kicknews.today – Nusa Tenggara Barat (NTB) diprakirakan masih didominasi kondisi kering hingga akhir Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño telah mencapai intensitas sangat kuat dan ikut mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan cuaca periode 21-27 Agustus 2026, BMKG menyebut sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan rendah pada Dasarian III Agustus, yakni 0-50 milimeter per dasarian. NTB termasuk wilayah yang masuk kategori tersebut bersama Bali, NTT dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Kondisi tersebut terjadi saat NTB memang berada pada puncak musim kemarau. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyebut puncak musim kemarau pada Agustus 2026 mencakup sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat.
BMKG juga telah mengingatkan bahwa kemarau 2026 berpotensi lebih panjang dan lebih kering karena bertepatan dengan El Niño.
“Musim hujan dan musim kemarau akan kita alami setiap tahun. Tapi yang menjadi permasalahan adalah ketika musim kemarau bersamaan waktunya dengan fenomena El Nino,” kata Faisal dalam keterangan resmi BMKG.
Menurut Faisal, kondisi tersebut membuat musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB, disebut menjadi salah satu kawasan yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.
Penguatan El Niño juga terlihat dari hasil analisis dinamika atmosfer BMKG. Pada Dasarian I Agustus 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat mencapai +2,77 derajat Celsius. BMKG mengategorikan kondisi tersebut sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Pada saat bersamaan, Indian Ocean Dipole (IOD) juga cenderung berada pada fase positif. Kombinasi kedua fenomena tersebut mendukung berkurangnya pasokan uap air dan memperkuat kecenderungan atmosfer yang lebih kering di sebagian besar Indonesia.
BMKG mencatat 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 90,79 persen wilayah, sedangkan 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal.
Meski demikian, kondisi kering bukan berarti NTB sama sekali tidak berpeluang mengalami hujan hingga akhir Agustus. BMKG menjelaskan hujan lokal masih dapat terbentuk akibat dinamika atmosfer, faktor topografi, pemanasan permukaan serta interaksi angin darat dan laut.
Kondisi kering berkepanjangan tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis dan kebakaran hutan dan lahan. Dalam analisis Dasarian I Agustus, beberapa kabupaten/kota di NTB bahkan masuk klasifikasi siaga hingga awas kekeringan meteorologis.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan karhutla. Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan menggunakan api dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi titik api.
Dengan NTB masih berada di puncak kemarau dan El Niño berada pada intensitas sangat kuat, kondisi kering diprakirakan tetap menjadi perhatian hingga penghujung Agustus. Namun, masyarakat tetap perlu mengikuti pembaruan cuaca harian karena hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah. (red.)






