kicknews.today – Memasuki musim liburan pertengahan tahun mulai berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan ke kawasan wisata di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Meski demikian, pelaku industri pariwisata menilai tren kunjungan tahun ini telah kembali ke pola normal setelah tiga tahun mengalami lonjakan pascapandemi COVID-19.
Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB, Lalu Kusnawan mengatakan Juli 2026 telah memasuki periode high season. Namun, tingkat kunjungan wisatawan tidak dapat dibandingkan dengan capaian pada 2025 yang menjadi puncak kebangkitan pariwisata pascapandemi.

Menurutnya, industri pariwisata telah melewati tiga fase pemulihan yang ia sebut sebagai first kick, second kick, dan third kick. Tahun 2025 menjadi fase ketiga atau puncak kebangkitan, ketika permintaan wisata melonjak sangat tinggi.
“Kalau tahun 2025 itu ibaratnya third kick, bahkan ketika kita tidur pun tamu tetap datang. Nah, tahun 2026 ini kondisinya sudah kembali normal. Di sinilah akan terlihat sejauh mana pelaku industri mampu menjaga kualitas pelayanan selama tiga tahun terakhir,” ujar Kusnawan, Senin (06/07/2026).
Dia menjelaskan, meski musim liburan telah mendorong peningkatan okupansi hotel, kondisi ekonomi global masih menjadi tantangan bagi sektor pariwisata. Ketidakpastian geopolitik, perang di sejumlah wilayah, hingga fluktuasi harga minyak dan nilai tukar mata uang membuat wisatawan lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang selama berlibur.
Menurutnya, pelemahan nilai rupiah sebenarnya berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia bagi wisatawan mancanegara. Namun, situasi global yang belum stabil membuat sebagian wisatawan memilih menekan pengeluaran meskipun tetap melakukan perjalanan.
Selain faktor ekonomi global, Kusnawan mengingatkan bahwa persaingan destinasi wisata di kawasan Asia juga semakin ketat. Sejumlah negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia terus menghadirkan berbagai paket wisata untuk menarik wisatawan internasional.
“Industri pariwisata itu tidak pernah tidur. Negara-negara lain juga terus berbenah. Vietnam sekarang mulai agresif menawarkan paket wisata, Thailand sudah lebih dulu, Malaysia juga terus bergerak. Jadi persaingan destinasi di kawasan Asia semakin kuat,” katanya.
Meski begitu, Kusnawan optimistis tingkat hunian hotel selama Juli tetap tinggi. Dia memperkirakan okupansi hotel di NTB secara umum mampu menembus lebih dari 80 persen, sementara di kawasan Gili Trawangan diprediksi melampaui 90 persen.
“Peningkatan kunjungan wisatawan sudah mulai kita lihat sejak Juni kemarin. Wisatawan asal Eropa masih mendominasi, terutama dari Prancis dan Jerman. Sekarang ini wisatawan dari Timur Tengah juga mulai banyak yang datang, dari Malaysia juga. Karena penerbangan sudah ada yang langsung dari Malaysia ke Lombok.,” tutupnya. (gii/*)




