kicknews.today — Rumah-rumah yang dulu menjadi tempat berlindung kini sebagian besar telah ambruk. Sebagian lainnya tinggal puing dan reruntuhan. Di tengah kondisi itu, ratusan warga Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, harus meninggalkan rumah dan bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian.
Di tempat yang berada persis di dekat pantai Lamba Leda Utara itu, luka akibat gempa terasa begitu nyata. Sebanyak 200 kepala keluarga atau lebih dari 800 jiwa terdampak. Tujuh warga dilaporkan meninggal dunia akibat gempa yang mengguncang wilayah tersebut. Sebagian besar rumah warga ambruk dan rata dengan tanah.

Yang membuat suasana semakin memilukan, bantuan yang diterima warga hingga kini masih sangat terbatas. Dalam keterbatasan itu, mereka harus menghadapi hari-hari penuh kecemasan.
Guncangan gempa masih terjadi. Rasa takut belum benar-benar pergi. Setiap getaran membuat sebagian warga kembali cemas, terlebih bagi mereka yang telah kehilangan tempat tinggal dan orang-orang tercinta.
Namun, di tengah duka tersebut, warga Waso terus berusaha bertahan. Mereka menjaga anak-anak dan keluarga, saling menguatkan, serta menjalani ujian berat itu dengan sabar.
Kondisi tersebut terlihat langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Kota Bima, A. Faruk dan Kasat Pol PP Kota Bima, Erwin Rahadi bersama rombongan yang datang melihat kondisi masyarakat terdampak bencana.
Rombongan disambut tangis haru oleh warga Waso. Suasana seketika menghangat, seolah mereka tengah dipertemukan kembali dengan saudara yang telah lama berpisah.
Di tengah suasana duka akibat gempa, pertemuan itu justru menghadirkan keakraban yang begitu terasa. Ada rasa dekat yang terbangun secara alami, terlebih karena 100 persen warga Waso dalam kesehariannya menggunakan bahasa Bima.
Bahasa yang sama seakan menjadi jembatan yang mempererat pertemuan. Di tengah kesedihan dan kehilangan, keakraban itu menghadirkan kembali rasa persaudaraan yang begitu kuat.
Menurut Kalak BPBD, A Faruk, ada satu wilayah yang kondisinya begitu memprihatinkan. Wilayah itu adalah Dusun Waso.
“Di Dusun Waso, yang berada persis di dekat pantai Lamba Leda Utara, dampak gempa ternyata sangat parah,” kata Faruk menggambarkan kondisi yang ditemukan tim saat berada di lokasi, Kamis (3/9/2026).
Ada hal lain yang membuat kunjungan tersebut terasa berbeda. Warga yang ditemui di Dusun Waso merupakan saudara-saudara dari Bima yang selama ini tinggal di wilayah tersebut.
Melihat kondisi itu, Tim Kota Bima tidak hanya datang membawa bantuan. Mereka juga memilih tinggal dan menghabiskan waktu bersama warga selama sehari. Bantuan yang disalurkan antara lain 3 ton beras, ratusan dus mi instan, terpal, tikar, perabotan, tandon air, obat-obatan, susu formula dan sejumlah kebutuhan lainnya.
Namun, bagi warga yang tengah berada dalam situasi sulit, kehadiran rombongan tersebut bukan semata-mata tentang barang yang dibawa. Ada rasa persaudaraan yang ikut hadir.
Tim Kota Bima menginap bersama warga, berbincang, menghibur dan menikmati kebersamaan dengan masyarakat setempat. Di tengah suasana pengungsian yang penuh duka, kebersamaan itu menjadi ruang kecil bagi warga untuk sejenak melupakan rasa takut dan kesedihan.
Bantuan juga datang dalam bentuk pelayanan kesehatan.
Tim tenaga kesehatan di bawah kendali Ketua PPNI Kota Bima, Erwin Rahadi, turut memberikan pelayanan kesehatan berupa pengobatan massal terhadap warga terdampak terutama pada kelompok rentan. Mulai dari balita, anak-anak, ibu hamil hingga warga lanjut usia.
Sebanyak 20 tenaga kesehatan dilibatkan dalam pelayanan kesehatan selama berada di lokasi.
Kehadiran para tenaga kesehatan menjadi penting, mengingat warga pengungsian tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung, tetapi juga memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terjaga setelah menghadapi bencana dan hidup dalam keterbatasan.
Saudara yang Tidak Boleh Merasa Sendiri
Bencana mungkin telah meruntuhkan rumah-rumah warga Waso, tetapi semangat untuk bertahan tidak boleh ikut runtuh.
Di balik tenda-tenda pengungsian itu ada keluarga yang sedang berusaha bangkit. Ada orang tua yang berusaha menenangkan anak-anaknya. Ada warga lanjut usia yang harus beradaptasi dengan kondisi baru. Ada pula mereka yang masih menyimpan duka setelah kehilangan anggota keluarga.
Karena itu, dukungan dan kepedulian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan.
Semoga kekuatan, kesabaran, kesehatan dan perlindungan senantiasa diberikan kepada seluruh warga Dusun Waso. Semoga hati mereka dikuatkan untuk menjaga anak-anak dan keluarga, serta segera menemukan jalan keluar dari musibah yang sedang mereka hadapi.
Dan yang tidak kalah penting, semoga saudara-saudara yang kini berada di pengungsian tidak pernah merasa sendiri. Sebab mereka adalah bagian dari keluarga besar masyarakat Bima. Kesulitan yang mereka rasakan adalah kesulitan yang patut dirasakan dan dihadapi bersama.
Pada hari yang sama, Kamis (3/9/2026), Tim Kota Bima juga menyalurkan bantuan serupa kepada warga terdampak di Desa Pota dan Riung, Kecamatan Lamba Leda Utara. (jr)






