Museum NTB terima hibah kain persujudan Bayan berusia lebih dari seabad dari kolektor Australia

Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam bersama tim menunjukkan kain persujudan khas Sasak Bayan yang diperkirakan dibuat antara 1875–1925, Rabu (16/9/2026). Foto: kicknews.today/Wina
Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam bersama tim menunjukkan kain persujudan khas Sasak Bayan yang diperkirakan dibuat antara 1875–1925, Rabu (16/9/2026). Foto: kicknews.today/Wina

kicknews.today – Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menerima hibah kain persujudan khas masyarakat Sasak Bayan yang diperkirakan dibuat antara 1875 hingga 1925. Kain berusia lebih dari satu abad tersebut dihibahkan kolektor tekstil asal Australia, Michael Abbott.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam mengatakan, kain tersebut berasal dari wilayah Lombok Utara dan dahulu digunakan dalam kegiatan keagamaan serta upacara adat masyarakat Bayan.

“Kain hibah yang kami terima berasal dari Lombok Utara. Diperkirakan pembuatannya antara tahun 1875 sampai 1925,” kata Nuralam saat dikonfirmasi di kantornya, Rabu (16/9/2026).

Kain persujudan biasanya diletakkan di salah satu bahu atau diikatkan pada kepala. Penggunaannya menjadi simbol kesucian sekaligus penanda bahwa orang yang mengenakannya merupakan tokoh agama atau penghulu.

“Dahulu digunakan untuk kegiatan keagamaan dan adat. Biasanya diletakkan di salah satu bahu atau diikat di kepala sebagai simbol kesucian dan penanda bahwa pemakainya merupakan penghulu,” jelasnya.

Menurut Nuralam, penyerahan kain tersebut menunjukkan kepercayaan kolektor internasional terhadap kemampuan Museum Negeri NTB dalam merawat dan melestarikan benda budaya.

Hibah itu juga membuka ruang pertukaran informasi mengenai kebudayaan NTB sekaligus memperkuat hubungan museum dengan kolektor dan lembaga kebudayaan internasional.

“Ini merupakan koleksi pribadi. Dalam standar internasional, ketika seorang kolektor menyerahkan kain kepada suatu institusi, berarti dia percaya institusi tersebut mampu merawatnya,” ujar Nuralam.

Pamong Budaya Madya Museum Negeri NTB, Bunyamin mengatakan, fungsi kain persujudan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Kain yang awalnya digunakan penghulu kemudian turut dikenakan pengantin laki-laki menjelang akad nikah.

Di Sembalun, kain tersebut juga pernah digunakan sebagai pembungkus kitab. Namun, kain dengan motif seperti benda yang dihibahkan itu kini tidak lagi diproduksi.

“Pertama digunakan oleh tokoh agama atau penghulu. Dalam perkembangannya, kain itu juga digunakan pengantin laki-laki menjelang akad nikah,” kata Bunyamin.

Menurutnya, pembuatan kain persujudan terakhir di Bayan diperkirakan berlangsung pada dekade 1980-an. Proses pembuatannya tidak dilakukan sembarang orang karena keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan disertai persyaratan adat.

“Terakhir dibuat di Bayan sekitar tahun 1980-an. Pembuatnya bukan orang sembarangan, tetapi belian yang mewarisi keterampilan itu secara turun-temurun. Proses pembuatannya juga menggunakan andang-andang,” jelasnya.

Masyarakat Lombok Utara masih memproduksi kain tradisional yang disebut sajadah. Namun, kain tersebut bukan digunakan untuk salat dan memiliki motif berbeda dari kain persujudan yang dihibahkan.

Kain sajadah yang masih dibuat masyarakat umumnya digunakan sebagai taplak meja, penutup dinding, tirai, atau pembatas ruangan.

Penyerahan kain persujudan dilakukan dalam rangkaian kegiatan di Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, pada 11–12 September 2026. Hibah diterima Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri yang didampingi Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia, Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Kepala Museum Negeri NTB, serta tim Pemerintah Provinsi NTB. (wii)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI