Sampah sungai Mataram melonjak 10 kali lipat saat sungai mengering

Tumpukan sampah memenuhi salah satu kawasan pesisir Kota Mataram. Sampah yang tidak tertangani berpotensi mencemari sungai hingga terbawa ke laut. Foto: Dok. kicknews.today
Tumpukan sampah memenuhi salah satu kawasan pesisir Kota Mataram. Sampah yang tidak tertangani berpotensi mencemari sungai hingga terbawa ke laut. Foto: Dok. kicknews.today

kicknews.today – Volume sampah di sungai dan saluran air Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), diperkirakan melonjak hingga 10 kali lipat selama musim kemarau. Menurunnya debit air membuat sampah lokal terlihat menumpuk dan menyebar di sepanjang aliran sungai.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning mengatakan, sampah yang ditemukan saat sungai mengering bukan berasal dari kiriman wilayah hulu, melainkan didominasi sampah yang dibuang masyarakat setempat.

“Ternyata potensi sampah lokal ini sangat tinggi dan terlihat jelas ketika air sungai sedang kering,” kata Lale, dinukil dari Antara, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, kondisi sungai saat musim kemarau berbeda dengan musim hujan. Ketika debit air meningkat, sampah dari bagian hulu biasanya terbawa arus dan dapat dicegat menggunakan jaring penampung pada beberapa titik.

Sebaliknya, saat debit air menurun, sampah tidak terbawa arus dan menyebar dari kawasan perbatasan Kota Mataram dengan Kabupaten Lombok Barat hingga bagian hilir. Petugas harus menyisir dan mengangkat sampah secara manual dari dasar sungai.

“Namun saat kemarau, sampah harus diangkat secara manual dan merata dari dasar sungai yang mengering,” ujarnya.

Dinas PUPR Kota Mataram mengerahkan sekitar 350 petugas untuk membersihkan empat aliran sungai utama, yakni Sungai Jangkuk, Ancar, Unus dan Kali Ning. Petugas juga menangani sampah yang menumpuk di sejumlah saluran air.

Pembersihan dilakukan secara bertahap setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 Wita. Selain tenaga kebersihan, Dinas PUPR mengoperasikan tujuh unit dump truck untuk mengangkut sampah menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat.

Setiap dump truck mampu mengangkut sekitar empat meter kubik sampah dalam sekali perjalanan. Armada tersebut dapat melakukan dua hingga tiga perjalanan setiap hari, bergantung pada kondisi lapangan dan waktu operasional petugas.

Meski seluruh armada telah dikerahkan, jumlah sampah yang tersebar di sepanjang sungai membuat proses pembersihan tidak dapat diselesaikan sekaligus.

“Petugas di lapangan bekerja secara bertahap setiap harinya mulai pukul 08.00 Wita hingga 16.00 Wita untuk memastikan seluruh saluran air dan sungai di Kota Mataram kembali bersih dan siap menghadapi perubahan musim,” kata Lale.

Pembersihan sungai juga dilakukan sebagai langkah antisipasi menjelang musim hujan. Tumpukan sampah yang tidak segera diangkat dikhawatirkan menyumbat aliran air ketika debit sungai kembali meningkat.

Sampah yang menyumbat sungai dan saluran dapat mengurangi kapasitas aliran serta meningkatkan risiko air meluap ke permukiman. Karena itu, penanganan tidak hanya dilakukan melalui pengangkutan, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah.

Lale mengimbau warga tidak menjadikan sungai dan saluran air sebagai tempat pembuangan. Menurutnya, kebersihan sungai diperlukan agar aliran air dapat berfungsi maksimal, terutama saat memasuki puncak musim hujan.

“Kami berharap masyarakat bisa berpartisipasi tidak membuang sampah ke sungai agar sungai tetap bersih dan berfungsi maksimal saat puncak hujan,” tutupnya. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI