kicknews.today – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir pesisir atau rob di 20 wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Peringatan tersebut berlaku sejak 14 September 2026 pukul 04.00 Wita hingga 19 September 2026 pukul 14.00 Wita.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Tri Widiarto mengatakan, potensi banjir rob dipicu oleh pasang maksimum air laut yang beriringan dengan dinamika cuaca maritim di perairan NTB.

“Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di pesisir, bantaran sungai, dan wilayah rendah,” kata Tri dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2026).
Sebanyak 20 wilayah yang berpotensi terdampak tersebar di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Di Pulau Lombok, potensi banjir rob mencakup pesisir Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok.
Sementara di Pulau Sumbawa, wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Sumbawa, Labuhan Badas, Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota.
Berdasarkan prakiraan cuaca maritim BMKG untuk wilayah Lembar, angin diperkirakan bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 5–20 knot. Tinggi gelombang laut berkisar 0,5 hingga 2 meter.
Pasang maksimum di pesisir Lombok diperkirakan mencapai 1,7 meter dan berpotensi terjadi pada pukul 23.00 hingga 04.00 Wita.
Untuk wilayah Sape dan sekitarnya, angin juga diperkirakan bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 5–20 knot. Tinggi gelombang diprediksi berkisar 0,5 hingga 2 meter.
Pasang maksimum di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 1,8 meter pada pukul 22.00 hingga 06.00 Wita.
BMKG meminta masyarakat pesisir, nelayan, pengelola tambak, pelaku wisata bahari, dan pengguna jasa pelabuhan mewaspadai kemungkinan naiknya air laut ke daratan. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan oleh warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan dengan elevasi rendah.
“Masyarakat perlu mengantisipasi dampak pasang air laut maksimum, termasuk kemungkinan banjir rob,” ujar Tri.
Banjir rob dapat mengganggu aktivitas di sekitar pelabuhan dan pesisir, permukiman warga, kegiatan perikanan darat, serta bongkar muat barang. Besarnya dampak di setiap wilayah dapat berbeda, bergantung pada kondisi pantai, ketinggian daratan, dan sistem drainase setempat. (red.)






