Ribuan gempa susulan NTT mengingatkan Lombok 2018, saat tanah berguncang berbulan-bulan

Warga melaksanakan salat di dekat tenda pengungsian saat rangkaian gempa Lombok 2018. Gempa susulan yang terus terjadi membuat banyak warga bertahan di ruang terbuka selama berhari-hari. Foto: Arsip kicknews.today
Warga melaksanakan salat di dekat tenda pengungsian saat rangkaian gempa Lombok 2018. Gempa susulan yang terus terjadi membuat banyak warga bertahan di ruang terbuka selama berhari-hari. Foto: Arsip kicknews.today

kicknews.today – Lima hari setelah gempa besar bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), bumi di kawasan Flores belum benar-benar diam.

Hingga Selasa malam (18/8/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 2.403 gempa susulan. Magnitudonya bervariasi antara M1,3 hingga M6,2. Sebanyak 72 gempa di antaranya dirasakan masyarakat.

Rentetan guncangan itu membawa ingatan ke arah barat, ke Pulau Lombok.

Delapan tahun lalu, masyarakat Lombok juga melewati hari-hari ketika gempa bukan lagi sebuah peristiwa yang datang sekali lalu selesai. Tanah berguncang berulang kali. Banyak warga memilih bertahan di luar rumah karena gempa susulan terus terjadi dan rasa aman belum kembali.

Gempa M7,0 pada 5 Agustus 2018 memang menjadi salah satu titik paling kelam dalam rangkaian tersebut. Namun sejarah gempa Lombok tahun itu tidak dimulai dan tidak berakhir pada tanggal tersebut.

Penelitian Prof. Didi S. Agustawijaya dari Universitas Mataram bersama Rian M. Taruna dan Ausa R. Agustawijaya mencatat bahwa Lombok mengalami serangkaian gempa di bagian utara pulau sepanjang Juli hingga September 2018.

Dalam penelitian berjudul An Update to Seismic Hazard Levels and PSHA for Lombok and Surrounding Islands After Earthquakes in 2018, mereka menyebut gempa terbesar dalam rangkaian tersebut terjadi pada 5 Agustus 2018 dengan magnitudo Mw7,0.

Artinya, bagi masyarakat Lombok ketika itu, gempa bukan cerita beberapa detik. Ia menjadi pengalaman panjang yang berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Hanya empat hari setelah gempa M7,0 pada 5 Agustus, BMKG telah mencatat 362 gempa susulan hingga 9 Agustus 2018. Sebanyak 18 gempa di antaranya dirasakan masyarakat.

Pada 9 Agustus 2018, gempa M6,2 kembali mengguncang Lombok. BMKG saat itu menyatakan gempa tersebut masih merupakan bagian dari rangkaian gempa sebelumnya.

Catatan ilmiah Prof. Didi dan tim menunjukkan bahwa rangkaian gempa Lombok 2018 berkaitan dengan Flores Thrust, struktur sesar naik di zona busur belakang yang berada di utara Pulau Lombok.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa peristiwa 2018 memberi pemahaman baru terhadap tingkat bahaya kegempaan di Lombok dan pulau-pulau sekitarnya.

Jauh sebelum rangkaian gempa tersebut terjadi, Prof. Didi bersama Heri Sulistiyono dan Ikhwan Elhuda juga telah meneliti karakter kegempaan Pulau Lombok.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2018, mereka menganalisis 309 kejadian gempa periode 1973 hingga 2017. Hasilnya menunjukkan Lombok berada di kawasan dengan aktivitas seismik menengah hingga tinggi, dipengaruhi antara lain oleh zona subduksi di selatan dan sistem back-arc thrust di utara.

Pengalaman panjang itu kini juga menjadi bagian dari literasi kebencanaan yang dikembangkan Prof. Didi.

Dalam buku Gempa di Indonesia: Sejarah, Dampak, dan Mitigasi yang diterbitkan pada 2026, pengalaman gempa masa lalu ditempatkan bukan sekadar sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai bahan memahami sumber gempa, dampaknya terhadap kehidupan manusia, serta pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi.

Kini NTT sedang melewati fasenya sendiri.

Gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026 telah diikuti ribuan gempa susulan hanya dalam beberapa hari. BMKG mencatat aktivitas susulan terus berlangsung dengan kekuatan yang bervariasi.

Bagi masyarakat terdampak, keadaan seperti itu berarti bencana tidak selalu selesai ketika gempa utama berhenti.

Ada bangunan yang belum aman untuk dimasuki. Ada kekhawatiran setiap kali getaran kembali terasa. Ada pula ketidakpastian tentang kapan rangkaian gempa akan benar-benar mereda.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan struktural sebelum dinyatakan aman. Warga juga diminta terus mengikuti informasi resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang tidak dapat diverifikasi.

Bagi Lombok, pengalaman itu bukan sesuatu yang asing.

Tahun 2018 meninggalkan pelajaran bahwa setelah gempa besar berhenti dalam hitungan detik, dampaknya dapat tinggal jauh lebih lama.

Rangkaian susulan, rumah yang belum aman, malam-malam di ruang terbuka dan kewaspadaan yang berlangsung berminggu-minggu menjadi bagian dari ingatan masyarakat Lombok terhadap bencana tersebut.

Kini, ketika ribuan gempa susulan tercatat di NTT, pengalaman Lombok delapan tahun lalu kembali menemukan relevansinya.

Sebab dalam sebuah rangkaian gempa, yang panjang bukan hanya pergerakan patahannya. Bagi manusia yang mengalaminya, waktu pun seakan ikut berguncang. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI