kicknews.today – Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat telah rampung secara fisik dan diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026. Namun, keberadaan bendungan tersebut hingga kini belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
Ironisnya, warga yang tinggal di sekitar bendungan justru masih menghadapi persoalan kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau.

Kepala Desa Bukittinggi, Ahmad Muttaqin mengatakan, secara fisik Bendungan Meninting memang telah selesai dan telah diresmikan. Namun, manfaat air bendungan belum dapat dirasakan secara maksimal karena jaringan irigasi sebagai infrastruktur pendukung belum terbangun.
“Kalau kita lihat dari kondisi fisik memang bendungannya sudah diresmikan sama Presiden dan 100 persen jadi. Tapi irigasinya belum ada, jadi belum bisa dirasakan oleh masyarakat manfaatnya,” kata Ahmad Muttaqin saat dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, belum tersedianya jaringan irigasi membuat air dari bendungan belum dapat dialirkan secara optimal ke wilayah-wilayah yang membutuhkan.
Jaringan tersebut nantinya diharapkan dapat mengalirkan air ke sejumlah wilayah, baik di sisi timur seperti Lingsar dan Narmada maupun ke wilayah barat seperti Gunungsari dan Batulayar.
“Karena jaringan-jaringan irigasi itu belum terbangun, jadi belum bisa menyuplai air sebagai kebutuhan masyarakat, terutama untuk sawah dan peternakan ikan,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri ketika wilayah NTB memasuki musim kemarau. Di tengah ancaman kekeringan yang melanda sejumlah daerah, masyarakat yang tinggal di sekitar Bendungan Meninting belum dapat memanfaatkan keberadaan sumber air tersebut secara maksimal.
Menurut Ahmad, masyarakat tentu mempertanyakan kondisi tersebut. Sebab, bendungan yang menampung sumber air dalam jumlah besar berada tidak jauh dari permukiman mereka, namun airnya belum dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Nah, itu belum ada sehingga masyarakat yang di bawah merasakan dampak kekeringan itu. Bendungan di atas, tapi warga di bawah belum merasakan manfaat bendungan itu sendiri,” ungkapnya.
Bagi Desa Bukittinggi, manfaat Bendungan Meninting diharapkan tidak hanya dirasakan melalui ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian maupun perikanan. Keberadaan bendungan juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, khususnya di sektor pariwisata.
Ahmad berharap Desa Bukittinggi dapat ikut merasakan dampak ekonomi dari keberadaan bendungan tersebut, terutama jika kawasan bendungan dikembangkan sebagai destinasi wisata.
“Sehingga kami juga di Bukittinggi bisa merasakan dampak dari manfaat bendungan ini, terutama di pariwisatanya,” katanya.
Karena itu, ia berharap pembangunan jaringan pendukung Bendungan Meninting segera dilakukan agar keberadaan bendungan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ahmad juga mengingatkan agar pembangunan jaringan irigasi tidak terlalu lama menunggu. Ia berharap seluruh jaringan dapat terealisasi pada 2027 atau paling lambat 2028.
“Harapannya sesuai ucapan Pak Presiden kemarin agar bisa dirasakan oleh masyarakat, terutama warga Bukittinggi, dan jaringan irigasinya bisa dibangun semua tahun 2027 atau tahun depannya (2028),” pungkas Ahmad Muttaqin. (wii)






