kicknews.today – Festival Pertamina Energizing Indonesia dalam rangkaian MotoGP Mandalika 2026 mencatat transaksi sekitar Rp4,2 miliar. Namun, penjualan yang dibukukan bazar usaha mikro dan kecil (UMK) berada di angka lebih dari Rp800 juta. Porsi terbesar berasal dari penjualan merchandise resmi, sekitar Rp3,4 miliar.
Rincian tersebut disampaikan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara setelah festival berlangsung pada 9–11 Oktober 2026. Sebanyak 30 UMK binaan di wilayah Lombok mengikuti kegiatan di belakang tribun Grandstand A Sirkuit Mandalika.

Jika dihitung dari angka yang dibulatkan tersebut, bagian bazar UMK sekitar 19 persen dari total transaksi festival. Sementara sekitar 81 persen berasal dari merchandise resmi.
Angka Rp4,2 miliar dengan demikian merupakan gabungan dua kelompok penjualan. Untuk melihat hasil yang masuk melalui bazar UMK, angka yang relevan adalah lebih dari Rp800 juta.
Baca juga: MotoGP Mandalika: Jangan samakan rugi perusahaan dengan dampak ekonomi
Meski porsinya lebih kecil, penjualan bazar UMK meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp260 juta. Pertamina menyebut kenaikannya sekitar 207 persen.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk memperluas pasar.
“Ajang Pertamina Grand Prix bukan sekadar tontonan balap kelas dunia, tetapi juga momentum emas bagi UMK Indonesia untuk naik kelas,” kata Ahad dalam keterangannya, dikutip Rabu (14/10/2026).
Namun, omzet penjualan belum menunjukkan keuntungan bersih yang dibawa pulang pedagang. Dari penerimaan tersebut, pelaku usaha masih harus memperhitungkan biaya bahan baku, produksi, tenaga kerja, transportasi, dan kebutuhan operasional masing-masing.
Apabila Rp800 juta dibagi rata kepada 30 peserta, hasilnya sekitar Rp26,7 juta per usaha selama tiga hari. Perhitungan ini hanya menunjukkan rata-rata matematis. Angka itu tidak berarti setiap peserta memperoleh penjualan yang sama.
Rincian transaksi per usaha dan biaya yang dikeluarkan masing-masing peserta belum dipaparkan dalam keterangan tersebut. Karena itu, besarnya keuntungan bersih maupun pemerataan hasil antar-UMK belum dapat dihitung dari total transaksi festival saja.
Baca juga: Pemda KLU tak support booth UMKM di MotoGP 2026, pelaku usaha pilih mandiri
Produk yang ditawarkan peserta mencakup kuliner, kerajinan, kecantikan, perawatan diri, hingga jasa refleksi. Pemilik KabaRBaik Coffee, Didik Wahyudi, menyampaikan bahwa omzet selama tiga hari melampaui harapannya, sekaligus membuka kesempatan mengenalkan produk kepada pembeli dari berbagai negara.
Capaian bazar ini juga memiliki batas cakupan. Penjualan 30 UMK peserta festival belum menggambarkan pendapatan seluruh pedagang lokal yang berjualan selama MotoGP, baik di dalam maupun di luar kawasan sirkuit.
Begitu pula besarnya penjualan merchandise belum menjelaskan seberapa jauh pelaku usaha lokal terlibat dalam produksi dan distribusinya. Pembagian kategori penjualan saja belum cukup untuk menghitung seluruh uang yang bertahan dalam perekonomian Lombok.
Data festival menunjukkan adanya kenaikan omzet bazar UMK. Untuk mengetahui berapa yang benar-benar dinikmati pelaku usaha sebagai keuntungan, masih diperlukan rincian pendapatan dan biaya pada tingkat masing-masing usaha. (red.)






