kicknews.today – Di tengah perkembangan Kota Bima yang terus bergerak, sebuah rumah kayu tua masih berdiri menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah Bima. Namanya Asi Kalende.
Bangunan panggung yang ditopang puluhan tiang kayu itu bukan sekadar rumah tua. Dalam catatan sejarah Kesultanan Bima, Asi Kalende diperkirakan telah berdiri sejak 1302 Masehi. Jika dihitung hingga 2025, usianya mencapai sekitar 724 tahun.

Usia yang panjang itu menjadikan Asi Kalende sebagai salah satu peninggalan tertua yang berkaitan dengan sejarah pemerintahan Bima.
Meski kini kondisinya mulai reot dimakan usia, bangunan tersebut masih bertahan. Asi Kalende bahkan masih ditempati atau dikelola oleh pewaris Raja Bicara dan telah masuk dalam perhatian sebagai cagar budaya.
Bagi pemerhati budaya Bima, Fahrurizki, Asi Kalende bukan sekadar bangunan berusia ratusan tahun.
“Mengenal Asi Kalende berarti kita berbicara inti dari sejarah Bima pada masa silam,” kata Fahrurizki.
Asi Kalende memiliki perjalanan panjang dalam sejarah pemerintahan Bima. Bangunan ini disebut sebagai istana pertama setelah Manggampo Jawa memindahkan pusat Kerajaan Bima dari Bolo ke Rasanae.
Dalam perkembangannya, Asi Kalende tidak hanya menjadi tempat tinggal. Rumah ini menjadi bagian penting dari ruang pemerintahan dan tempat lahirnya berbagai kebijakan.
Secara terminologi, nama Asi Kalende memiliki makna filosofis. Dalam bahasa Bima, kalende berkaitan dengan loko atau perut, yang dimaknai sebagai pusat dari seluruh bagian tubuh. Sementara asi diartikan sebagai tempat mengeluarkan sesuatu yang kemudian dikaitkan dengan istana.
Dengan demikian, Asi Kalende dimaknai sebagai pusat dikeluarkannya berbagai kebijakan pemerintahan.
“Ini bermakna pusat segala kebijakan pemerintah dikeluarkan,” jelas Fahrurizki.
Dari ruang-ruang di rumah kayu itulah, sejarah pemerintahan Bima terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Asi Kalende berdiri pada masa Raja Bima ke-12, Ma Wa’a Bilmana. Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan tersebut kemudian menjadi bagian dari pusat kekuasaan para raja dan pejabat pemerintahan Bima.
Ketika Raja Tureli Nggampo 1 atau Makapiri Solor mengembalikan jabatan raja kepada anak pamannya, Raja Ma Wa’a Ndapa, sekitar 1530, Asi Kalende kemudian digunakan sebagai istana khusus rumah bicara.
Dari masa Makapiri Solor, gagasan mengenai konsep pemerintahan mulai berkembang di ruang Asi Kalende. Perjalanan itu kemudian dilanjutkan oleh Ma Ana Lima Dai dan diwariskan kepada Jalauddin setelah kepulangannya dari Goa sekitar 1640.
Setelah itu, Asi Kalende kembali menjadi bagian dari perjalanan kekuasaan hingga masa Mantau Dana Ntori, anak Jalauddin, dan berlanjut kepada Abdul Nabi.
Di tempat inilah Abdul Nabi disebut merancang sekaligus memperbarui Undang-undang Bandar Bima. Sementara Muhammad Qurais tercatat sebagai Raja Bicara terakhir yang menempati Asi Kalende.
Secara fisik, Asi Kalende memiliki karakteristik rumah tradisional Bima. Bangunan panggung ini berdiri di atas 30 tiang penyangga. Di bagian depan terdapat sampana, ruang untuk bersantai sekaligus menerima tamu. Kehadiran sampana juga memperlihatkan bagaimana Asi Kalende tetap mempertahankan konsep arsitektur rumah Bima.
Pintu utama menghadap ke utara. Di bagian samping terdapat empat jendela besar, masing-masing dua di sisi barat dan dua di sisi timur.
Menariknya, pada bagian atas jendela masih terlihat ornamen Bunga Satako, salah satu unsur dekoratif yang memperkaya karakter bangunan.
Sementara di atas pintu masuk sampana terdapat ornamen berbentuk naga, hewan mitologi yang memiliki makna simbolis. Tidak ada bagian bangunan yang terasa hadir tanpa makna.
Tiga tiang yang menopang sampana, misalnya, dimaknai sebagai simbol tiga majelis adat Bima. Sedangkan ornamen naga di bagian depan memiliki filosofi keseimbangan antara pemerintah dan rakyat.
“Abdul Nabi memberikan simbol itu sebagai filosofi keseimbangan dari pemerintah dan rakyat Tanah Bima,” ujar Fahrurizki.
Selama ratusan tahun, tentu Asi Kalende tidak sepenuhnya luput dari perubahan. Bangunan tua itu tercatat telah mengalami dua kali renovasi besar.
Renovasi pertama dilakukan pada 1801 oleh Raja Bicara M. Anwar Abdul Nabi. Kemudian renovasi kedua dilakukan pada 1858 oleh Raja Bicara M. Yakub atau Ruma Kapenta Wadu. Renovasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Asi Kalende untuk bertahan hingga hari ini.
Bayangkan, sebuah rumah kayu yang telah melewati pergantian kekuasaan, perubahan zaman, dan perjalanan panjang masyarakat Bima masih menyisakan bentuk serta simbol-simbol yang menghubungkan masa kini dengan masa silam.
Kayunya mungkin telah menua. Sebagian bagian bangunan mungkin tidak lagi sekuat dahulu. Namun cerita yang tersimpan di dalamnya justru semakin bernilai.
Asi Kalende pada akhirnya bukan hanya tentang rumah kayu berusia ratusan tahun. Ia adalah tentang bagaimana sebuah bangunan menjadi saksi ketika kekuasaan dirumuskan, adat dipertahankan, kebijakan disusun, dan sejarah Bima diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di antara deretan bangunan modern yang terus tumbuh, Asi Kalende mengingatkan bahwa Bima pernah memiliki sebuah ruang tempat sejarah itu sendiri dirajut. Dan selama rumah tua itu masih berdiri, jejak tersebut belum benar-benar hilang. (jr)






