Kajian UGM ungkap paradoks pertanian Pujut: Hujan turun tapi air tak tinggal di lahan

Peta kerentanan fisik kekeringan lahan pertanian di Kecamatan Pujut. Warna merah menunjukkan kelas kerentanan tinggi, kuning sedang, hijau rendah, sedangkan abu-abu merupakan area nonpertanian. (Sumber: Laporan KKL III Fakultas Geografi UGM 2026)
Peta kerentanan fisik kekeringan lahan pertanian di Kecamatan Pujut. Warna merah menunjukkan kelas kerentanan tinggi, kuning sedang, hijau rendah, sedangkan abu-abu merupakan area nonpertanian. (Sumber: Laporan KKL III Fakultas Geografi UGM 2026)

kicknews.today – Hujan yang turun di Kecamatan Pujut tidak selalu menjadi cadangan air bagi pertanian. Pada sebagian kawasan perbukitan karst, air lebih cepat mengalir atau meresap melalui celah batuan, sementara sawah tadah hujan dan tegalan membutuhkan air yang mampu bertahan lebih lama.

Paradoks tersebut terungkap dalam kajian enam mahasiswa Departemen Sains Informasi Geografi, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka memetakan kerentanan fisik kekeringan pada sekitar 13.205 hektare lahan pertanian di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Hasilnya, sekitar 2.532 hektare atau 19,2 persen lahan masuk kelas kerentanan tinggi. Sebanyak 4.867 hektare atau 36,9 persen berada pada kelas sedang, sedangkan 5.806 hektare atau sekitar 44 persen tergolong rendah.

Kajian itu tertuang dalam Laporan Penelitian Kuliah Kerja Lapangan III Kajian Tema Kebencanaan I berjudul “Pemodelan Spasial Kerentanan Fisik Kekeringan Lahan dan Pertanian Menggunakan Evaluasi Multi-Kriteria Berbasis Medan di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah”.

Penelitian disusun oleh Dimas Dwi Rachmat Susilo, Reighina Sabila Djayustika, Firsta Kumalaningrum, Muhammad Alif Abrar, Ilkarizia Etro Candra Gabesya, dan Aninda Widi Pangastuti.

Mereka dibimbing Dr. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc. dan Drs. Sudaryatno, M.Si. Rangkaian penelitian berlangsung pada 17 Februari hingga 17 Juli 2026, dengan pengambilan data lapangan dilakukan pada 29 Juni–3 Juli 2026.

Musim Sama, Kondisi Lahan Berbeda

Untuk mengetahui tingkat kerentanan, tim peneliti memadukan enam unsur fisik lahan, yakni kemiringan lereng, penggunaan lahan, permeabilitas batuan, bentuk lahan, drainase permukaan, dan kemampuan tanah menyimpan air.

Pembobotannya dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), berdasarkan penilaian pakar dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pertanian. Hasil pemetaan kemudian diperiksa melalui pengamatan lapangan pada 15 titik.

Peta yang dihasilkan memperlihatkan bahwa wilayah dalam satu kecamatan dapat menghadapi tingkat kerentanan berbeda meskipun mengalami musim yang sama.

Wilayah utara Pujut cenderung berada dalam kelas rendah. Kerentanan tinggi lebih banyak terkonsentrasi di bagian tengah, sedangkan wilayah selatan cenderung berada pada kelas sedang.

Perbedaan itu berkaitan dengan karakter lahannya. Dataran di bagian utara relatif lebih mampu menyerap dan menyimpan air. Sebaliknya, sebagian kawasan tengah berupa perbukitan karst dengan lereng lebih curam dan drainase yang lebih cepat.

Ketika kondisi tersebut bertemu dengan tegalan dan sawah tadah hujan, air yang turun belum tentu dapat bertahan cukup lama untuk menopang tanaman.

Mertak Terluas, Kramejati Menonjol

Desa Mertak memiliki lahan pertanian kelas kerentanan tinggi terluas, yakni sekitar 803 hektare. Namun, bukan berarti seluruh lahan pertanian desa tersebut didominasi kelas tinggi. Mertak juga memiliki sekitar 803 hektare kelas sedang dan 719 hektare kelas rendah.

Sementara itu, Kramejati menonjol dari sisi proporsi. Dari sekitar 893 hektare lahan pertanian yang dipetakan, sekitar 428 hektare atau 47,9 persen masuk kelas kerentanan tinggi.

Wilayah lain dengan luasan kelas tinggi cukup besar adalah Sukadana sekitar 305 hektare, Pengembur 215 hektare, Tumpak 203 hektare, dan Sengkol 175 hektare.

Belum Memotret Kekeringan Aktual

Meski menemukan 2.532 hektare lahan dalam kelas kerentanan tinggi, hasil kajian tersebut tidak berarti seluruh area itu sedang mengalami kekeringan atau pasti mengalami gagal panen.

Peta tersebut menggambarkan potensi kerentanan berdasarkan kondisi fisik lahan. Model penelitian juga belum memasukkan jaringan irigasi, sungai, waduk, embung, jenis tanaman, dan kalender tanam.

Sejumlah parameter yang digunakan masih memiliki akurasi terbatas. Pengamatan lapangan yang dilakukan pada 15 titik juga belum mencakup seluruh variasi bentang lahan pertanian Pujut.

Karena itu, hasil kajian masih bersifat indikatif dan lebih tepat digunakan sebagai penyaringan awal untuk mengenali kawasan yang memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.

Jika dilengkapi dengan data irigasi, sumber air, komoditas, musim tanam, dan pengamatan lapangan yang lebih luas, peta tersebut dapat membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas penanganan kekeringan.

Sebab, bagi pertanian Pujut, persoalannya bukan hanya kapan hujan turun, tetapi juga berapa lama air dapat tinggal dan tersedia bagi tanaman. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI