kicknews.today – Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling, Khaeruddin, menyinggung kebiasaan tidak sarapan dan riwayat penyakit maag ketika menjelaskan gangguan kesehatan yang dialami ratusan siswa setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.
Khaeruddin merupakan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu yang memasok makanan kepada sekolah-sekolah terdampak pada Jumat (11/9/2026).

Menurut Khaeruddin, sebagian siswa diduga belum sarapan dari rumah dan mengandalkan makanan dari program MBG. Dia menilai kondisi perut kosong serta riwayat maag dapat memengaruhi respons tubuh ketika siswa mengonsumsi makanan yang kualitasnya mulai menurun.
“Seharusnya tetap sarapan dari rumah,” kata Khaeruddin.
Pernyataan tersebut merupakan penjelasan pihak pengelola dan belum menjadi kesimpulan medis mengenai penyebab ratusan siswa mengalami mual, muntah, pusing, nyeri perut hingga lemas. Penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Khaeruddin mengklaim proses pengolahan hingga pendistribusian makanan dari dapur SPPG telah dilakukan sesuai standar operasional prosedur. Menu yang disajikan saat kejadian berupa kebab ayam beserta makanan pendamping.
Makanan tersebut, kata dia, mulai dimasak sejak dini hari, dikemas sekitar pukul 04.30 Wita dan didistribusikan ke sekolah mulai pukul 07.00 Wita. Pihak SPPG menetapkan makanan harus dikonsumsi sebelum pukul 09.00 Wita karena menu kebab menggunakan saus mayones yang mudah mengalami penurunan kualitas.
“Terlebih campuran kebab adalah saus mayones,” ujarnya.
Namun, Khaeruddin menduga terdapat sekolah yang terlambat membagikan makanan kepada siswa sehingga waktu konsumsi melewati batas yang ditetapkan.
“Ini lebih kepada persoalan teknis pendistribusian di lapangan yang agak terlambat,” katanya.
Dia juga mempertanyakan dugaan bahwa seluruh keluhan kesehatan bersumber dari proses produksi di dapur SPPG. Menurut Khaeruddin, dapur tersebut melayani sekitar 2.900 penerima manfaat dan tidak seluruhnya mengalami gejala.
“Tetapi jika benar murni keracunan dari dapur, logikanya 2.900 penerima manfaat dari dapurnya semua akan terdampak,” ujarnya.
Meski demikian, hasil pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan karena tidak semua orang yang mengonsumsi makanan dari sumber yang sama harus mengalami gejala serupa. Kondisi kesehatan, jumlah makanan yang dikonsumsi, tingkat kontaminasi dan waktu konsumsi dapat memengaruhi munculnya keluhan.
Data awal Tim Surveilans Dinas Kesehatan mencatat 352 siswa mendatangi fasilitas kesehatan setelah menyantap MBG. Mereka berasal dari SDN 2 Lendang Tampel, SDN Repok Puyung, SDN Beber, MTs Qudwatun Hasanah dan SDN Mertak Kesambik.
Para siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Pringgarata, Aik Darek, Mantang dan Bagu. Tidak ada siswa yang dilaporkan mengalami kondisi berat dan seluruhnya telah diperbolehkan pulang.
Data berdasarkan nama dan alamat penerima kemudian diperbarui menjadi 333 orang. Perbedaan angka tersebut masih menjadi bagian dari proses verifikasi pihak terkait.
Koordinator BGN Regional NTB, Eko Prasetyo, mengatakan operasional SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu dihentikan sementara. Laporan mengenai kejadian tersebut juga telah diteruskan kepada BGN pusat.
“Laporan sudah naik ke pusat, dan SPPG akan diberhentikan sementara,” kata Eko.
Sementara itu, Polres Lombok Tengah telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan meminta keterangan dari kepala SPPG, kepala dapur serta ketua yayasan.
Kapolres Lombok Tengah, Kombes Pol Hariyanto mengatakan, penanganan hukum akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan bukti yang diperoleh selama penyelidikan.
“Tim Inafis sudah ke sana melakukan olah TKP, tinggal menunggu informasinya. Konsekuensi hukum, kita lihat hasilnya dulu,” katanya.
Sampel menu MBG telah dikirim untuk diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa serta menentukan ada atau tidaknya pelanggaran dalam proses pengolahan dan distribusi makanan. (red.)






