kicknews.today – Rabu terakhir di bulan Safar memiliki cerita tersendiri bagi sebagian masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Hari ini, Rabu (12/8/2026), tradisi yang dikenal sebagai Rebo Bontong kembali diperingati, salah satunya melalui Ritual Rebo Bontong dan Mandiq Safar yang digelar Majelis Adat Sasak (MAS) di Kemaliq Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.
Berdasarkan undangan panitia, ritual dijadwalkan berlangsung mulai pukul 15.00 WITA dengan peserta mengenakan busana adat Sasak. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga dan merawat nilai adat, budaya serta kearifan leluhur Sasak.

Namun, apa sebenarnya Rebo Bontong dan mengapa tradisi ini identik dengan Mandiq Safar?
Rebo Bontong, Rabu Terakhir Bulan Safar
Secara sederhana, Rebo Bontong merujuk pada hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah. Kata rebo berarti Rabu, sementara bontong dalam pemaknaan masyarakat setempat merujuk pada ujung atau bagian terakhir.
Tradisi ini dikenal secara turun-temurun di sejumlah komunitas Sasak di Lombok. Bentuk pelaksanaannya dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya, tetapi umumnya berkaitan dengan doa, berkumpul bersama dan aktivitas yang menggunakan air sebagai bagian dari ritual.
Dalam pandangan tradisional masyarakat pada masa lalu, penghujung bulan Safar juga menjadi momentum untuk berikhtiar memohon keselamatan dan dijauhkan dari berbagai bala atau kesulitan.
Pemaknaan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari tradisi dan pandangan masyarakat yang berkembang dari generasi ke generasi, bukan sebagai fakta ilmiah bahwa bencana atau penyakit pasti turun pada hari tersebut.
Mengapa Ada Mandiq Safar?
Salah satu bagian yang paling dikenal dari Rebo Bontong adalah Mandiq Safar atau mandi Safar.
Air dalam tradisi ini memiliki makna simbolik. Mandi dipahami sebagai perlambang membersihkan diri sekaligus menjadi bagian dari doa dan pengharapan akan keselamatan.
Jejak tradisi Mandiq Safar dapat ditemukan di berbagai wilayah Lombok. Ada masyarakat yang melaksanakannya di pantai, sungai, mata air maupun lokasi-lokasi yang memiliki nilai budaya tertentu.
Karena itu, Mandiq Safar tidak hanya dapat dipandang sebagai aktivitas mandi bersama. Di baliknya terdapat simbol tentang keselamatan, hubungan manusia dengan alam, kebersamaan dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Tradisi Sasak yang Terus Berubah
Menariknya, Rebo Bontong yang diperingati masyarakat saat ini tidak sepenuhnya sama dengan praktik beberapa generasi sebelumnya.
Seiring perjalanan waktu dan menguatnya pengaruh pendidikan keagamaan, sejumlah praktik lama mengalami perubahan. Di berbagai tempat, rangkaian tradisi kemudian dipadukan dengan doa bersama, selawat, pengajian, santunan sosial hingga kegiatan pelestarian budaya.
Semangat menjaga warisan itulah yang juga pernah disampaikan Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, ketika MAS menggelar Ritual Rebo Bontong di Kemaliq Ranget, Suranadi, Lombok Barat pada September 2024.
“Bila kita tidak hati-hati maka akan tergerus dengan budaya-budaya luar yang sangat menakutkan bagi generasi muda,” kata Lalu Sajim saat itu.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi Majelis Adat Sasak, Rebo Bontong tidak semata dipandang sebagai ritual tahunan. Tradisi ini juga ditempatkan sebagai ruang untuk mengenalkan kembali identitas budaya kepada generasi berikutnya.
Adat dan Agama dalam Mandiq Safar
Hubungan antara adat dan agama juga menjadi salah satu bagian menarik dalam perkembangan tradisi ini.
Hanya sepekan sebelum Rebo Bontong tahun ini, tokoh agama TGH Lalu Imam Sanusi menjelaskan posisi tersebut ketika menghadiri tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar di kawasan Bendungan Meninting, Lombok Barat, Rabu (5/8/2026).
Dalam tausiah menggunakan bahasa Sasak, ia menekankan pentingnya menjaga adat tanpa melepaskannya dari nilai agama.
“Adat jangan sampai lepas dengan agama. Lamun adat taq pelihara, insyaallah budaya Sasak tetap idup, anak putu tao jati dirina lan tetap ngelingang ajaran agama,” kata TGH Lalu Imam Sanusi.
Pernyataan tersebut secara sederhana mengandung pesan bahwa adat yang dipelihara dapat menjaga budaya Sasak tetap hidup, membantu generasi berikutnya mengenali jati dirinya sekaligus tetap mengingat ajaran agama.
Ia juga menjelaskan bahwa tradisi Bubur Beaq-Mandiq Safar berkaitan dengan konsep wirgama, yakni pengetahuan lokal masyarakat Sasak dalam membaca tata waktu dan ritme kehidupan.
Dalam pandangan tersebut, tradisi bukan hanya tentang sebuah ritual, tetapi juga menjadi sarana menjaga persaudaraan dan mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Lebih dari Sekadar “Mandi Tolak Bala”
Karena itu, menyederhanakan Rebo Bontong hanya sebagai ritual “mandi tolak bala” tidak sepenuhnya menggambarkan perjalanan tradisi ini.
Di dalamnya terdapat cara masyarakat Sasak memaknai waktu, alam, keselamatan, hubungan sosial hingga identitas budaya.
Sebagian kepercayaan lama tentu dapat dipahami secara berbeda oleh masyarakat modern. Bahkan dalam perkembangannya, unsur-unsur tradisi terus mengalami penyesuaian dengan pemahaman keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.
Namun satu hal tetap bertahan: Rebo Bontong menjadi ruang untuk berkumpul.
Orang datang, berdoa, bersilaturahmi dan mengingat kembali warisan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Sore ini, perjalanan panjang tradisi tersebut kembali hadir di Kemaliq Lingsar, Lombok Barat.
Di sana, Rebo Bontong dan Mandiq Safar bukan hanya tentang air yang digunakan dalam sebuah ritual. Ia juga menjadi cerita tentang bagaimana masyarakat Sasak terus merawat identitasnya sambil berjalan bersama perubahan zaman. (red.)






