Malam panjang pengungsi gempa NTT, ingatkan Lombok 2018

Tenda-tenda pengungsi berdiri di sekitar Islamic Center NTB saat rangkaian gempa Lombok pada Agustus 2018. Pemandangan ini kembali teringat ketika warga NTT malam ini menghadapi gempa susulan usai gempa M7,7. Foto: Dokumentasi kicknews.today
Tenda-tenda pengungsi berdiri di sekitar Islamic Center NTB saat rangkaian gempa Lombok pada Agustus 2018. Pemandangan ini kembali teringat ketika warga NTT malam ini menghadapi gempa susulan usai gempa M7,7. Foto: Dokumentasi kicknews.today

kicknews.today – Malam pertama setelah gempa besar selalu terasa berbeda. Meski rumah masih berdiri, tetapi rasa aman belum tentu ikut bertahan.

Itulah situasi yang kini dihadapi ribuan warga di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Sabtu (15/8/2026) pagi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya mencatat sekitar 2.000 warga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri setelah guncangan kuat dan peringatan dini tsunami dikeluarkan. Hingga malam, pendataan pengungsi di berbagai wilayah terdampak masih terus dilakukan seiring penanganan darurat berlangsung.

Malam pun datang, tetapi tanah belum sepenuhnya tenang.

BMKG mencatat 235 gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB, dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan bahkan menunjukkan tren gempa susulan saat itu belum mengalami peluruhan yang signifikan.

Guncangan masih berlanjut hingga malam. Pada pukul 19.14 WIB atau 20.14 WITA, BMKG kembali mencatat gempa M5,1 pada kedalaman 10 kilometer, berlokasi 47 kilometer barat laut Mbay, Nagekeo. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, tetapi BMKG kembali meminta masyarakat berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

Peringatan dini tsunami memang sudah dihentikan sejak pukul 07.30 WIB. Namun BMKG menegaskan berakhirnya ancaman tsunami tidak berarti kewaspadaan selesai.

“Peringatan dini tsunami sudah dinyatakan berakhir, namun gempa susulan masih terus terjadi,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama.

BMKG juga meminta masyarakat tidak memasuki bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan struktur sebelum kondisinya dipastikan aman.

Kondisi inilah yang membuat malam pertama setelah gempa bukan hanya persoalan mencari tempat tidur. Bagi warga di daerah terdampak, keputusan untuk berada di luar rumah juga terkait dengan keselamatan ketika gempa susulan masih datang tanpa waktu yang dapat diketahui.

Pemandangan itu terasa akrab bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Delapan tahun lalu, pada rangkaian gempa Lombok 2018, tenda-tenda darurat tumbuh di halaman rumah, lapangan, tanah kosong hingga ruang-ruang terbuka di Kota Mataram dan sejumlah wilayah Lombok.

Dokumentasi kicknews.today pada Agustus 2018 memperlihatkan tenda-tenda berdiri di sekitar kawasan Islamic Center NTB dan lapangan terbuka. Ada tenda bantuan, terpal yang dirangkai seadanya, hingga tempat tinggal sementara yang dibuat warga untuk melewati malam.

Saat itu, banyak rumah bahkan masih berdiri. Namun gempa susulan yang terus datang membuat sebagian warga memilih tetap berada di luar bangunan.

Bagi masyarakat Lombok yang pernah melewati rangkaian gempa 2018, situasi NTT malam ini membawa ingatan yang sulit dipisahkan dari pengalaman tersebut. Setelah gempa utama, ketidakpastian justru datang dalam bentuk lain: kapan guncangan berikutnya terjadi, apakah rumah masih aman, dan kapan keluarga bisa tidur kembali tanpa bersiap berlari keluar.

Kondisi NTT sekarang tentu tidak dapat disamakan begitu saja dengan Lombok 2018. Skala dampak, wilayah, kondisi bangunan dan penanganannya berbeda. Namun satu kesamaan terlihat jelas: gempa utama telah lewat, sementara gempa susulan membuat masa tanggap darurat belum selesai.

BNPB hingga Sabtu malam mencatat korban meninggal dunia akibat gempa M7,7 telah mencapai 47 orang. Sebanyak 157 rumah tercatat rusak berat, 41 rumah rusak sedang dan 148 rumah rusak ringan. Kerusakan juga ditemukan pada puluhan fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan kantor pemerintahan.

Pemerintah pusat mulai mengerahkan bantuan pangan dan nonpangan, personel SAR, fasilitas kesehatan serta dukungan transportasi menuju wilayah terdampak. BNPB juga meminta pemerintah daerah mengaktifkan posko tanggap darurat agar pendataan korban, pencarian, pertolongan dan penanganan pengungsi dapat dilakukan secara terkoordinasi.

Di tengah proses itu, malam pertama berlangsung dengan satu kepastian yang belum berubah: gempa susulan masih terjadi.

Dan bagi mereka yang pernah melalui Lombok 2018, malam seperti itu bukan sekadar menunggu pagi. Ia adalah malam ketika setiap getaran kecil bisa membuat seseorang kembali berdiri, melihat keluarga di sebelahnya, lalu memastikan jalan keluar masih terbuka. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI