kicknews.today – Rencana jalur bypass penghubung Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Kayangan mengalami pergeseran di sejumlah titik. Pemerintah Provinsi NTB menargetkan pembebasan lahan proyek dengan perkiraan biaya Rp3,5 triliun tersebut baru dimulai pada 2027, setelah dokumen teknis dan lingkungan selesai.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB, Lalu Kusuma Wijaya, mengatakan penetapan trase atau jalur jalan belum final. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, termasuk keberadaan bangunan yang tidak memungkinkan untuk dipindahkan.
Menurutnya, masyarakat secara umum mendukung rencana pembangunan tersebut dalam konsultasi publik di Lombok Timur. Namun, peta jalur masih perlu disesuaikan sebelum tahapan berikutnya berjalan.
“Masih DED sama Amdal. Insyaallah setelah Desember alias tahun depan bisa pembebasan lahan,” ujar Wijaya di Mataram, Selasa (20/10/2026).
DED merupakan dokumen desain teknis terperinci, sedangkan Amdal memuat kajian dampak lingkungan. Keduanya ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Pemprov juga sedang menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) dan melakukan survei lokasi. Dokumen tersebut menjadi dasar menghitung kebutuhan biaya pembebasan lahan, sebelum dilanjutkan dengan tahapan penilaian atau appraisal.
Baca juga: Stok semen di Lembar stabil, kenapa di pasaran Lombok langka?
Dalam informasi resmi Dinas PUPRPKP NTB mengenai rapat pembahasan DPPT pada 16 Oktober 2026, salah satu bagian yang dibahas adalah Segmen 1 di Kabupaten Lombok Timur sepanjang sekitar 5,30 kilometer.
Kebutuhan lahan untuk segmen tersebut diperkirakan mencapai 68,59 hektare, mencakup 401 bidang tanah di Desa Korleko Selatan, Desa Korleko, dan Desa Anggaraksa.
Rencana trase dinilai memiliki kesesuaian secara indikatif dengan tata ruang wilayah. Angka kebutuhan lahan itu khusus untuk segmen yang dibahas, sementara perencanaan keseluruhan jalur masih berlanjut.
Sebelumnya, konsultasi publik Amdal pada 7 Oktober 2026 melibatkan perwakilan masyarakat dari 28 desa terdampak untuk segmen Ganti di Lombok Tengah menuju Kayangan di Lombok Timur. Sosialisasi dilakukan agar warga memahami rencana pekerjaan dan dampaknya sejak tahap persiapan.
Baca juga: Rp10 miliar digelontorkan untuk hotmix jalan di lima kecamatan Lombok Utara
Dari sisi desain, jalan direncanakan memiliki dua jalur dengan empat lajur serta jalur lambat. Jalur lambat disiapkan sebagai ruang transisi kendaraan dari permukiman sebelum masuk ke jalur cepat.
Perencanaan juga mencakup pemeriksaan kondisi persimpangan dan jembatan. Pemerintah masih menghitung kemungkinan pemanfaatan jembatan yang sudah ada atau kebutuhan pembangunan baru untuk menyesuaikan lebar jalan.
Perkiraan biaya konstruksi Rp3,5 triliun masih dapat berubah mengikuti finalisasi desain dan kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Pemprov NTB menargetkan konektivitas Lembar–Kayangan dapat terwujud pada 2029, meskipun seluruh bagian jalan mungkin belum selesai secara menyeluruh. Pembebasan lahan menjadi salah satu tahapan yang harus dituntaskan untuk mengejar target tersebut. (red.)


