MotoGP dorong kebutuhan kendaraan listrik, investasi SPKLU ultra cepat di NTB mulai Rp400 juta

Seorang pengguna mengisi daya mobil listrik di SPKLU PLN Warung Lombok Inti. Penggunaan SPKLU di NTB meningkat seiring bertambahnya kendaraan listrik. Foto: Dok. PLN.
Seorang pengguna mengisi daya mobil listrik di SPKLU PLN Warung Lombok Inti. Penggunaan SPKLU di NTB meningkat seiring bertambahnya kendaraan listrik. Foto: Dok. PLN.

kicknews.today – Pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik dan penyelenggaraan MotoGP Mandalika membuka kebutuhan baru terhadap infrastruktur pengisian daya di Nusa Tenggara Barat. Peluang investasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tidak hanya muncul di Kota Mataram, tetapi juga pada jalur bandara, Mandalika, hotel, serta kawasan wisata lainnya.

Kebutuhan tersebut semakin relevan menjelang MotoGP Mandalika yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026. Event internasional itu setiap tahun meningkatkan mobilitas orang dan kendaraan menuju kawasan selatan Lombok.

MotoGP juga pernah menjadi ruang penggunaan kendaraan listrik secara langsung. Pada penyelenggaraan 2023, PLN menyediakan lima SPKLU di kawasan Mandalika untuk melayani kendaraan operasional selama event.

Perkembangannya kini tidak lagi terbatas pada kebutuhan penyelenggaraan MotoGP. Berdasarkan data PLN yang dipublikasikan pada Juni 2026, jumlah SPKLU di Pulau Lombok dan Sumbawa telah mencapai 51 unit, bertambah dari 38 unit pada 2025.

Pada periode yang sama, konsumsi daya melalui SPKLU di NTB meningkat dari sekitar 4.000 kWh menjadi 32.000 kWh atau melonjak delapan kali lipat. Lebih dari 500 kendaraan listrik disebut telah aktif memanfaatkan fasilitas pengisian umum di daerah ini.

“Jadi luar biasa kenaikannya ya sejak setahun terakhir dari 2025 ke 2026,” kata General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB Sri Heny Purwanti di Mataram, 12 Juni 2026 lalu.

Jumlah SPKLU yang bertambah sekitar 34 persen dalam setahun belum sebanding dengan lonjakan konsumsi listrik yang mencapai delapan kali lipat. Perbedaan laju pertumbuhan itu menunjukkan pemanfaatan fasilitas pengisian daya meningkat jauh lebih cepat dibandingkan penambahan infrastrukturnya.

PLN menyebut SPKLU telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di NTB. Seluruh lokasi juga terintegrasi dalam PLN Mobile sehingga pengguna dapat mencari fasilitas terdekat dan melihat antrean kendaraan secara waktu nyata.

“Masyarakat yang ingin bepergian ke Kabupaten Lombok Timur, misalnya, nanti langsung terlihat lokasi SPKLU, begitu juga berapa jumlah kendaraan yang mengantre. Jadi petunjuknya sedetail itu,” ujar Sri Heny.

Meski telah tersebar di seluruh kabupaten dan kota, kebutuhan pengembangan berikutnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah SPKLU. Lokasi, kapasitas mesin, kecepatan pengisian, serta kedekatannya dengan jalur perjalanan menjadi faktor penting bagi pengguna kendaraan listrik.

Kebutuhan itu terlihat pada koridor utama Pulau Lombok, mulai dari Pelabuhan Lembar, Kota Mataram, Senggigi, Bangsal, Bandara Internasional Lombok hingga kawasan Mandalika. Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, tempat penyewaan kendaraan, dan destinasi wisata berpotensi menjadi lokasi baru pengisian daya.

Penyelenggaraan MotoGP dapat mempercepat kebutuhan tersebut karena kendaraan operasional, tamu, wisatawan, dan penyedia jasa transportasi bergerak dalam waktu bersamaan. Infrastruktur yang dibangun untuk melayani periode event selanjutnya dapat digunakan masyarakat dan wisatawan sepanjang tahun.

Peluang investasi juga terbuka karena PLN menyediakan skema kemitraan pembangunan SPKLU bagi badan usaha maupun pemilik lokasi. Melalui skema tersebut, mitra dapat menyediakan lahan dan investasi mesin, sementara layanan pengisian terhubung dengan ekosistem PLN.

Portal kemitraan PLN mensyaratkan calon mitra memiliki lahan minimal 6 x 7 meter, menyediakan modal investasi, dan memenuhi persyaratan administrasi. Nilai investasinya bergantung pada kapasitas serta teknologi pengisian yang dipilih.

Untuk mesin ultra fast charging, PLN memperkirakan kebutuhan investasi sekitar Rp400 juta hingga Rp500 juta. Jenis ini mampu melakukan pengisian lebih cepat dibandingkan mesin standar dan lebih sesuai ditempatkan pada jalur perjalanan dengan tingkat mobilitas tinggi.

“Untuk mesin ultra fast charging itu butuh sekitar Rp400 juta sampai Rp500 juta. Jadi tergantung lokasi mana yang mau dibangun. Ini jelas bisnis yang menguntungkan ke depan,” kata Sri Heny.

Terdapat empat kategori pengisian yang digunakan pada SPKLU. Standard charging berkapasitas 2–7 kilowatt membutuhkan waktu sekitar 8–12 jam, sedangkan medium charging berkapasitas 7–22 kilowatt memerlukan waktu 3–5 jam.

Sementara fast charging berkapasitas 22–30 kilowatt membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Adapun ultra fast charging berkapasitas di atas 30 hingga 60 kilowatt dapat mengisi daya kendaraan dalam waktu sekitar 15–30 menit.

PLN menetapkan rasio ideal satu SPKLU untuk setiap 10 kendaraan listrik. Rasio tersebut digunakan untuk menjaga kenyamanan pengguna sekaligus mengurangi waktu antrean di ruang publik.

“Kenapa 1:10? Biar menjaga kesabaran orang untuk mengantre. Pola antrean ini pun sudah otomatis diatur rapi di aplikasi PLN Mobile,” ujarnya.

Dengan lebih dari 500 kendaraan listrik dan 51 unit SPKLU, rasio fasilitas pengisian di NTB secara umum mendekati angka ideal tersebut. Namun, sebaran kendaraan dan kebutuhan pengisian tidak selalu merata karena aktivitas masih terkonsentrasi pada pusat kota, jalur wisata, serta lokasi penyelenggaraan event.

Pertumbuhan pemakaian hingga delapan kali lipat memperlihatkan pasar kendaraan listrik di NTB mulai terbentuk. MotoGP Mandalika menjadi momentum untuk memperluas infrastruktur dari fasilitas pendukung event menjadi jaringan permanen yang melayani mobilitas masyarakat dan industri pariwisata.

Peluang investasi SPKLU selanjutnya berada pada kemampuan penyedia layanan memilih lokasi dengan pergerakan kendaraan yang tinggi. Tanpa perlu menunggu seluruh masyarakat beralih ke kendaraan listrik, hotel, kawasan wisata, pusat transportasi, dan jalur menuju Mandalika telah menyediakan pasar awal bagi pengembangan fasilitas pengisian daya. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI