kicknews.today – Renggi yang menjulang diletakkan di bagian paling atas, disusul opak-opak atau angin-angin, buah-buahan dan aneka jajanan tradisional. Susunan makanan dalam sebuah dulang itu bukan sekadar hidangan, tetapi menyimpan pesan zikir, rasa syukur dan kebersamaan dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Lombok.
Tradisi tersebut dikenal sebagai Dulang Penamat. Salah satu masyarakat yang masih mempertahankannya berada di Dusun Batu Banteng, Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat.

Memasuki bulan Rabiul Awal, warga mulai menyiapkan Dulang Penamat untuk dibawa ke masjid. Hidangan itu kemudian disantap bersama dan dibagikan kepada para tamu yang datang dari desa lain.
Tokoh agama Dusun Batu Banteng, H Lalu Abdurrahim mengatakan, Dulang Penamat menjadi salah satu ciri yang membedakan perayaan Maulid Nabi dengan peringatan hari besar Islam lainnya di masyarakat setempat.
“Wajib ada Dulang Penamat karena itu sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Besar kita dan sebagai penanda dirayakannya bulan Maulid. Ini juga menjadi pembeda dengan perayaan lainnya seperti Isra Mikraj,” kata Lalu Abdurrahim di Kuripan, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, setiap bagian Dulang Penamat memiliki makna. Pada bagian paling atas terdapat renggi yang dimaknai sebagai “reng yang tinggi”. Renggi menjadi simbol ajakan kepada umat untuk memperbanyak zikir dan mengumandangkannya dengan suara lantang apabila mampu.
Di bawah renggi terdapat jajanan yang disebut angin-angin atau opak-opak. Jajanan itu dimaknai sebagai pengingat bahwa seseorang yang tidak mampu berzikir dengan suara keras tetap dapat melakukannya dengan suara lembut.
“Kalau tidak mampu berzikir dengan suara yang tinggi atau keras, maka berzikirlah dengan suara yang halus atau kecil, bagaikan angin yang bertiup dengan tenang,” ujarnya.
Lalu Abdurrahim menyebut renggi dan opak-opak sebagai dua jenis jajanan yang harus ada dalam susunan Dulang Penamat di Batu Banteng. Keduanya dibuat menggunakan beras ketan dan membutuhkan persiapan cukup panjang.
“Kalau jaje renggi dan opak-opak itu wajib ada di setiap perayaan Maulid. Bisa dibilang itu ciri khasnya. Jajanan tersebut dibuat tiga minggu sebelum hari pelaksanaan karena harus dijemur sampai benar-benar kering, baru kemudian digoreng,” katanya.
Setelah renggi dan opak-opak tersusun, dulang dilengkapi berbagai jenis buah sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan karunia Allah SWT.
Beragam makanan tradisional dengan bentuk dan warna berbeda juga ditempatkan di dalamnya. Keragaman tersebut dimaknai sebagai gambaran masyarakat yang memiliki perbedaan asal-usul, keturunan, bahasa, sifat, pemikiran dan tingkat pengetahuan, tetapi tetap dipersatukan dalam kehidupan bersama.
“Jadi, itu semua merupakan peninggalan dari zaman nenek moyang kita yang harus terus kita lanjutkan,” kata Lalu Abdurrahim.
Keberadaan renggi, angin-angin, buah dan jajanan tradisional dalam Dulang Penamat juga ditemukan dalam praktik masyarakat di sejumlah wilayah lain di Lombok. Namun, bentuk susunan dan pemaknaannya dapat berbeda mengikuti kebiasaan masing-masing kampung.
Penelitian Sirajun Nasihin dan sejumlah akademisi yang diterbitkan dalam jurnal Edukasi Islami pada 2024 juga mengkaji Dulang Penamat pada masyarakat Sasak di Desa Pene dan Batu Nampar. Penelitian tersebut menempatkan tradisi itu sebagai praktik sosial-keagamaan yang mengintegrasikan pendidikan Islam, nilai multikultural dan musyawarah masyarakat.
Di Batu Banteng, pelaksanaan tradisi mulai mengalami perubahan. Lalu Abdurrahim mengatakan, pada masa lalu masyarakat mempersiapkan berbagai kebutuhan Maulid sejak sekitar satu bulan sebelum hari pelaksanaan. Warga berkumpul dan membuat jajanan secara bersama-sama untuk dibawa ke masjid.
“Bedanya, dulu masyarakat kita sangat antusias. Sebulan sebelum hari pelaksanaan, masyarakat sudah kompak membuat jajanan. Kalau sekarang banyak yang membeli dan jarang membuat jajanan langsung,” ujarnya.
Perubahan juga terjadi pada cara membawa Dulang Penamat. Warga Dusun Batu Banteng, Baiq Murniati mengatakan, sebagian masyarakat kini memilih mengemas isi dulang menggunakan kotak atau plastik agar lebih mudah dibawa dengan kendaraan.
“Sekarang siapa yang mau berjalan kaki mengangkat penamat ke masjid. Jadi, isinya dipisah dahulu dari rumah menggunakan plastik, kemudian dibawa dengan kendaraan supaya lebih sederhana, tetapi isinya tetap sama,” jelasnya.
Meski cara penyajiannya berubah, rangkaian perayaan tetap dilaksanakan melalui musyawarah. Pengurus masjid bersama masyarakat menentukan waktu pelaksanaan, tamu yang diundang dan tuan guru yang akan menyampaikan pengajian.
“Kita dari masjid bermusyawarah dahulu, baru menentukan undangan, termasuk menghadirkan tuan guru. Nanti isi dulangnya dibagi-bagikan,” kata Lalu Abdurrahim.
Perayaan Maulid juga diisi dengan kegiatan keagamaan dan perlombaan, seperti cerdas cermat, pidato, azan, hafalan ayat pendek hingga panjat pinang.
Melalui Dulang Penamat, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya berlangsung dalam pengajian. Nilai zikir, syukur, berbagi dan persatuan turut dihadirkan melalui hidangan yang disusun, dibawa ke masjid dan dinikmati bersama. (wii/red.)






