kicknews.today – Upaya menjaga keberlangsungan bahasa ibu di Kabupaten Lombok Utara (KLU) didorong tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata. Revitalisasi dan literasi bahasa ibu diharapkan berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan KLU, Rusdianto menilai, revitalisasi bahasa ibu memiliki peran penting dalam mempertahankan kearifan lokal yang mulai tergerus dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, perubahan kebiasaan berkomunikasi di lingkungan keluarga menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberadaan bahasa daerah. Ia mengakui, penggunaan bahasa Sasak dalam komunikasi bersama anak di lingkungan keluarganya sendiri sudah mulai berkurang.
“Revitalisasi dan literasi bahasa ibu ini sangat penting, terutama bagaimana kita bisa mewariskan bahasa ibu atau kearifan lokal kepada generasi kita. Karena di tengah masyarakat sudah banyak yang hilang,” kata Rusdianto, Jumat (18/9/2026).
Dia mencontohkan penggunaan bahasa Sasak yang tidak lagi menjadi kebiasaan utama dalam komunikasi di rumah. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat generasi muda semakin asing menggunakan bahasa ibu mereka sendiri.
“Kalau dengan anak saya sendiri di rumah jarang menggunakan bahasa Sasak, lebih banyak bahasa Indonesia. Karena tidak dibiasakan, akhirnya terasa kaku,” ujarnya.
Karena itu, Rusdianto mengapresiasi inisiatif Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Lombok Utara yang menggelar sosialisasi revitalisasi dan literasi bahasa ibu. Kegiatan tersebut dinilai menjadi ruang penting untuk kembali mengenalkan bahasa daerah sekaligus nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Terlebih, kegiatan tersebut melibatkan guru dan budayawan. Rusdianto berharap pengetahuan yang diperoleh dapat diteruskan melalui lingkungan pendidikan, khususnya dalam pembelajaran yang berkaitan dengan budaya dan kearifan lokal.
“Kita harapkan apa yang dihasilkan dalam sosialisasi ini dapat diteruskan dan dipraktikkan di sekolah, terutama saat materi atau pelajaran budaya. Sehingga kearifan lokal dan bahasa ibu yang ada di Kabupaten Lombok Utara tidak hilang,” jelasnya.
Dia menegaskan, pelestarian bahasa ibu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya sekolah, tetapi juga akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, keluarga, serta masyarakat secara luas.
Menurut Rusdianto, bahasa ibu tidak semestinya hanya diperkenalkan dalam kegiatan formal atau seremonial. Penggunaannya perlu dibangun kembali menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap menjadi bahasa penghubung antargenerasi.
“Kita ingin ini tidak hanya menjadi kegiatan yang sifatnya seremonial, tetapi menjadi gerakan kebudayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.
Dia berharap revitalisasi tersebut mampu menghidupkan kembali bahasa ibu yang mulai jarang digunakan, sekaligus menjaga berbagai kebudayaan dan kearifan lokal Lombok Utara agar tetap lestari.
“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, bahasa ibu yang sudah banyak hilang bisa hadir kembali di tengah-tengah masyarakat dan menjadi bahasa antargenerasi, terutama bagi generasi Lombok Utara. Dengan begitu, kebudayaan yang diwariskan sebagai kearifan lokal bisa tetap terpelihara dan lestari,” tutupnya. (gii)






