kicknews.today — Dari kejauhan, Pantai Lawata tampak seperti destinasi wisata biasa. Laut yang membentang di hadapan bukit, semilir angin, serta panorama pesisir membuat kawasan ini menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun di balik keindahannya, Lawata menyimpan cerita panjang yang melintasi zaman.
Di tempat yang kini ramai dikunjungi wisatawan itu, jejak masa lalu masih tersimpan di balik bukit dan tanahnya. Ada kisah tentang tempat keramat, makam misterius, jalur pelayaran, hingga lubang persembunyian tentara Jepang yang dibangun menjelang berakhirnya Perang Dunia II.

Bagi masyarakat Bima masa lalu, Lawata bukan sekadar pantai. Tempat ini dikenal sebagai kawasan sakral.
Pemerhati Budaya Bima, Fahrurizki, menyebut nama Lawata berasal dari sebutan lama “Lawang Dewata”, yang bermakna *Gerbang Para Dewata*. Dalam perkembangan pengucapan masyarakat Bima, nama tersebut kemudian lebih dikenal sebagai Lawata.
Sekitar awal abad ke-20, tepatnya sekitar 1900 Masehi, Lawata disebut sebagai salah satu tempat yang sangat dikeramatkan.
“Orang-orang yang ingin lewat di Lawata harus menjaga jarak. Mereka tidak ingin mendekati atau berada di dekat makam keramat yang ada di puncak bukitnya,” ungkap Fahrurizki.
Kesakralan itu tidak terlepas dari keberadaan makam yang berada di kawasan bukit Lawata.
Terdapat lima makam yang oleh masyarakat Bima dahulu disebut Rade Karama. Hingga kini, belum banyak informasi yang dapat memastikan siapa sosok yang dimakamkan di tempat tersebut.
Ketidakjelasan mengenai identitas penghuni makam itulah yang membuat kisah Lawata semakin lekat dengan cerita-cerita masa lalu.
Lawata ternyata tidak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya. Letaknya di kawasan pesisir juga menjadikannya bagian dari jalur pelayaran pada masa lalu. Dalam sejumlah peta pelayaran abad ke-19, kawasan tersebut ditandai dengan nama Tanjung Lawata.
Fahrurizki menjelaskan, kawasan ini pernah menjadi tempat berlabuh sementara bagi kapal-kapal yang membutuhkan perlindungan dari kondisi cuaca buruk. Terutama ketika angin barat dan angin utara bertiup kuat.
“Pantai Lawata juga sebagai tempat berlabuh dan berlindung bagi kapal-kapal pedagang saat cuaca ekstrem. Hal itu biasanya terjadi antara bulan November hingga Februari,” jelasnya.
Dengan posisi yang relatif terlindung, Lawata menjadi tempat persinggahan ketika perjalanan laut tidak memungkinkan untuk dilanjutkan.
Di balik panorama laut yang kini menjadi daya tarik wisata, tersimpan cerita bahwa kawasan tersebut pernah menjadi tempat para pelaut mencari perlindungan.
Memasuki masa Perang Dunia II, wajah Lawata kembali berubah. Pada 1944, tentara Jepang membangun benteng pertahanan di kawasan tersebut. Lawata juga dimanfaatkan sebagai bagian dari pertahanan dan aktivitas angkatan laut Jepang. Jejak perang itu kemudian meninggalkan peninggalan yang hingga kini masih dapat ditemukan.
Di balik bukit Lawata terdapat lubang-lubang persembunyian yang digali tentara Jepang. Lubang tersebut digunakan sebagai tempat berlindung dari ancaman pasukan Sekutu, termasuk pasukan Australia. Masyarakat kini mengenalnya dengan sebutan Goa Jepang. Gua tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa Lawata pernah berada di tengah pusaran sejarah perang.
Jika dahulu bukit Lawata menjadi tempat yang dianggap sakral, puluhan tahun kemudian kawasan yang sama berubah fungsi menjadi bagian dari sistem pertahanan militer.
Dari satu tempat, Lawata menyimpan banyak wajah. Ia pernah dikenal sebagai Lawang Dewata, gerbang yang dikaitkan dengan dunia para dewata. Ia juga menjadi kawasan makam keramat yang membuat orang-orang pada masa lalu menjaga jarak ketika melintas.
Kemudian Lawata menjadi tempat berlindung kapal-kapal yang menghadapi cuaca buruk di laut. Dan pada masa pendudukan Jepang, bukitnya berubah menjadi benteng pertahanan sekaligus lokasi persembunyian.
Kini, Lawata hadir dengan wajah yang jauh lebih ramah. Pantainya menjadi ruang rekreasi masyarakat. Bukitnya menawarkan panorama Kota Bima dan laut di sekitarnya. Anak-anak, keluarga, hingga wisatawan datang menikmati suasana pesisir.
Tetapi di balik keramaian itu, sejarah masih berdiam. Makam-makam tua, jejak benteng, dan Goa Jepang menjadi kepingan cerita yang membuat Lawata berbeda dari sekadar destinasi wisata.
Sebab setiap sudut Lawata seolah menyimpan pertanyaan: Siapa sebenarnya penghuni Rade Karama? Mengapa tempat ini dahulu disebut Lawang Dewata? Dan bagaimana kehidupan Lawata ketika kapal-kapal mencari perlindungan hingga tentara Jepang menjadikannya benteng pertahanan?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum seluruhnya terjawab. Namun justru di sanalah daya tarik Lawata. Ia bukan hanya tentang laut dan bukit. Lawata adalah ruang tempat mitos, budaya, pelayaran, dan sejarah perang bertemu dalam satu lanskap.
Dan ketika matahari mulai tenggelam di balik perbukitan, kisah-kisah lama itu seakan kembali menghidupkan Lawata—tempat yang sejak dahulu dipercaya sebagai Gerbang Para Dewata. (jr)






