kicknews.today – Kemarau panjang mulai menggeser jadwal tanam padi di Kota Mataram. Sekitar 125 hektare sawah yang seharusnya memasuki masa tanam Oktober 2026 harus menunggu hingga November karena pasokan air irigasi berkurang.
Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Lalu Johari, mengatakan penundaan tersebut terjadi di tiga kecamatan. Petani baru bisa memulai penanaman ketika ketersediaan air kembali mencukupi.
“Harusnya jadwal tanam Oktober ini, tapi diundur ke November karena debit airnya berkurang,” kata Johari, Rabu (21/10/2026).
Wilayah paling luas yang mengalami penundaan berada di Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, mencapai 93 hektare. Sementara di Kecamatan Ampenan, luas lahan yang terdampak mencapai 26 hektare, terdiri atas 25 hektare di Ampenan Utara dan satu hektare di Ampenan Selatan.
Enam hektare lainnya berada di Kecamatan Cakranegara, tersebar di Kelurahan Sayang-Sayang, Cakra Utara, dan Karang Taliwang. Kekurangan pasokan air membuat petani di wilayah tersebut belum dapat melakukan pengolahan tanah maupun pembibitan sesuai jadwal.
Baca juga: Kapan sebenarnya musim hujan mulai di NTB?
Meski jadwal bergeser, Johari menegaskan kondisi tersebut masih berupa penundaan tanam. Dinas Pertanian belum mencatat adanya areal pertanaman yang mengalami kekeringan. Sawah di wilayah lain yang pasokan irigasinya mencukupi tetap dapat memulai penanaman pada Oktober.
Rencana penanaman pada November pun bergantung pada kondisi air di lapangan. Jika debit irigasi belum memadai, petani masih harus menyesuaikan waktu pengolahan lahan dan penanaman.
Johari tetap optimistis target produksi padi Kota Mataram tahun ini dapat tercapai.
“Kami optimistis target produksi gabah kering giling tahun 2026 sebanyak 25.000 ton bisa tercapai,” katanya.
Penundaan ini menunjukkan perubahan kondisi pertanian Mataram dibandingkan awal Oktober. Pada 2 Oktober lalu, Dinas Pertanian masih menyatakan pasokan air mencukupi dan belum menerima laporan kekurangan air yang mengganggu kegiatan petani.
Saat itu, pemantauan dilakukan melalui petugas lapangan untuk mengetahui kondisi tanaman dan jaringan irigasi. Dinas Pertanian menyatakan penanganan akan disesuaikan dengan kebutuhan apabila mulai ditemukan wilayah yang terdampak kekeringan.
Penyusutan air juga terpantau di sungai-sungai Kota Mataram. Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wartono, pada Senin (19/10/2026), menjelaskan berkurangnya pasokan dari hulu menyebabkan tinggi muka air sungai yang sebelumnya sekitar satu meter turun menjadi sekitar 60–75 sentimeter.
Meski demikian, hingga saat itu BPBD belum menerima laporan sumur warga mengalami kekeringan. Pemenuhan kebutuhan air masyarakat masih relatif terkendali.
Baca juga: 93 persen wilayah di NTB diprediksi baru masuk musim hujan Desember 2026
Sementara itu, awal musim hujan di NTB diprakirakan berlangsung bertahap mulai akhir November hingga Desember 2026. Perbedaan waktu antardaerah membuat pemulihan pasokan air tidak berlangsung serentak.
Bagi petani di 125 hektare sawah Mataram tersebut, kecukupan air irigasi menjadi penentu kapan musim tanam bisa dimulai kembali. (red.)


