kicknews.today – Taliwang kini dikenal sebagai ibu kota Kabupaten Sumbawa Barat. Namun, hampir delapan dekade lalu, nama itu pernah menyeberangi lautan, tertulis dengan huruf besar di buritan kapal yang berlayar dari Rotterdam menuju Indonesia.
Namanya TALIWANG.

Sebuah foto hitam putih memperlihatkan kapal berbadan baja itu sedang bersandar. Pada bagian buritannya tertulis dua nama: TALIWANG dan tepat di bawahnya BATAVIA.
Batavia bukan bagian dari nama kapal. Nama kota tersebut menunjukkan pelabuhan registrasi atau home port Taliwang ketika kapal mulai beroperasi pada 1947.
Jejak kapal itu tersimpan dalam pangkalan data Stichting Maritiem Historische Data atau Marhisdata. Taliwang tercatat sebagai kapal kargo bermotor berbadan baja dengan bobot 176 gross ton, panjang 37,1 meter dan lebar 7,03 meter.
Kapal tersebut dibangun di galangan Gebr. Suurmeijer, Scheepswerf Vooruitgang, Foxhol, Groningen, Belanda. Taliwang diluncurkan pada 26 September 1946 dan diserahkan pada 22 Maret 1947.
Mesinnya berkekuatan 150 tenaga kuda dengan kecepatan sekitar delapan knot. Ukurannya memang tidak besar, tetapi kapal itu dipersiapkan untuk melayani perairan kepulauan yang memiliki banyak pelabuhan kecil.
Pelayaran 70 hari menuju Indonesia
Pada 2 April 1947, Taliwang meninggalkan Schiehaven di Rotterdam bersama kapal sejenis bernama Tarempa.
Keberangkatan keduanya diberitakan Leeuwarder Courant edisi 3 April 1947. Perjalanan dari Rotterdam menuju Indonesia diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 70 hari.
Catatan Marhisdata menunjukkan kedua kapal tiba di Port Said, Mesir, pada 26 April 1947. Dari sana, Taliwang dan Tarempa melanjutkan perjalanan melewati Terusan Suez, Laut Merah dan Samudra Hindia.
Saat pelayaran tersebut berlangsung, Indonesia sebenarnya telah memproklamasikan kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945. Namun, arsip dan pemberitaan Belanda pada masa itu masih menggunakan sebutan Hindia Belanda karena Belanda belum mengakui kedaulatan Indonesia.
Perjalanan Taliwang juga berlangsung di tengah konflik mempertahankan kemerdekaan. Beberapa bulan setelah kapal itu tiba, Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947.
Di tengah situasi politik tersebut, Taliwang menempuh perjalanan yang jauh melampaui fungsi dasarnya sebagai kapal pesisir.
Disambut pesawat Catalina di Tanjung Priok
Taliwang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada 2 Juni 1947 setelah menempuh pelayaran sekitar sembilan minggu.
Kapal itu tidak datang sendirian. Lima kapal pesisir lain yang masuk bersama rombongan tersebut adalah Taboelan, Bentenan, Betana, Tapatoean dan Tarempa.
Kedatangan keenam kapal direkam dalam film berita Wordende Wereld yang kini tersimpan di Nederlands Instituut voor Beeld & Geluid.
Rekaman berdurasi sekitar satu menit itu memperlihatkan enam kapal memasuki Pelabuhan Tanjung Priok secara beriringan. Sebuah pesawat amfibi Catalina milik dinas penerbangan Angkatan Laut terbang di atas rombongan sebagai bagian dari penyambutan.
Kapal-kapal tersebut kemudian ditambatkan berdampingan di dermaga. Rombongan dipimpin Kapten J.M. van Meerten, yang menjadi nakhoda Taboelan.
Di antara enam kapal kecil yang baru menyeberangi lautan itu terdapat satu nama dari Pulau Sumbawa: Taliwang.
Baca juga: Gerbang kehormatan di Pelabuhan Ampenan
Mengapa kapal itu bernama Taliwang?
Belum ditemukan dokumen resmi yang menjelaskan secara khusus alasan kapal tersebut diberi nama Taliwang.
Namun, pola penamaan armada itu menunjukkan penggunaan nama-nama geografis dari berbagai wilayah Indonesia. Selain Taliwang, terdapat kapal bernama Tarempa, Tapatoean, Taboelan, Bentenan dan Betana.
Nama-nama tersebut tidak dipilih secara acak. Sebagian besar merujuk pada daerah, pulau atau kawasan pelabuhan yang dikenal dalam jaringan pelayaran antarpulau.
Hubungan nama kapal dengan Taliwang di Sumbawa juga diperkuat oleh posisi wilayah tersebut dalam jaringan transportasi laut pada masa kolonial.
Kajian akademik mengenai sarana transportasi di kawasan Sunda Kecil mencatat Taliwang sebagai salah satu tempat persinggahan kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij atau KPM. Jaringan tersebut menghubungkan Surabaya, Ampenan, Taliwang, Sumbawa Besar, Bima dan sejumlah pelabuhan di wilayah yang kini menjadi Nusa Tenggara Timur.
Artinya, jauh sebelum Kabupaten Sumbawa Barat terbentuk, nama Taliwang telah tercantum dalam jalur pergerakan kapal antarpulau.
Foto-foto koleksi Wereldmuseum Amsterdam juga mencatat kapal KPM Van Heemskerk pernah berada di Teluk Taliwang pada 1920. Dokumentasi tersebut memperkuat bukti bahwa kawasan Taliwang menjadi bagian dari jaringan pelayaran KPM.

Bukan Pelabuhan Poto Tano
Catatan pelayaran lama yang menyebut Taliwang tidak dapat langsung disamakan dengan Pelabuhan Poto Tano.
Poto Tano berada di bagian utara Sumbawa Barat dan menghadap Selat Alas. Sementara sumber-sumber kolonial mengenal Teluk Taliwang dan Teluk Kertasari sebagai kawasan pelayaran tersendiri di pesisir barat Pulau Sumbawa.
Dokumen perjanjian pemerintah kolonial dengan penguasa lokal Sumbawa pada awal abad ke-20 juga mencantumkan Laboeh Balat dan Laboeh Lalar sebagai dua pelabuhan yang berbeda.
Kedua nama tersebut masih dapat dikenali saat ini sebagai Labuhan Balat dan Labuhan Lalar di Kecamatan Taliwang.
Meski demikian, belum ditemukan manifest atau peta dermaga KPM yang cukup terperinci untuk memastikan lokasi persis kapal-kapal KPM menaikkan dan menurunkan barang ketika jadwal pelayarannya mencantumkan nama Taliwang.
Karena itu, hal yang dapat dipastikan adalah Taliwang telah menjadi bagian dari jaringan pelayaran antarpulau. Sementara lokasi dermaga yang digunakan pada setiap periode masih memerlukan penelusuran arsip lebih lanjut.
Bawang dan hasil bumi dari Taliwang
Taliwang pada masa itu bukan sekadar nama dalam peta pelayaran. Wilayah tersebut menjadi bagian dari kawasan produksi pertanian dan perdagangan di Pulau Sumbawa.
Salah satu keterangannya ditemukan dalam Koloniaal Verslag 1921, laporan pemerintah kolonial mengenai kondisi ekonomi tahun 1920.
Dokumen tersebut mencatat panen bawang di Afdeeling Sumbawa mengalami kegagalan akibat hujan berlebihan.
Laporan itu kemudian menyebut:
“Taliwang en Soembawa konden nagenoeg niets uitvoeren.”
Kalimat tersebut berarti Taliwang dan Sumbawa hampir tidak dapat melakukan ekspor. Konteksnya adalah kegagalan panen bawang yang membuat pasokan komoditas untuk dikirim keluar daerah menurun drastis.
Keterangan itu menunjukkan hasil pertanian dari Taliwang telah masuk dalam arus perdagangan antardaerah. Komoditas yang disebut secara jelas dalam laporan tersebut adalah bawang.
Catatan lain mengenai Pulau Sumbawa pada dekade 1920-an juga menyebut perdagangan kacang hijau, kuda dan kerbau. Namun, data tersebut merupakan catatan untuk Pulau Sumbawa secara umum sehingga tidak dapat langsung disimpulkan seluruhnya dikirim melalui pelabuhan di Taliwang.
Yang dapat ditarik dari berbagai dokumen tersebut adalah adanya pola pergerakan hasil produksi dari pedalaman menuju pesisir, kemudian diangkut menggunakan kapal menuju pasar yang lebih besar.
Kapal pengumpul kopra di Indonesia timur
Setelah tiba di Indonesia, kapal Taliwang ditempatkan di Ambon pada Agustus 1947. Marhisdata mencatat kapal itu digunakan dalam proyek percobaan KPM untuk mengumpulkan kopra.
Fungsinya sesuai dengan karakter kapal pesisir. Taliwang dapat mendatangi pelabuhan kecil, mengambil barang dan hasil bumi, kemudian membawanya ke pusat pengumpulan atau pelabuhan yang lebih besar.
Surat kabar Het Vrije Volk edisi 3 Mei 1947 juga menyebut kapal-kapal pesisir tersebut dikirim ke Indonesia untuk membantu “het verzamelen van copra” atau pengumpulan kopra.
Dokumentasi sejarah kemudian memperlihatkan kapal Taliwang beroperasi di kawasan Maluku. Koleksi Wereldmuseum Amsterdam mencatat keberadaan kapal itu di dekat dermaga Namlea, Pulau Buru, pada Juli 1949.
Foto lain yang disimpan Nationaal Archief memperlihatkan barang dari sebuah kapal kecil dipindahkan menggunakan perahu menuju daratan di Namlea. Keterangan arsip menyebut kapal tersebut diidentifikasi oleh koleksi Tropenmuseum sebagai Taliwang.
Menariknya, puluhan tahun setelah kapal bernama Taliwang digunakan untuk mengumpulkan kopra di Indonesia timur, masyarakat Taliwang di Sumbawa Barat masih memproduksi komoditas serupa.
Pada 7 Juli 2010 Antara foto mendokumentasikan warga mengolah kelapa menjadi kopra di Lingkungan Perjuk, Kelurahan Telaga Bertong, Kecamatan Taliwang.

Kopra yang telah kering saat itu dijual ke Lombok dan Surabaya sebagai bahan baku minyak kelapa.
Tidak ada bukti bahwa kapal Taliwang pernah mengambil kopra langsung dari Taliwang di Sumbawa. Karena itu, keduanya tidak dapat ditempatkan dalam satu rantai perdagangan yang sama.
Namun, keduanya menggambarkan pola ekonomi kepulauan yang serupa: hasil dari daerah produksi dikumpulkan di titik-titik kecil, dibawa menuju pelabuhan, kemudian bergerak ke pusat perdagangan yang lebih besar.
Nama Sumbawa Barat di buritan kapal
Ketika kapal Taliwang diluncurkan di Belanda pada 1946, Kabupaten Sumbawa Barat belum terbentuk. Daerah otonom tersebut baru berdiri pada 2003 setelah dimekarkan dari Kabupaten Sumbawa.
Namun, nama Taliwang telah dikenal jauh sebelumnya.
Ia tercatat sebagai wilayah di bagian barat Pulau Sumbawa, menjadi daerah penghasil komoditas, memiliki sejumlah labuhan, serta masuk dalam jaringan pelayaran antarpulau.
Nama itu kemudian dicat pada sebuah kapal yang dibuat ribuan kilometer dari Sumbawa.
Pada April 1947, Taliwang meninggalkan Rotterdam. Kapal kecil tersebut melintasi Laut Tengah, Terusan Suez, Laut Merah dan Samudra Hindia sebelum memasuki Tanjung Priok pada 2 Juni 1947.
Setelah tiba, kapal menjalankan fungsi yang dirancang untuknya: bergerak dari pulau ke pulau, mendatangi pelabuhan kecil dan membawa hasil bumi menuju jaringan perdagangan yang lebih luas.
Riwayat Marhisdata menyebut Taliwang kemudian mengalami kerusakan ketika pergolakan Republik Maluku Selatan pada 1950. Kapal itu dibawa ke Makassar dan Tanjung Priok untuk diperbaiki.
Pengelolaannya berpindah beberapa kali, termasuk kepada Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-Kapal dan Pelni. Kapal tersebut diperkirakan dibongkar sekitar 1963 setelah lama tidak beroperasi akibat kurangnya perawatan.
Kini, foto tua bertuliskan “TALIWANG – BATAVIA” menjadi jejak bahwa jauh sebelum Sumbawa Barat berdiri sebagai kabupaten, nama ibu kotanya pernah berlayar melintasi samudra. (red.)






