Ketika tradisi Mandi Safar menjadi pesona wisata di Gili Trawangan

Masyarakat bersama Tokoh Adat saat akan melakukan ritual Mandi Safar di Gili Trawangan (Foto. kicknews.today/Ist)

kicknews.today – Puncak Gili Festival Mandi Safar 2026 berlangsung meriah di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), pada Rabu (12/08/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) KLU, Sahabudin bersama unsur pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, pelaku pariwisata, serta masyarakat.

Gili Festival Mandi Safar merupakan salah satu agenda unggulan yang masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) . Festival yang mengangkat tradisi masyarakat pesisir Gili tersebut berlangsung selama tiga hari, 10-12 Agustus 2026.

Tradisi Mandi Safar sendiri rutin dilaksanakan setiap Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat sekaligus menjadi momentum doa dan ikhtiar bersama untuk memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa dari berbagai penyakit dan marabahaya.

Dalam sambutannya, Sekda KLU mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam menyukseskan pelaksanaan Gili Festival Mandi Safar 2026.

Menurutnya, festival tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mempertahankan tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat kebersamaan, semangat gotong royong, sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata di Lombok Utara.

“Terima kasih kepada seluruh unsur pemerintah, masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, pelaku pariwisata, hotel, serta berbagai lembaga dan pihak lainnya yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Gili Festival. Ini merupakan gawe kita bersama,” ujar Sahabudin.

Dia berharap dukungan seluruh elemen masyarakat dapat terus dipertahankan sehingga penyelenggaraan festival dapat berlangsung aman, nyaman, tertib, dan bersih.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Perekonomian, Pembangunan, Sosial, dan Kemasyarakatan, Yusron Hadi menilai Gili Festival Mandi Safar telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang memiliki nilai penting bagi pariwisata Lombok Utara.

Menurutnya, pelaksanaan festival juga berlangsung pada momentum yang tepat karena bertepatan dengan tingginya kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke kawasan Gili.

“Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya yang autentik. Ini memberikan kesan tersendiri sekaligus memperkuat karakter pariwisata di kawasan Gili,” ungkap Yusron.

Dia menegaskan, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan destinasi unggulan seperti Senggigi, Kuta Mandalika, Rinjani, dan Sembalun. Kekayaan seni, budaya, dan tradisi masyarakat juga perlu terus diangkat sebagai bagian dari daya tarik wisata.

“Melalui Gili Festival Mandi Safar, wisatawan dapat menyaksikan secara langsung berbagai tradisi, seni, dan pertunjukan budaya masyarakat Gili,” katanya.

Kehadiran festival Mandi Safar ini diharapkan mampu memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal kepada wisatawan Nusantara maupun mancanegara.

“Gili Festival Mandi Safar tidak sekadar menjadi perayaan tradisi tahunan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara budaya lokal dan industri pariwisata. Festival ini sekaligus memperkuat identitas Gili sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI