kicknews.today – Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, selalu memiliki cerita unik dalam setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Memasuki bulan Rabiul Awal, masyarakat di berbagai desa di Lombok antusias menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain menjadi momentum mempererat silaturahmi, perayaan Maulid juga menjadi ruang untuk menjaga berbagai tradisi warisan leluhur.
Salah satu tradisi yang masih dipertahankan adalah Dulang Penamat.
Bagi masyarakat tertentu di Lombok, keberadaan Dulang Penamat menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid. Dulang tersebut bukan sekadar wadah berisi makanan dan jajanan tradisional, tetapi memiliki makna filosofis yang erat dengan nilai keagamaan dan kehidupan bermasyarakat.
Tokoh agama Desa Kuripan Timur, Dusun Batu Banteng, H Lalu Abdurrahim, mengatakan Dulang Penamat menjadi salah satu ciri khas yang membedakan perayaan Maulid dengan peringatan keagamaan lainnya.
“Wajib ada Dulang Penamat karena itu sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Besar kita dan sebagai penanda dirayakannya bulan Maulid. Ini juga menjadi pembeda dengan perayaan lainnya seperti Isra Mikraj,” jelasnya.
Menurut Lalu Abdurrahim, susunan Dulang Penamat memiliki makna tersendiri. Bagian paling atas terdapat renggi, yang dimaknai sebagai “reng yang tinggi”.
Renggi menjadi simbol ajakan kepada umat untuk memperbanyak zikir dan, apabila mampu, mengumandangkannya dengan suara yang tinggi.
Di bawah renggi terdapat jajanan yang dikenal dengan nama angin-angin atau opak-opak. Jajanan tersebut memiliki makna bahwa ketika seseorang tidak mampu berzikir dengan suara keras, maka tetap dianjurkan berzikir dengan suara lembut.
“Kalau tidak mampu berzikir dengan suara yang tinggi atau keras, maka berzikirlah dengan suara yang halus atau kecil, bagaikan angin yang bertiup dengan tenang,” katanya.
Selain itu, angin-angin atau opak-opak juga memiliki makna simbolis sebagai mahkota atau lambang kehormatan, rasa syukur serta perekat kebersamaan sosial.
Keberadaan dua jenis jajanan tersebut, lanjut Lalu Abdurrahim, menjadi ciri khas yang hampir selalu ada dalam Dulang Penamat saat Maulid.
“Kalau jaje renggi dan opak-opak itu wajib ada di setiap perayaan Maulid. Bisa dibilang itu ciri khasnya. Jajanan tersebut dibuat tiga minggu sebelum hari H menggunakan beras ketan, karena harus dijemur dulu sampai benar-benar kering baru digoreng,” tuturnya.
Setelah bagian atas tersusun, nampan atau wadah yang digunakan kemudian diisi dengan berbagai macam buah-buahan.
Buah-buahan tersebut menjadi simbol rasa syukur atas seluruh karunia dan rezeki yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Dulang kemudian dilengkapi dengan beragam makanan tradisional dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda.
Keragaman tersebut dimaknai sebagai gambaran kehidupan manusia dalam satu masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang, baik asal-usul, keturunan, bahasa, pola pikir, sifat maupun tingkat pengetahuan.
Perbedaan itu, menurut Lalu Abdurrahim, seharusnya menjadi alasan untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan, bukan menjadi sumber perpecahan.
“Jadi itu semua merupakan peninggalan dari zaman nenek moyang kita yang harus kita teruskan,” katanya.
Meski masih dipertahankan, pelaksanaan tradisi Maulid saat ini mulai mengalami perubahan dibandingkan masa lalu.
Lalu Abdurrahim mengatakan, dahulu masyarakat sudah mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan Maulid sejak sebulan sebelum hari pelaksanaan. Warga secara bersama-sama membuat berbagai jenis jajanan untuk dibawa ke masjid.
“Bedanya, dulu masyarakat kita antusias. Sebulan sebelum hari H masyarakat sudah kompak membuat jajanan. Kalau sekarang masyarakat banyak yang membeli, jarang yang membuat jajanan langsung,” ujarnya.
Kendati demikian, antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan Maulid tetap terjaga.
Dulang yang telah disiapkan kemudian dibawa ke masjid untuk disantap bersama. Sebagian hidangan juga dibagikan kepada para tamu undangan yang datang dari desa-desa lain.
Sebelum pelaksanaan, masyarakat terlebih dahulu bermusyawarah untuk menentukan siapa saja yang akan diundang, termasuk menghadirkan para tuan guru.
“Kita dari masjid musyawarah dulu, baru kita tentukan undangan, termasuk menghadirkan tuan guru. Nanti isi dulangnya dibagi-bagi,” terang Lalu Abdurrahim.
Hal senada disampaikan warga Desa Kuripan Timur, Dusun Batu Banteng, Baiq Murniati. Menurutnya, perubahan zaman turut memengaruhi cara masyarakat menyajikan Dulang Penamat.
Saat ini, sebagian masyarakat memilih menggunakan kotak atau plastik karena dianggap lebih praktis.
“Sekarang siapa yang mau jalan kaki mengangkat penamat ke masjid. Jadi masyarakat pisah dulu dari rumah menggunakan plastik, kemudian dibawa menggunakan kendaraan supaya lebih simpel, tapi isinya tetap sama,” jelasnya.
Lebih dari sekadar peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, bulan Maulid bagi masyarakat Lombok juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi antar-sanakkeluarga dan kerabat.
Masyarakat berkumpul bersama, menikmati hidangan serta berbagi kebahagiaan dalam suasana penuh kebersamaan.
Untuk memeriahkan perayaan Maulid, sejumlah kegiatan juga digelar, mulai dari lomba cerdas cermat, pidato, azan, hafalan ayat-ayat pendek hingga panjat pinang.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Lombok yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat nilai keagamaan, syukur dan persatuan di tengah masyarakat. (wii)






