kicknews.today – Jika gempa mengguncang saat puluhan ribu orang berada di Sirkuit Mandalika, ke mana penonton harus bergerak? Pertanyaan ini menjadi bagian penting dari kesiapan keselamatan menjelang MotoGP Mandalika pada 9–11 Oktober 2026.
Dokumen persiapan pengamanan memuat skema pemindahan penonton menuju titik kumpul, kemudian evakuasi lanjutan ke lokasi aman sesuai kondisi. Sementara itu, pemeriksaan lapangan BPBD NTB menemukan sejumlah bagian jalur darurat memerlukan pembenahan penerangan dan permukaan jalan.

Dalam paparan kesiapan MotoGP 2026 yang dipublikasikan Polda NTB, penanganan bencana mengacu pada rencana kontingensi, prosedur penanggulangan bencana, dan rencana evakuasi kawasan sirkuit.
Skemanya mencakup evakuasi pembalap, ofisial, tamu, penonton, dan masyarakat menuju assembly point atau titik kumpul yang ditetapkan. Setelah kondisi memungkinkan, pemindahan dilanjutkan melalui jalur evakuasi menuju lokasi aman.
Petugas juga disiapkan untuk mengatur lalu lintas dengan memberikan prioritas kepada kendaraan evakuasi dan kendaraan darurat. Dukungan komunikasi, kesehatan, logistik, serta sarana operasional menjadi bagian dari rencana tersebut.
Bagi penonton, skema itu perlu diterjemahkan menjadi petunjuk yang mudah dipahami: pintu keluar mana yang digunakan, jalur mana yang diikuti, dan lokasi aman mana yang dituju dari masing-masing tribun.
BPBD NTB bersama unsur terkait telah memeriksa titik kumpul dan akses evakuasi pada Kamis (17/9/2026). Pemeriksaan mencakup area Lapangan Heli, Bukit Jokowi, Bukit Koleh, Bukit Bantar, dan Bukit 360. Tim juga meninjau jalur menuju Bukit Bantar serta jalur evakuasi di lokasi I dan J.
Dalam peninjauan tersebut, ditemukan penerangan yang belum merata di sepanjang jalur darurat serta kerusakan pada beberapa bagian permukaan jalan. Perbaikan ditargetkan selesai sebelum balapan dimulai. Publikasi tersebut belum memuat hasil pemeriksaan ulang atas penyelesaian pembenahan.
Baca juga: BMKG bangun sirine tsunami di Kuta Mandalika
Persiapan berlanjut melalui simulasi pengamanan dan kontingensi di area parkir timur sirkuit pada Senin (28/9/2026). Menurut publikasi resmi MGPA, latihan memperagakan pemeriksaan penonton, pengamanan tamu VVIP, penanganan unjuk rasa, kebakaran lahan, hingga ancaman bom.
“Kami apresiasi persiapan pengamanan yang dipersiapkan Polda NTB. Semua persiapan sudah kita saksikan bersama diperagakan dalam simulasi,” kata Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia, Troy Reza Warokka.
Operasi Mandalika Rinjani 2026 melibatkan 2.678 personel gabungan. Publikasi simulasi tersebut belum merinci hasil latihan khusus evakuasi gempa dari tribun maupun waktu pemindahan penonton dalam jumlah besar.
Perkembangan terbaru disampaikan BPBD NTB setelah rapat koordinasi ketiga kesiapan Satgas Evakuasi Bencana di Aula Mayonif 742/SWY, Asrama Gebang, Kota Mataram, Selasa (29/9/2026).
Rapat membahas SOP terpadu yang melibatkan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, BMKG, organisasi perangkat daerah terkait, dan relawan kebencanaan.
“Seluruh unsur tersebut tergabung dalam satu komando terpadu dengan kekuatan personel yang telah terdata sebanyak 541 orang,” demikian keterangan tertulis BPBD NTB.
Jumlah tersebut merujuk pada kekuatan personel dalam koordinasi Satgas Evakuasi Bencana. Adapun angka 2.678 personel yang diumumkan sebelumnya merupakan kekuatan gabungan Operasi Mandalika Rinjani 2026.
Persiapan berikutnya mencakup penyusunan produk Tactical Floor Game (TFG) yang dijadwalkan pada 7 Oktober di Makorem. Apel gelar pasukan dan simulasi lapangan kemudian dijadwalkan pada 8 Oktober di kawasan Mandalika.
Fokus skenario kebencanaan adalah gempa bumi dan tsunami. Dalam keterangan BPBD, gempa bermagnitudo lebih dari 6,0 menjadi pemicu pengaktifan sistem peringatan dini untuk mengarahkan penonton dari tribun menuju titik evakuasi terdekat.
Skenario tersebut menggunakan batas waktu kritis 26 menit sebelum potensi gelombang tsunami tiba. Angka ini merupakan acuan perencanaan yang disampaikan BPBD, bukan kepastian waktu kedatangan tsunami untuk setiap gempa maupun hasil pengujian evakuasi seluruh penonton.
Dalam menghadapi gempa di kawasan pesisir, penonton juga perlu memahami perbedaan antara titik kumpul setelah guncangan dan tempat aman dari ancaman tsunami. Tujuan evakuasi harus mengikuti bahaya yang dihadapi; keluar dari tribun saja belum tentu cukup.
Panduan BMKG mengarahkan masyarakat melindungi diri selama guncangan. Apabila di pesisir terasa gempa kuat atau berlangsung lama, masyarakat perlu segera melakukan evakuasi mandiri menuju tempat aman setelah dapat bergerak, tanpa menunggu sirine atau perintah evakuasi. Artinya, penonton tidak perlu menunggu mengetahui angka magnitudo untuk merespons tanda bahaya alami tersebut.
Kesiapsiagaan juga mencakup pemantauan cuaca. Dalam rapat awal persiapan pada Agustus, Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid menyampaikan bahwa dua sistem peringatan dini cuaca telah terpasang di kawasan sirkuit. Informasi cuaca direncanakan diperbarui setiap 30 menit selama acara melalui Posko Satgas Evakuasi. Perangkat tersebut berfungsi untuk informasi cuaca, berbeda dari peringatan dini tsunami.
Rangkaian persiapan menunjukkan rencana evakuasi, pemeriksaan akses, dan koordinasi personel telah dilakukan. Simulasi lapangan pada 8 Oktober menjadi tahapan berikutnya untuk menguji pelaksanaan skenario tersebut.
Bagi penonton, informasi yang masih perlu diperjelas adalah pembagian rute dari setiap tribun, kapasitas tempat evakuasi, bantuan bagi kelompok rentan, dan penyampaian instruksi kepada wisatawan asing. (red.)






