Pusaran debu besar di Jalan Sriwijaya viral, BMKG: Itu dust devil

Pusaran debu atau dust devil mengangkat debu dan dedaunan di Jalan Sriwijaya, Kota Mataram, Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 13.40 Wita. (Foto: tangkapan layar video warga)
Pusaran debu atau dust devil mengangkat debu dan dedaunan di Jalan Sriwijaya, Kota Mataram, Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 13.40 Wita. (Foto: tangkapan layar video warga)

kicknews.today – Pusaran angin yang mengangkat debu dan dedaunan kering di Jalan Sriwijaya, Kota Mataram, menarik perhatian pengguna jalan. Fenomena yang terekam dalam video tersebut kemudian beredar luas di media sosial.

Pusaran itu terlihat pada Kamis (17/9/2026) sekitar pukul 13.40 Wita. Dalam video berdurasi sekitar 49 detik, kolom debu tampak berputar dan bergerak di sekitar jalan saat kendaraan masih melintas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena tersebut merupakan dust devil atau pusaran debu, bukan puting beliung.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, mengatakan fenomena itu terjadi saat cuaca cerah tanpa tutupan awan.

“Fenomena itu dapat dikategorikan sebagai dust devil yang secara visual terlihat seperti pusaran angin skala kecil yang dapat mengangkat debu, pasir, daun ataupun material kecil ringan,” kata Ari di Mataram, Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan, dust devil terbentuk akibat pemanasan permukaan bumi yang kuat oleh sinar matahari. Panas tersebut membuat udara di dekat permukaan menjadi lebih hangat dan bergerak naik dengan cepat.

Gerakan vertikal udara kemudian menarik debu, pasir, dedaunan, dan material ringan lainnya dari permukaan. Pada saat bersamaan, udara yang lebih dingin dari lapisan atas bergerak menggantikan udara panas yang naik.

“Pada saat yang sama, udara yang lebih dingin dan lebih padat dari lapisan atas mengalir menggantikan udara panas yang naik, menciptakan gerakan siklus aliran udara yang berputar,” jelasnya.

Meski bentuknya menyerupai puting beliung, dust devil terbentuk melalui proses yang berbeda. Pusaran debu biasanya muncul saat cuaca cerah akibat pemanasan permukaan tanah, sedangkan puting beliung berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif atau awan badai.

Fenomena di Jalan Sriwijaya tersebut terjadi pada siang hari ketika permukaan menerima pemanasan matahari cukup kuat. Debu dan dedaunan yang terangkat membuat pusarannya terlihat seperti kolom berwarna kecokelatan.

Pengendara yang menjumpai pusaran serupa perlu menjaga jarak dan mengurangi kecepatan karena debu serta material ringan yang terangkat dapat mengganggu pandangan maupun konsentrasi saat berkendara. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI