Pulau Satonda ibarat terowongan waktu ke laut purba, di sini harapan digantung di pohon Kalibuda

Pulau Satonda dengan danau kawah asin di bagian tengahnya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Danau ini menjadi tempat tumbuhnya stromatolit yang membantu ilmuwan mempelajari kondisi laut purba. Foto: Istimewa
Pulau Satonda dengan danau kawah asin di bagian tengahnya, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Danau ini menjadi tempat tumbuhnya stromatolit yang membantu ilmuwan mempelajari kondisi laut purba. Foto: Istimewa

kicknews.today – Di tengah Pulau Satonda, Kabupaten Dompu, terdapat danau asin yang membawa ilmuwan seperti melihat kembali kondisi laut purba. Di tepi danau itu, batu dan karang bergelantungan pada ranting pohon Kalibuda sebagai lambang doa dan harapan.

Satonda merupakan pulau gunung api purba di Laut Flores, sebelah utara Pulau Sumbawa dan barat laut Gunung Tambora. Di bagian tengah pulau terdapat danau kawah yang dikenal sebagai Danau Satonda atau Motitoi.

Air danau tersebut asin meskipun kawahnya tidak lagi memiliki hubungan terbuka dengan laut. Terputusnya pertukaran air selama ribuan tahun membuat Danau Satonda memiliki karakter berbeda dibandingkan perairan di sekelilingnya.

Danau Satonda memiliki tingkat salinitas, alkalinitas, pH dan kejenuhan mineral karbonat yang tinggi. Kondisi ekstrem tersebut membuat sebagian besar biota laut tidak dapat hidup di dalamnya.

Namun, lingkungan itu justru memungkinkan stromatolit berkembang. Stromatolit merupakan struktur berlapis menyerupai batuan yang terbentuk melalui aktivitas mikroorganisme, terutama sianobakteri, bersama endapan mineral.

Struktur serupa pernah mendominasi lingkungan laut pada masa Prakambrium, ketika kehidupan di Bumi masih sangat sederhana. Keberadaannya di Satonda membantu ilmuwan mempelajari lingkungan yang menyerupai kondisi lautan pada masa awal perkembangan kehidupan.

Keunikan tersebut diteliti geolog Awang Harun Satyana bersama Nugrahani Pudyo, Heryadi Rachmat, Agus Hendratno, dan Salahuddin Husein. Hasil penelitian mereka dipaparkan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Ahli Geologi Indonesia pada 2009.

Para peneliti menyebut Danau Satonda sebagai laboratorium lapangan penting untuk mempelajari geologi dan evolusi biologis stromatolit.

“Menyelam ke kedalaman danau ini ibarat terowongan waktu ke lautan pada Kurun Pra-Kambrium dan Masa Paleozoikum Bawah,” tulis Awang Harun Satyana dan tim dalam makalah tersebut.

Penelitian itu menjelaskan Satonda awalnya memiliki dua kawah yang saling berhubungan. Kawah tersebut diperkirakan terbentuk akibat aktivitas gunung api sekitar 10.000 tahun lalu.

Pada suatu masa, bagian selatan dinding kawah runtuh hingga membuka hubungan dengan laut. Air laut kemudian masuk ke dalam kawah. Proses tektonik dan pengendapan material vulkanik selanjutnya menutup jalur tersebut sehingga air laut terperangkap.

Stephan Kempe dan Jozef Kazmierczak dalam penelitian yang diterbitkan jurnal Chemical Geology pada 1990 menyebut stromatolit di Satonda mulai tumbuh sekitar 4.000 tahun lalu. Keduanya menilai susunan kimia air dan stromatolit Satonda dapat menjadi model modern untuk mempelajari kondisi laut Prakambrium.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan Danau Satonda telah berubah menjadi asin jauh sebelum Gunung Tambora meletus pada 1815. Letusan Tambora bukan awal terbentuknya danau asin itu, tetapi turut memengaruhi lingkungan di dalamnya.

Abu dan batu apung dari letusan Tambora mengendap di danau, kemudian memengaruhi proses kimia, biologi dan pembentukan sedimen. Jejak material vulkanik tersebut masih tersimpan di lapisan dasar danau.

Di balik penjelasan ilmiah itu, masyarakat sekitar memiliki cara tersendiri dalam memaknai Satonda. Di tepi danau tumbuh pohon yang dikenal sebagai Kalibuda atau Pohon Harapan.

Ranting-rantingnya dipenuhi batu, karang dan berbagai benda kecil yang diikat menggunakan tali. Benda tersebut menjadi lambang doa atau cita-cita orang yang menggantungkannya.

Dalam kepercayaan yang berkembang, orang yang datang dapat mengikat batu sambil menyampaikan harapan. Apabila keinginannya terkabul, orang tersebut dipercaya perlu kembali untuk mengungkapkan rasa syukur.

Keberadaan pohon keramat di Satonda turut tercatat dalam kajian Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali mengenai sejarah dan mitologi Gunung Tambora di tengah masyarakat Dompu. Pohon itu dipercaya menjadi tempat masyarakat menitipkan harapan untuk meraih cita-cita.

Masyarakat juga mewariskan legenda mengenai asal-usul danau asin Satonda. Salah satu cerita mengisahkan seorang Raja Tambora yang pergi mencari pasangan hidup.

Dalam perjalanannya, sang raja bertemu seorang perempuan yang ingin dinikahinya. Perempuan tersebut kemudian mengenalinya sebagai putranya yang telah lama hilang. Pertemuan itu berakhir dengan penyesalan dan bencana.

Salah satu versi legenda menyebut air asin Danau Satonda berasal dari air mata penyesalan. Versi lain menghubungkannya dengan gelombang besar yang mengguncang pulau.

Legenda itu menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat dalam memaknai bentang alam sekaligus menyampaikan pesan mengenai keluarga, pengendalian emosi dan akibat dari tindakan manusia.

Satonda akhirnya mempertemukan dua cara membaca alam dalam satu pulau. Ilmu pengetahuan melihat danaunya sebagai laboratorium untuk mempelajari kehidupan purba, sedangkan masyarakat menjadikannya tempat menitipkan doa dan harapan pada batu-batu yang digantung di pohon Kalibuda. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI