Bahasa Sasak terancam tergeser, DKD KLU dorong revitalisasi dimulai dari sekolah

Kegiatan Revitalisasi dan Sosialisasi Bahasa Ibu di Aula kantor Bupati Lombok Utara. Kamis (17/9/2026). (Foto. kicknews.today/Anggi)
Kegiatan Revitalisasi dan Sosialisasi Bahasa Ibu di Aula kantor Bupati Lombok Utara. Kamis (17/9/2026). (Foto. kicknews.today/Anggi)

kicknews.today – Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendorong revitalisasi dan literasi bahasa ibu sebagai upaya menjaga keberlangsungan bahasa Sasak di tengah semakin kuatnya pergeseran penggunaan bahasa di kalangan generasi muda.

 

Ketua DKD Lombok Utara, Kamardi mengatakan, program tersebut berangkat dari keresahan masyarakat, khususnya para orang tua dan guru, yang melihat semakin jauhnya anak-anak dari warisan bahasa leluhur.

 

Menurutnya, perubahan penggunaan bahasa paling terlihat pada generasi muda yang kini semakin jarang menggunakan bahasa Sasak, termasuk ragam bahasa Sasak halus yang dahulu menjadi bagian dari etika komunikasi kepada orang tua maupun guru.

 

“Kita menjawab keresahan dan kegelisahan masyarakat, orang-orang tua, termasuk guru-guru. Kondisi saat ini anak-anak kita sudah jauh dari standar warisan leluhur tentang berbahasa,” kata Kamardi, Kamis (17/9/2026).

 

Dia mengatakan, sosialisasi revitalisasi literasi bahasa ibu untuk tahap awal diarahkan melalui jalur pendidikan formal. Para guru dan pemangku sekolah dilibatkan untuk mencari strategi agar nilai-nilai kebahasaan dan kesantunan yang mulai ditinggalkan dapat kembali dikenalkan kepada peserta didik.

 

“Paling tidak kita mulai merevitalisasi nilai-nilai itu di sekolah. Sasaran berikutnya tentu orang tua,” ujarnya.

 

Kamardi menilai sekolah menjadi pintu masuk yang strategis karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam lingkungan pendidikan, mulai dari jenjang TK, SD hingga SMP.

 

Dia mencontohkan, penggunaan bahasa Sasak halus dalam kehidupan sehari-hari kini semakin jarang terdengar. Sejumlah ungkapan atau bentuk sapaan kepada orang yang lebih tua yang dahulu lazim digunakan juga mulai hilang dari percakapan generasi muda.

 

“Tujuan kita adalah memulihkan kembali, memungut bahasa-bahasa yang hilang itu. Kemudian nanti bisa diarahkan menjadi materi muatan lokal. Intinya adalah pelestarian,” jelasnya.

 

Kamardi berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kesadaran para guru dan orang tua untuk kembali mengajarkan bahasa daerah sekaligus nilai-nilai yang melekat di dalamnya.

 

Menurutnya, pelestarian bahasa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi, tetapi juga menjadi pintu untuk mengajarkan kesantunan, kepatutan, etika dan sopan santun kepada generasi muda.

 

Sementara, Akademisi Linguistik Antropologi, Dr. Suliadi mengatakan, fenomena pergeseran penggunaan bahasa Sasak saat ini cukup terlihat, termasuk pada dialek Sasak Lombok Utara.

 

Dia menjelaskan, bahasa daerah dapat berada dalam kondisi aman maupun terancam punah. Dalam konteks bahasa Sasak, menurutnya, kondisi saat ini menunjukkan adanya ancaman terhadap keberlangsungan penggunaannya.

 

“Bahasa Sasak ini sudah masuk dalam posisi terancam punah. Fenomena di lapangan menunjukkan banyak orang tua yang sudah tidak mengajarkan bahasa lokal kepada anaknya pada masa pertumbuhan,” kata Suliadi.

 

Sebagian keluarga, lanjutnya, justru lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama anak. Kondisi tersebut menyebabkan proses pewarisan bahasa Sasak dari generasi tua kepada generasi muda semakin berkurang.

 

Karena itu, revitalisasi bahasa Sasak dinilai perlu dilakukan melalui berbagai jalur, salah satunya pendidikan.

 

Suliadi mendorong agar bahasa Sasak kembali mendapatkan ruang dalam pembelajaran muatan lokal, khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

 

“Anak-anak yang tidak memperoleh atau tidak mempelajari bahasa Sasak di lingkungan keluarga dapat mempelajarinya di lingkungan sekolah. Ini berfungsi untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa Sasak,” jelasnya.

 

Namun, menurut Suliadi, revitalisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui sekolah. Penggunaan bahasa Sasak juga perlu dihidupkan dalam ruang-ruang publik dan aktivitas nonformal.

 

Dia mencontohkan pelayanan publik dan fasilitas umum seperti pelabuhan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali bahasa Sasak melalui pengumuman atau informasi, berdampingan dengan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing.

 

Suliadi juga mendorong agar kegiatan revitalisasi bahasa ibu tidak berhenti pada tingkat kabupaten. Menurutnya, desa dan dusun justru menjadi ruang penting karena bahasa daerah hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

 

Kegiatan serupa, kata dia, perlu melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari kepala dusun, tokoh adat, budayawan, sastrawan hingga musisi.

 

“Revitalisasi harus melibatkan semua unsur masyarakat. Musisi juga dilibatkan untuk membuat lagu daerah, kemudian sastrawan dan tokoh adat. Kalau perlu kegiatan seperti ini dilaksanakan di desa-desa, bahkan di dusun-dusun dan tempat-tempat adat,” katanya.

 

Pelibatan masyarakat secara luas diharapkan dapat memantik kembali kesadaran keluarga untuk menggunakan dan mengajarkan bahasa Sasak kepada anak-anak di lingkungan rumah.

 

Sementara kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, Suliadi mendorong adanya kebijakan khusus mengenai pembinaan dan pengembangan bahasa daerah.

 

Dia mengusulkan pemerintah daerah menyusun regulasi sekaligus mendorong Dinas Pendidikan menyusun kurikulum bahasa Sasak yang dapat diterapkan dalam pendidikan di Lombok Utara.

 

“Pemda seharusnya mendorong Dinas Pendidikan untuk menyusun kurikulum bahasa Sasak Kabupaten Lombok Utara. Dalam kurikulum itulah bagaimana bahasa Sasak bisa dipelajari di lingkungan pendidikan,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Anggi

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI