,” kata Winakse ketika api masih berkobar.

Api dengan cepat merambat di kawasan permukiman adat yang rumah-rumahnya banyak menggunakan kayu, bambu, jerami dan ilalang.

Puluhan kendaraan pemadam dikerahkan ke lokasi. Bantuan datang dari Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat, Kota Mataram hingga Pemerintah Provinsi NTB.

“Pemadaman hingga tengah malam ini masih berlangsung, karena bara api masih menyala,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lombok Tengah Supardan.

Pendataan jumlah rumah yang terbakar masih berlangsung pada Minggu pagi. Informasi awal dari Damkartan menyebut jumlah bangunan terdampak diperkirakan mencapai ratusan unit, sementara tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Desa Sade sendiri dihuni sekitar 700 warga dan memiliki sekitar 150 rumah. Kawasan ini merupakan salah satu permukiman masyarakat Sasak yang masih mempertahankan bentuk hunian dan tata kehidupan tradisional.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang baru tiba dari NTT setelah mendampingi misi kemanusiaan korban gempa langsung menuju lokasi kebakaran pada malam itu.

“Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat,” ujar Iqbal.

Pemerintah Desa Rambitan menyiapkan bangunan Koperasi Desa Merah Putih sebagai tempat pengungsian sementara. Pemerintah provinsi juga mulai menyiapkan pemenuhan kebutuhan dasar warga serta rencana pemulihan kawasan.

“Nanti kita pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade,” kata Iqbal.

Kebakaran Sade memberikan luka berbeda. Yang terbakar bukan sekadar deretan rumah, tetapi salah satu ruang hidup masyarakat Sasak yang telah mempertahankan bentuk permukiman dan tradisinya selama beberapa generasi.

Agustus yang belum selesai

Dalam rentang kurang dari dua pekan, peristiwa besar itu datang bergantian.

Pada 12 Agustus, KMP Putri Yasmin terbakar di Selat Lombok.

Tiga hari kemudian, gempa M7,7 mengguncang NTT dan memicu tsunami yang terdeteksi hingga Dompu.

Memasuki 20 hingga 21 Agustus, ribuan titik panas terpantau di Kalimantan dan operasi besar karhutla berlangsung di Kalimantan Selatan.

Kemudian pada malam 22 Agustus, Desa Adat Sade dilalap api.

Di sela-selanya, kekeringan terus berlangsung dan kebakaran lahan muncul di sejumlah wilayah lain.

Kini, Agustus masih menyisakan lebih dari sepekan.

Di NTT, sebagian warga masih menjalani pemulihan setelah gempa. Di Kalimantan, petugas terus memburu titik api. Sementara di Sade, pagi datang dengan pemandangan berbeda setelah api mengubah sebagian kampung adat menjadi puing dan abu.

Bulan kemerdekaan belum berakhir, tetapi Agustus tahun ini sudah meninggalkan catatan panjang tentang betapa cepat sebuah keadaan dapat berubah, hanya dalam hitungan hari. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI