kicknews.today – Jauh sebelum nama Lombok dan Sasak muncul dalam sumber tertulis, manusia sudah hidup di pulau ini. Mereka meninggalkan kerangka, gerabah, sisa makanan, fragmen logam, dan jejak hunian yang kemudian dibaca ulang oleh arkeolog sebagai potongan-potongan masa lalu Lombok.
Salah satu jejak penting itu ditemukan di Gunung Piring, kawasan Truwai, Pujut, Lombok Tengah. Ekskavasi pada 5 November hingga 6 Desember 1976 dilakukan untuk mengumpulkan data arkeologis dan geologis guna mengungkap kehidupan masa lampau di situs tersebut.

Temuan dari situs itu antara lain gerabah dan berbagai indikator hunian prasejarah. Ekskavasi Gunung Piring juga dimaksudkan untuk mengetahui fungsi, pertanggalan, serta kedudukannya dalam prasejarah Indonesia.
Jejak tersebut penting karena menunjukkan sejarah manusia di Lombok jauh lebih tua dibanding masa ketika nama pulau dan masyarakatnya mulai muncul dalam catatan tertulis.
Tetapi siapa sebenarnya penghuni Lombok pada masa itu?
Arkeologi bisa membaca benda yang mereka gunakan, lingkungan tempat tinggal, sisa makanan, bahkan cara manusia dikuburkan. Namun artefak tidak memberi tahu bagaimana masyarakat ribuan tahun lalu menyebut diri mereka.
Karena itu, istilah “hunian purba” di sini merujuk pada kehidupan masyarakat Lombok pada masa prasejarah. Temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan apakah penghuni Gunung Piring sudah dapat disebut Sasak dalam pengertian identitas etnis seperti yang dikenal sekarang, atau bagaimana persis hubungan mereka dengan masyarakat Sasak modern.

Semakin mendekati abad pertengahan, cerita Lombok kemudian bergerak dari benda-benda yang terkubur di tanah menuju ingatan yang disimpan dalam naskah.
Tradisi tertulis Lombok mengenal Pamatan, sebuah pusat kehidupan yang diceritakan mengalami kehancuran besar ketika Gunung Samalas meletus.
Letusan itu benar-benar terjadi.
Pada 2013, Franck Lavigne bersama tim peneliti internasional menerbitkan penelitian di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) yang mengidentifikasi Samalas, bagian dari kompleks vulkanik Rinjani, sebagai sumber letusan raksasa tahun 1257 yang selama puluhan tahun menjadi misteri bagi ilmuwan.
Sebelumnya, inti es dari Greenland dan Antarktika telah menunjukkan adanya lonjakan material vulkanik sangat besar pada pertengahan abad ke-13. Namun gunung yang menyebabkannya belum berhasil diidentifikasi secara meyakinkan.
Penelitian Lavigne dan tim menggunakan kombinasi stratigrafi, geokimia tefra, penanggalan radiokarbon, morfologi gunung, serta sumber tertulis lokal untuk menghubungkan jejak global tersebut dengan Samalas di Lombok.
Para peneliti menyebut hasil penelitian itu memecahkan teka-teki yang telah membingungkan ahli gletser, vulkanologi, dan iklim selama lebih dari tiga dekade. Mereka bahkan menggunakan ungkapan “forgotten Pompeii in the Far East”, atau “Pompeii yang terlupakan di Timur”, ketika membahas kemungkinan keberadaan permukiman yang tertimbun akibat bencana tersebut.
Namun istilah itu tidak berarti Pamatan telah ditemukan.

Sampai sekarang, belum ada ekskavasi arkeologis yang secara definitif menemukan dan mengidentifikasi sebuah kota terkubur sebagai Pamatan. Karena itu, Pamatan masih berada di persimpangan antara ingatan dalam babad, bukti geologi, dan pencarian arkeologis yang belum selesai.
Yang jauh lebih terang adalah besarnya letusan Samalas.
Lavigne dan tim memperkirakan sedikitnya sekitar 40 kilometer kubik material vulkanik dalam ukuran setara batuan padat dikeluarkan saat letusan. Kolom erupsi diperkirakan mencapai sekitar 43 kilometer, sementara endapan aliran piroklastik ditemukan hingga pantai sekitar 25 kilometer dari sumber. Letusan itu diperkirakan bermagnitudo 7 dan termasuk salah satu letusan eksplosif terbesar pada zaman Holosen.
Dampaknya bahkan tidak berhenti di Lombok.
Penelitian internasional lain yang diterbitkan pada 2016 memperkirakan letusan Samalas melepaskan sekitar 158 ± 12 teragram sulfur dioksida ke atmosfer, bersama sejumlah besar gas halogen. Studi itu menyebut Samalas sebagai pelepasan gas vulkanik ke stratosfer terbesar pada Common Era yang diketahui dari kajian tersebut.
Artinya, letusan sebuah gunung di Lombok meninggalkan jejak yang bisa dibaca ilmuwan dari rekaman iklim dunia berabad-abad kemudian.
Tetapi bagi masyarakat yang hidup di Lombok pada 1257, persoalannya jauh lebih dekat daripada perubahan iklim global.
Sumber-sumber tertulis lokal menggambarkan kehancuran permukiman, perpindahan penduduk, hingga upaya masyarakat menata kembali kehidupan setelah bencana.
Kajian Bachtiar W. Mutaqin dan tim yang diterbitkan dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research pada 2022 menelaah tiga sumber tertulis lokal Lombok yang menggambarkan letusan Samalas. Para peneliti menemukan bahwa naskah-naskah tersebut tidak hanya mencatat erupsi, tetapi juga respons masyarakat sebelum, ketika, dan setelah bencana.
Penelitian itu menyebut sumber-sumber Lombok termasuk sedikit naskah awal di Indonesia yang menggambarkan siklus penanganan bencana secara relatif lengkap, mulai dari kejadian, respons darurat, perpindahan hingga pemulihan masyarakat.
Di titik inilah kisah Pamatan menjadi sangat menarik.
Babad Lombok menghubungkan pusat kehidupan tersebut dengan bencana Samalas. Tetapi babad bukan laporan administrasi modern. Nama tempat, urutan kejadian, jumlah penduduk, dan detail lainnya tetap harus diuji dengan arkeologi, geologi, dan sumber sejarah lain.
Karena itu, kalimat bahwa Pamatan “hilang ditelan Samalas” lebih tepat dipahami sebagai cerita yang hidup dalam sumber lokal dan semakin menarik setelah ilmu pengetahuan membuktikan bahwa letusan raksasa memang terjadi di Lombok pada waktu yang sesuai.
Samalas memberi kepastian tentang bencananya. Pamatan masih menyimpan teka-teki tentang manusianya.
Sementara itu, Gunung Piring membawa perjalanan lebih jauh lagi ke belakang, ke masa ketika belum ada babad yang bisa bercerita.
Dari titik-titik itu terlihat bahwa sejarah Lombok bukan satu garis lurus yang dimulai ketika nama Sasak muncul dalam naskah.
Ada lapisan kehidupan prasejarah. Ada masyarakat yang membangun permukiman dan jaringan sosial. Ada ingatan tentang pusat-pusat kehidupan lama. Lalu datang sebuah letusan yang mengubah bentang alam pulau secara radikal.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Siapa sebenarnya manusia yang hidup di Gunung Piring? Bagaimana hubungan populasi prasejarah Lombok dengan masyarakat yang berkembang pada masa berikutnya? Di mana letak Pamatan? Seberapa besar permukiman yang ada sebelum 1257? Dan berapa banyak jejak kehidupan masa lalu yang masih terkubur di bawah endapan Samalas?
Ilmu pengetahuan belum memberikan jawaban final.
Namun satu hal semakin jelas: ketika Samalas meledak pada 1257, gunung itu tidak meletus di atas pulau kosong.
Ia menghantam sebuah Lombok yang telah lama dihuni manusia, memiliki permukiman dan kehidupan sosial, sementara sebagian kisah tentang dunia sebelum letusan itu mungkin masih menunggu ditemukan di bawah tanah. (red.)






