Pantauan satelit, ratusan titik panas muncul di NTB

Peta tingkat kemudahan terbakar di Indonesia yang menunjukkan sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori merah atau sangat mudah terbakar, Kamis (14/8/2026). Foto: Tangkapan layar/BMKG
Peta tingkat kemudahan terbakar di Indonesia yang menunjukkan sebagian besar wilayah NTB berada pada kategori merah atau sangat mudah terbakar, Kamis (14/8/2026). Foto: Tangkapan layar/BMKG

kicknews.today – Sebanyak 139 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan pemantauan satelit pada 13 Agustus 2026. Jumlah tersebut meningkat dalam beberapa hari terakhir ketika sebagian besar wilayah NTB memasuki puncak musim kemarau.

Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) BMKG, Satria Topan Primadi mengatakan berdasarkan data satelit terdeteksi 139 titik panas di wilayah NTB. Keterangan BMKG tersebut dikutip ANTARA, Jumat (14/8/2026).

“Berdasarkan data satelit terdeteksi 139 titik panas di wilayah NTB,” kata Satria.

Jumlah titik panas menunjukkan tren peningkatan sejak awal pekan. BMKG mencatat 22 titik panas pada 10 Agustus, kemudian meningkat menjadi 45 titik pada 11 Agustus, 75 titik pada 12 Agustus dan mencapai 139 titik pada 13 Agustus 2026.

Meski demikian, keberadaan titik panas tidak serta-merta menunjukkan seluruh lokasi tersebut sedang mengalami kebakaran. Hotspot merupakan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan digunakan sebagai salah satu indikator untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi itu menjadi perhatian karena NTB saat ini berada pada periode puncak musim kemarau. BMKG sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah NTB mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Melalui Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan atau SPARTAN, BMKG juga menunjukkan sebagian besar wilayah NTB berada dalam kategori merah tingkat kemudahan terbakar lapisan atas permukaan tanah pada 14 Agustus 2026. Kondisi tersebut menunjukkan permukaan tanah sangat kering dan sangat mudah terbakar.

Ancaman karhutla di NTB juga terlihat dari luas lahan yang sudah terdampak sepanjang tahun ini. Pemerintah Provinsi NTB menyebut berdasarkan data Kementerian Kehutanan periode Januari hingga 20 Juli 2026, luas kebakaran hutan dan lahan di NTB telah mencapai 8.895,43 hektare.

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair mengatakan kesiapsiagaan menghadapi karhutla harus dibangun sebelum kebakaran terjadi.

“Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi, bukan ketika kebakaran sudah berlangsung,” kata Abul Chair saat apel siaga karhutla di Sembalun, Lombok Timur, Kamis (13/8/2026).

Pemprov NTB telah menyiapkan personel, kendaraan operasional, pompa pemadam, alat komunikasi, perlengkapan pemadaman hingga alat pelindung diri sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.

BMKG mengimbau masyarakat menghindari pembakaran terbuka selama periode kemarau, termasuk saat membersihkan lahan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI