kicknews.today – Sebuah video yang diklaim memperlihatkan warga membakar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lombok Tengah viral di media sosial. Kepolisian memastikan narasi dalam unggahan tersebut tidak benar atau hoaks.
Video berdurasi sekitar 19 detik itu memperlihatkan kepulan asap hitam dari sebuah gedung. Sejumlah orang tampak berteriak dan mengeluarkan barang dari dalam bangunan.

Dalam narasi yang menyertai video, peristiwa tersebut dikaitkan dengan kasus 352 siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG di Kecamatan Batukliang, Jumat (11/9/2026).
Kasi Humas Polres Lombok Tengah Iptu Lalu Brata Kusnadi mengatakan, polisi telah memverifikasi video yang beredar. Hasilnya, peristiwa tersebut dipastikan tidak terjadi di wilayah Lombok Tengah.
“Sehubungan dengan beredarnya video yang ramai dikomentari dan diasumsikan terjadi pascainsiden dugaan keracunan MBG di wilayah Batukliang, kami sampaikan bahwa tayangan video tersebut tidak benar terjadi di wilayah Lombok Tengah dan dinyatakan hoaks,” kata Brata, Minggu (13/9/2026).
Berdasarkan penelusuran terhadap rekaman tersebut, video sebenarnya memperlihatkan unjuk rasa penambang di Kantor Unit Operasional PT Timah Tbk di Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (7/8/2026). Aksi massa berakhir ricuh hingga sebagian bangunan kantor terbakar. Rekaman tersebut kemudian disebarkan kembali dengan narasi berbeda dan dikaitkan dengan kasus MBG di Lombok Tengah.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) NTB Eko Prasetyo juga memastikan tidak pernah terjadi pembakaran dapur MBG oleh warga di Lombok Tengah.
“Itu demo PT Timah di Bangka Belitung. Kebetulan warna bangunannya sama,” kata Eko.
Ketua Satuan Tugas MBG Provinsi NTB Fathul Gani turut meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar melalui media sosial tanpa memeriksa sumber dan kebenarannya.
“Dalam situasi saat ini, mari kita sama-sama menjaga kondusivitas di tengah masyarakat kita,” ujarnya.
Menurut Fathul, kemiripan warna dan bentuk bangunan dalam video diduga dimanfaatkan untuk menghubungkan peristiwa di Belitung Timur dengan SPPG di Lombok Tengah.
Ia meminta masyarakat tidak meneruskan unggahan yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan keresahan di tengah penanganan kasus gangguan kesehatan para siswa.
“Jangan sampai informasi yang tidak benar justru memperkeruh suasana. Mari bersama-sama menjaga ketenangan dan kondusivitas masyarakat,” tegasnya.
Polisi juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati sebelum membagikan konten melalui media sosial. Informasi harus diperiksa melalui sumber resmi agar video dari peristiwa lain tidak disalahgunakan untuk membangun narasi menyesatkan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak menyebarluaskan kembali informasi yang belum terverifikasi, guna mencegah keresahan dan kesimpangsiuran informasi yang dapat mengganggu situasi kamtibmas di wilayah Lombok Tengah,” kata Brata.
Sementara itu, kasus 352 siswa yang mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap MBG tetap ditangani secara terpisah. Polres Lombok Tengah telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan kepala SPPG, kepala dapur serta kepala yayasan pengelola.
Sampel makanan juga telah dikirim untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan tersebut. (red.)






