Dukung MotoGP berlanjut, AHM minta akses penerbangan ke Lombok dibenahi

Ilustrasi.

kicknews.today – Asosiasi Hotel Mataram (AHM) menilai ajang MotoGP Mandalika layak untuk terus dilanjutkan karena memberikan dampak ekonomi bagi sektor perhotelan sekaligus memperkuat branding pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) di mata dunia.

 

Ketua AHM, Made Adiyasa mengatakan MotoGP bukan sekadar ajang balap internasional, tetapi juga menjadi sarana promosi yang mampu memperkenalkan Lombok dan Indonesia kepada masyarakat global. Karena itu, ia berharap penyelenggaraan MotoGP dapat menjadi agenda rutin untuk setidaknya lima tahun ke depan.

 

“Di Mataram, kami sangat berharap ini akan menjadi agenda tetap MotoGP, minimal untuk lima tahun ke depan. Namun, pelaksanaannya harus terus diperbaiki agar kualitasnya semakin baik,” ujarnya, Rabu (21/10/2026).

 

Dari sisi ekonomi, Made mengungkapkan, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 memberikan dampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel di Kota Mataram. Berdasarkan data anggota AHM, lonjakan kedatangan tamu mulai terlihat pada H-3, dengan tingkat hunian mencapai puncaknya pada H-2, yakni menjelang balapan utama pada 10–11 Oktober 2026.

 

Secara rata-rata, tingkat hunian hotel di Mataram selama periode 9–11 Oktober 2026 mencapai sekitar 80 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal pada Oktober yang umumnya berada di kisaran 50–60 persen.

 

Made menyebutkan, anggota AHM saat ini menaungi sekitar 31–32 hotel dengan kapasitas kurang lebih 2.900 kamar. Sementara itu, total kapasitas kamar hotel di seluruh Kota Mataram diperkirakan mencapai 8.000 kamar.

 

Menurutnya, tingginya tingkat hunian tersebut menjadi bukti bahwa MotoGP turut menggerakkan sektor akomodasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengelola hotel, tetapi juga usaha pendukung, seperti jasa laundry, pemasok bahan makanan dan minuman, serta berbagai rantai pasok yang melayani kebutuhan perhotelan.

 

“Kalau di hotel saja, serapan tenaga kerjanya sekitar 2.000 orang. Belum lagi sektor yang berkaitan dengan hotel. Kalau digabungkan dengan seluruh rantai pasoknya, dampaknya bisa mencapai belasan ribu orang,” jelasnya.

 

Dia menambahkan, penghentian MotoGP berpotensi menghilangkan peluang ekonomi yang selama ini dinikmati pelaku usaha, terutama pada Oktober yang telah menjadi salah satu periode penting bagi industri perhotelan di Mataram.

 

Selain dampak langsung terhadap sektor akomodasi, Made menilai MotoGP memiliki nilai strategis dalam mempromosikan destinasi pariwisata NTB. Ia menyoroti besarnya jangkauan siaran internasional yang disebut mencapai sekitar 700 juta pemirsa di seluruh dunia.

 

Menurutnya, jangkauan tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan Lombok kepada calon wisatawan dari berbagai negara maupun daerah di Indonesia. Namun, potensi itu perlu didukung langkah promosi yang lebih terarah dari pemerintah, termasuk memperluas pasar wisatawan yang belum tergarap secara optimal.

 

Made juga menilai potensi perputaran uang selama MotoGP cukup besar. Sebagai ilustrasi, apabila 157.000 penonton membelanjakan rata-rata Rp5 juta per orang selama kunjungan, potensi pengeluaran mereka secara keseluruhan dapat mencapai Rp785 miliar.

 

Meski demikian, angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi pengeluaran, bukan angka realisasi belanja wisatawan yang telah terverifikasi. Pengeluaran tersebut juga mencakup berbagai kebutuhan selama perjalanan, sehingga tidak seluruhnya menjadi pendapatan sektor perhotelan.

 

Dia berpandangan, kepastian penyelenggaraan MotoGP untuk beberapa tahun ke depan akan membantu pelaku usaha menyusun strategi promosi dan pemasaran lebih awal. Dengan jadwal yang jelas, hotel dapat ikut memasarkan ajang tersebut ke daerah-daerah yang memiliki potensi pasar wisatawan.

 

Made mencontohkan, pada penyelenggaraan tahun ini, sejumlah hotel menerima tamu dari Sulawesi dan Kalimantan. Kondisi itu menunjukkan adanya pasar domestik yang masih bisa dikembangkan, terutama jika akses menuju Lombok semakin mudah.

 

Di balik dampak positif tersebut, Made menyoroti keterbatasan penerbangan yang masih menjadi pekerjaan rumah dalam mendukung mobilitas wisatawan selama MotoGP.

 

Dia mengatakan, sejumlah tamu hotel baru dapat kembali ke daerah asal pada Selasa setelah balapan berakhir karena keterbatasan tiket penerbangan pada Senin. Meski kondisi itu membuat tamu menginap lebih lama dan memberikan keuntungan bagi hotel, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius.

 

Menurutnya, kemudahan akses transportasi merupakan faktor penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan sekaligus meningkatkan minat mereka berkunjung pada penyelenggaraan berikutnya.

 

“Dari sisi hotel memang menjadi keuntungan karena tamu menginap lebih lama. Tetapi, bagi tamu yang akan datang tahun depan, keterbatasan penerbangan ini tentu menjadi catatan dan harus dievaluasi,” katanya.

 

Made menyebutkan, tambahan sekitar 65 penerbangan ekstra telah dioperasikan untuk mendukung mobilitas penonton. Namun, ia menilai kebutuhan penerbangan masih perlu dievaluasi berdasarkan tingkat keterisian dan permintaan penumpang.

 

“Kita harap pemerintah, penyelenggara, dan pihak terkait dapat memperkuat koordinasi dalam meningkatkan konektivitas penerbangan, memperluas promosi destinasi dan memperbaiki kualitas penyelenggaraan.,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Anggi

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI