Di balik A Thousand Jong, ada bulan ketika warga Bayan menahan pesta demi Maulid

Perempuan Sasak Bayan mengenakan Jong dalam A Thousand Jong pada Mulud Adat Bayan 2026 di Lombok Utara
Perempuan Sasak Bayan mengenakan Jong dalam rangkaian A Thousand Jong pada Mulud Adat Bayan 2026 di Lombok Utara. Jong menjadi bagian dari busana adat yang digunakan masyarakat Bayan dalam berbagai acara urip. Foto: Achend

kicknews.today – Seribu perempuan ber-Jong memenuhi kawasan Desa Bayan Beleq dalam rangkaian pembukaan Mulud Adat Bayan 2026 di Kabupaten Lombok Utara. Di balik warna-warni busana adat yang dikenakan para perempuan itu, tersimpan cerita tentang bagaimana masyarakat Bayan menempatkan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam siklus kehidupan mereka.

Juru Kunci Masjid Kuno Bayan, Raden Palasari menjelaskan, Jong merupakan bagian dari pakaian khas Sasak Bayan yang digunakan dalam berbagai acara urip, seperti Maulid, begawe beleq, sunatan adat dan pesta pernikahan.

Namun ketika memasuki bulan Mulud, masyarakat Bayan memiliki aturan adat untuk menahan pelaksanaan sejumlah urip dan begawe. Waktu tersebut digunakan untuk mempersiapkan pelaksanaan Maulid Adat sekaligus menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Kami memasuki bulan Mulud sudah ada aturan tidak menyelenggarakan urip, begawe atau pesta untuk mempersiapkan perayaan kelahiran Baginda Nabi dan bersiap menerima ajaran,” kata Raden Palasari saat ditemui kicknews.today di Bayan, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, setelah rangkaian Maulid selesai, masyarakat kembali menggelar berbagai kegiatan urip, termasuk pernikahan dan begawe.

Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya posisi Maulid dalam kehidupan masyarakat adat Bayan. Perayaan tidak hanya hadir sebagai agenda keagamaan tahunan, tetapi ikut memengaruhi ritme sosial masyarakat setempat.

Raden Palasari mengatakan, puncak Maulid Adat Bayan dilaksanakan bertepatan dengan 12 Rabiul Awal berdasarkan perhitungan masyarakat Bayan. Waktu pelaksanaannya terkadang berbeda dengan peringatan Maulid yang mengikuti kalender Hijriah secara nasional.

“Maulid Adat Bayan itu bertepatan dengan 12 Rabiul Awal secara hitungan Bayan. Kadang berbeda jatuhnya karena kalau nasional menggunakan kalender Hijriah, sedang di Bayan masih menggunakan tahun Caka,” ujarnya.

Pada rangkaian tahun ini, masyarakat Bayan menjadwalkan puncak prosesi berlangsung Sabtu (29/8/2026), bertepatan dengan fase bulan purnama menurut penjelasan masyarakat setempat.

Berdasarkan jadwal resmi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Mulud Adat Bayan 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut tahun ini juga menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Rangkaian dibuka Kamis (27/8/2026) melalui Parade Jong Bayan di kawasan Ancak-Masjid Kuno Bayan. Pembukaan juga diisi pertunjukan penenun Bayan, seremoni pembukaan serta penyerahan plakat KEN.

Pada Jumat (28/8/2026), prosesi adat berlanjut dengan Merembun di desa adat, Tun Gerantung di Bale Adat Karang Bajo, Menutu di Desa Adat Karang Bajo, Pasang Bebo di Masjid Kuno Bayan hingga Peresean di halaman masjid.

Puncak acara pada Sabtu (29/8/2026) diawali persiapan Nasi Ancak. Selanjutnya masyarakat menjalani Bisoq Meniq di Lokok Bajo, merias Praja Mulud di Gubug Bayan Barat, kemudian prosesi Praja Mulud dari Bat Orong menuju Masjid Kuno Bayan. Rangkaian dilanjutkan dengan Periapan di halaman Masjid Kuno.

Di antara seluruh rangkaian itu, A Thousand Jong menjadi salah satu wajah paling mudah dikenali. Seribu perempuan tampil dalam busana adat dengan Jong sebagai salah satu ciri khas perempuan Bayan.

Bagi masyarakat setempat, pakaian tersebut bukan sekadar ornamen untuk pertunjukan. Jong tetap ditempatkan sebagai bagian dari tata kehidupan adat yang penggunaannya melekat pada berbagai acara urip.

Raden Palasari berharap para pengunjung yang datang menyaksikan prosesi Mulud Adat Bayan menghormati tata cara masyarakat setempat. Keterbukaan Bayan kepada wisatawan dan pengunjung, menurutnya, tidak boleh membuat budaya lokal kehilangan bentuk aslinya.

“Bagi para pengunjung yang mau menyaksikan prosesi adat Maulid Nabi, kami harap mengikuti bagaimana budayanya kami di Bayan, agar khas yang kami punya tidak tercampur dengan budaya-budaya luar,” katanya.

Upaya menjaga identitas tersebut juga ditanamkan kepada generasi muda sejak kecil. Saat pelaksanaan Maulid Adat Bayan, anak-anak diminta mengenakan sarung dan mengikuti tata cara yang berlaku di lingkungan adat.

Raden Palasari mengatakan, kebiasaan itu tetap dibawa oleh generasi Bayan meski sebagian dari mereka menempuh pendidikan di luar Lombok.

“Walaupun generasi kami bersekolah di luar, bahkan sampai Jawa dan tempat lain, ketika pelaksanaan ritual adat, mereka balik mengikuti budayanya mereka agar tidak kehilangan jati diri,” ujarnya.

Di balik A Thousand Jong, karena itu, tersimpan cerita yang lebih panjang daripada seribu perempuan dalam busana adat.

Ketika bulan Mulud datang, sebagian pesta dan begawe ditahan. Bayan memberi ruang terlebih dahulu bagi satu perayaan yang telah diwariskan lintas generasi, yakni memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tetap mereka kenali sebagai milik sendiri. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI