kicknews.today – Nusa Tenggara Barat (NTB) berada di antara sejumlah sumber gempa aktif dengan karakter berbeda. Guncangan dapat bersumber dari zona megathrust di selatan, sistem Sesar Naik Flores di utara, serta aktivitas sesar lokal pada kerak bumi di sekitar Lombok dan Sumbawa.
Keberadaan berbagai sumber tersebut tidak berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat. Potensi kegempaan digunakan untuk menghitung tingkat bahaya, memperkuat bangunan dan menyiapkan jalur evakuasi karena waktu, lokasi serta kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara tepat.

Aktivitas kegempaan di sekitar NTB masih terus berlangsung. Pada Minggu (21/9/2026), gempa tektonik magnitudo 4,6 mengguncang Lombok. BMKG memastikan gempa yang berpusat di laut tersebut tidak berpotensi tsunami.
Baca juga: Gempa M 4,6 guncang Lombok, BMKG: Tidak berpotensi tsunami
Di sebelah selatan NTB, Lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah lempeng di atasnya melalui zona subduksi Sunda. Bidang kontak antarlempeng ini dikenal sebagai zona megathrust dan dapat menjadi sumber gempa berkekuatan besar.
Apabila pergeseran terjadi di dasar laut dan menyebabkan perubahan bentuk dasar laut secara vertikal, gempa juga berpotensi memicu tsunami. Wilayah yang berhadapan dengan sumber tersebut mencakup pesisir selatan Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu hingga Bima.
Informasi tentang potensi megathrust tidak dapat dimaknai sebagai prediksi waktu kejadian. BMKG sebelumnya telah membantah rumor yang menyebut gempa magnitudo 9 akan terjadi sebelum akhir 2026. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang dapat memastikan waktu, lokasi dan kekuatan gempa secara tepat.
Baca juga: Rumor gempa megathrust M9 sebelum akhir 2026 bikin resah, begini kata BMKG
Ancaman berbeda berada di sebelah utara. Sistem Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Flores membentang di belakang busur kepulauan, melewati perairan utara Bali, Lombok, Sumbawa hingga Flores.
Aktivitas sistem tersebut berkaitan dengan rangkaian gempa Lombok pada Juli hingga September 2018. Pusat gempa ketika itu berkembang dari wilayah utara Lombok menuju bagian timur pulau dan perairan barat Sumbawa.
Letaknya yang relatif dekat dan kedalamannya yang dangkal menyebabkan guncangan terasa kuat di permukaan. Rangkaian gempa itu juga menunjukkan Sesar Naik Flores bukan sumber yang hanya berada pada satu titik, melainkan sistem tektonik yang terdiri atas sejumlah struktur dan segmen.
Ancaman dari sistem tersebut kembali menjadi perhatian ketika gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa dangkal itu dipicu aktivitas Sesar Naik Flores dengan mekanisme sesar naik.
Gempa tersebut memicu tsunami yang terdeteksi di sejumlah lokasi. Di wilayah NTB, kenaikan muka air laut sekitar 0,56 meter tercatat di Sape, Kabupaten Bima. Kondisi itu memperlihatkan dampak gempa di kawasan Nusa Tenggara dapat melintasi batas administrasi provinsi.
BMKG mencatat 15.722 gempa susulan dalam waktu 30 hari setelah gempa utama Flores. Kekuatannya berkisar magnitudo 0,9 hingga 6,2 dan sebanyak 190 kejadian dirasakan masyarakat.
“Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis data gempa terkini, frekuensi gempa susulan harian maupun mingguan menunjukkan pola penurunan dan telah memasuki fase peluruhan,” kata Pelaksana Harian Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, pada 15 September 2026.
Di luar megathrust dan Sesar Naik Flores, potensi gempa juga berkaitan dengan struktur yang lebih lokal. Sesar semacam ini dapat berada di daratan maupun perairan sekitar pulau dan belum seluruhnya dipetakan secara terperinci.
Gempa yang berasal dari sesar lokal umumnya memiliki cakupan sumber lebih kecil dibandingkan zona megathrust. Namun, pusatnya dapat berada dekat permukiman dan pada kedalaman dangkal sehingga tetap berpotensi menghasilkan guncangan merusak.
Aktivitas sesar lokal pernah teridentifikasi saat gempa magnitudo 3,9 mengguncang Lombok Barat pada September 2023. BMKG ketika itu menyebut gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Baca juga: BMKG: Gempa Lombok Barat akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut
Guru Besar Teknik Sipil Universitas Mataram, Prof. Didi Supriyadi Agustawijaya, bersama Heri Sulistiyono dan Ikhwan Elhuda pernah meneliti aktivitas kegempaan Lombok berdasarkan 309 kejadian gempa selama 1973–2017.
Penelitian berjudul Determination of the Seismicity and Peak Ground Acceleration for Lombok Island: An Evaluation on Tectonic Setting menemukan gempa di sekitar Lombok terutama bersumber dari megathrust di selatan dan sistem sesar belakang busur di utara.
Rekonstruksi tektonik dalam penelitian tersebut juga menunjukkan kemungkinan terbentuknya struktur sesar mendatar pada kerak dasar dengan arah timur laut–barat daya. Temuan itu memperlihatkan sumber gempa Lombok tidak hanya terbatas pada laut utara dan selatan.
Setelah rangkaian gempa 2018, Didi bersama Rian Mahendra Taruna dan Ausa Ramadhan Agustawijaya kembali memperbarui kajian bahaya kegempaan Lombok dan pulau-pulau di sekitarnya.
Dalam penelitian An Update to Seismic Hazard Levels and PSHA for Lombok and Surrounding Islands after Earthquakes in 2018, mereka menemukan tingkat bahaya seismik di Lombok dan sekitarnya lebih tinggi dibandingkan perkiraan yang dibuat sebelum gempa 2018.
Kajian tersebut menempatkan Sesar Naik Flores sebagai salah satu sumber dominan dalam kondisi kegempaan Lombok. Namun, zona megathrust di selatan juga tetap memberikan kontribusi terhadap tingkat bahayanya.
Didi bersama sejumlah peneliti juga mengkaji parameter desain bangunan di Kota Mataram menggunakan rekaman gerakan tanah gempa Lombok 2018. Hasilnya menunjukkan percepatan spektral yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan parameter standar kegempaan yang digunakan sebagai pembanding ketika penelitian dilakukan.
Temuan tersebut penting karena tingkat kerusakan tidak hanya ditentukan magnitudo gempa. Jarak terhadap sumber gempa, kedalaman pusat gempa, karakter lapisan tanah dan kualitas konstruksi ikut menentukan kuat atau lemahnya dampak guncangan.
Kajian lain terhadap terowongan pengelak Bendungan Meninting menyimpulkan rangkaian gempa 2018 telah mengubah kondisi serta parameter seismik untuk konstruksi di Pulau Lombok.
Analisis probabilistik dalam penelitian tersebut menghasilkan nilai percepatan tanah puncak pada batuan dasar sekitar 0,6 hingga 0,7 g untuk sebagian besar Lombok. Nilai tertinggi mencapai sekitar 0,75 g di wilayah Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Angka tersebut bukan ramalan kekuatan gempa yang akan terjadi. Parameter itu digunakan dalam bidang teknik untuk memperkirakan besarnya beban guncangan yang perlu mampu ditahan bangunan maupun infrastruktur.
Di Pulau Sumbawa, ancaman gempa juga berasal dari utara dan selatan. Penelitian Catur Budi Santoso bersama Didi Agustawijaya berjudul Seismic Risk for Sumbawa Island Based on Seismicity and Peak Ground Acceleration menempatkan aktivitas kegempaan Sumbawa pada tingkat menengah hingga tinggi karena pulau tersebut diapit dua sumber gempa utama.
Sumber di selatan berkaitan dengan zona subduksi, sedangkan sumber di utara berhubungan dengan Sesar Naik Flores. Potensi guncangan dangkal juga dapat berasal dari aktivitas kerak yang lebih lokal.
Aktivitas gempa di NTB tidak selalu dapat dirasakan masyarakat. Peralatan BMKG juga merekam gempa bermagnitudo kecil yang hanya terdeteksi oleh jaringan seismograf. Pada Oktober 2024, misalnya, BMKG mencatat 550 kejadian gempa di wilayah NTB dan sekitarnya.
Baca juga: BMKG catat 550 kejadian gempa bumi di NTB selama Oktober
Meski sama-sama berada di NTB, tingkat risiko setiap wilayah tidak seragam. Daerah yang dekat dengan sumber gempa dangkal dapat menerima guncangan berbeda dengan kawasan yang lebih jauh. Lapisan tanah lunak juga dapat memperkuat guncangan dibandingkan kawasan berbatuan keras.
Kepadatan penduduk, kualitas bangunan, kondisi fasilitas publik dan kesiapan evakuasi turut menentukan besarnya dampak. Gempa dengan magnitudo sama dapat menimbulkan kerusakan berbeda pada dua daerah karena kondisi tanah dan bangunannya tidak sama.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan pola gempa susulan maupun perhitungan statistik tidak dapat digunakan untuk menentukan waktu kejadian gempa berikutnya.
“Estimasi ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan perkiraan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya,” ujar Wijayanto.
Selain guncangan, masyarakat pesisir NTB perlu memahami tanda alami tsunami. Gempa kuat yang terasa lama menjadi peringatan untuk segera menjauh dari pantai dan menuju tempat lebih tinggi tanpa menunggu informasi lanjutan.
Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG, Rahmat Triyono, mengatakan gelombang tsunami dari sumber gempa yang dekat dengan pantai dapat tiba dalam waktu sangat singkat.
“Sebaik-baiknya peringatan dini adalah kesadaran masyarakat untuk merespons potensi tsunami. Maka, penting untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah pesisir untuk melakukan evakuasi mandiri,” katanya.
Potensi gempa di NTB tidak dapat dihilangkan. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui penerapan standar bangunan tahan gempa, pemeriksaan bangunan lama, pengamanan sekolah dan fasilitas kesehatan, penyediaan jalur evakuasi serta latihan penyelamatan secara berkala.
Pemetaan sumber gempa bukan ramalan bahwa bencana akan segera terjadi. Pemetaan itu menjadi dasar agar pemerintah dan masyarakat memahami bahwa ancaman dapat datang dari megathrust di selatan, Sesar Naik Flores di utara maupun struktur lokal yang lebih dekat dengan permukiman. (red.)






