NTB memasuki puncak kemarau, Bima 84 hari tanpa hujan

Ilustrasi Kekeringan. (Poto Pixabay/kicknews.today)

kicknews.today — Musim kemarau di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin menguat dan memasuki periode yang perlu diwaspadai. Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian I Agustus 2026 dari BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori rendah, sementara sejumlah daerah mulai mengalami periode Hari Tanpa Hujan (HTH) yang sangat panjang.

Pada dasarian I Agustus 2026, curah hujan di NTB secara umum berada pada kategori rendah, yakni 0–10 milimeter per dasarian. Sifat hujan didominasi kategori Bawah Normal (BN), meski terdapat sejumlah wilayah yang masih berada pada kategori Normal (N) dan Atas Normal (AN).

“Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kokok Putih, Sembalun, dengan total 47 milimeter per dasarian,” Forecaster on Duty BMKG NTB, Suci Agustiarini pada Senin (10/8/2026).

Kondisi yang lebih mengkhawatirkan terlihat dari pemantauan Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH). Durasi HTH di NTB bervariasi mulai dari kategori sangat pendek, yakni 1–5 hari, hingga kategori sangat panjang 31–60 hari.

Bahkan, sejumlah wilayah telah mengalami HTH lebih dari 60 hari. HTH terpanjang tercatat di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 84 hari. Kondisi tersebut masuk dalam kategori kekeringan ekstrem.

Kondisi kemarau di NTB turut dipengaruhi dinamika atmosfer. Hasil pemantauan menunjukkan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada kategori netral dengan indeks +0,715. Namun, IOD diprakirakan berpeluang memasuki fase positif mulai September hingga Desember 2026.

“Sementara itu, anomali suhu muka laut (SST) di wilayah Nino3.4 menunjukkan ENSO berada pada kategori El Nino sangat kuat, dengan indeks mencapai +2,45,” katanya.

BMKG memprediksi fenomena El Nino 2026 akan mencapai level sangat kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memperkuat kondisi kering di wilayah Indonesia, termasuk NTB.

Aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia saat ini didominasi angin timuran. Belokan angin juga terpantau di sekitar wilayah ekuator.

Untuk periode Agustus hingga November 2026, suhu muka laut di perairan Indonesia diprediksi didominasi kondisi normal hingga anomali negatif atau lebih dingin, dengan kisaran -0,5 hingga 0,2 derajat Celsius. Kondisi tersebut diprediksi mulai menghangat pada Desember 2026.

Sementara itu kata Suci, Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini belum aktif. Namun, MJO diprediksi mulai aktif pada akhir dasarian I Agustus 2026 dan bergerak menuju fase 6 atau Western Pacific. Secara spasial, gelombang MJO diprediksi aktif di perairan Pasifik barat bagian utara Papua, bersamaan dengan aktifnya gelombang Equatorial Rossby dan Kelvin.

Masyarakat NTB masih harus bersiap menghadapi kondisi kering dalam beberapa hari ke depan. BMKG memprakirakan peluang terjadinya hujan pada dasarian II Agustus atau periode 11–20 Agustus 2026 di seluruh wilayah NTB sangat kecil, yakni kurang dari 10 persen.

“Untuk peringatan dini curah hujan tinggi pada periode tersebut, BMKG menyatakan nihil,” jelasnya.

Sebaliknya, peringatan dini kekeringan meteorologis telah dikeluarkan untuk sejumlah wilayah dengan tingkat risiko mulai dari Waspada, Siaga hingga Awas.

Pada Level Waspada, wilayah yang masuk dalam pemantauan meliputi Kecamatan Gunung Sari di Lombok Barat; Jonggat di Lombok Tengah; Sembalun dan Kayangan serta Pemenang di Lombok Timur; Seteluk di Sumbawa Barat; Alas, Alas Barat dan Rhee di Sumbawa; serta Kecamatan Dompu di Kabupaten Dompu.

Sementara Level Siaga mencakup sejumlah wilayah di Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu hingga Bima.

Adapun wilayah yang masuk Level Awas meliputi Kecamatan Labuhan Haji dan Suela di Lombok Timur; Jereweh di Sumbawa Barat; Labuhan Badas, Moyo Utara, Sumbawa, Unter Iwes dan Lape di Kabupaten Sumbawa; Kilo dan Pajo di Kabupaten Dompu; serta Belo, Bolo dan Kecamatan Raba di Kota Bima.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul meluasnya wilayah yang berada pada Level Siaga hingga Awas akibat semakin panjangnya periode tanpa hujan.

Masyarakat diminta menggunakan air secara bijak untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih. Selain itu, kewaspadaan terhadap kebakaran hutan, lahan dan permukiman juga perlu ditingkatkan.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan dan tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan, mengingat kondisi kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

BMKG juga meminta masyarakat untuk terus mengikuti informasi dan peringatan dini resmi guna mengantisipasi potensi bencana maupun kerugian dalam perencanaan kegiatan.

“Selain menjaga ketersediaan air, masyarakat juga diingatkan menjaga kesehatan dan memastikan kecukupan cairan tubuh selama periode kemarau,” pungkasnya. (jr)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI