Semen langka meluas di Lombok, pasokan tersendat di mana dan siapa yang mengambil untung?

Ilustrasi semen
Ilustrasi semen

kicknews.today – Kelangkaan semen di Lombok semakin terasa. Setelah keluhan muncul di Lombok Timur dan Mataram, harga di Lombok Barat juga dilaporkan naik menjadi Rp80 ribu–Rp87 ribu per sak dari sebelumnya sekitar Rp65 ribu.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan Lombok Barat, Lale Widiani, mengatakan keterbatasan pasokan mulai terasa sejak akhir Juli hingga awal Agustus dan semakin parah pada September 2026. Ia telah mengecek kondisi tersebut ke distributor sejumlah merek semen.

Menurut Lale, distributor menyampaikan adanya kendala pasokan bahan bakar untuk produksi. Ia juga menyebut harga di tingkat distributor tetap, sementara kenaikan terjadi di tingkat pengecer.

Kondisi ini menempatkan dua persoalan dalam sorotan: berkurangnya barang yang masuk dan kenaikan harga ketika semen sampai kepada pembeli.

Baca juga: Pasokan semen ke Mataram anjlok 75 persen, harga di Lombok Timur dilaporkan tembus Rp100 ribu per sak

Di Mataram, pemeriksaan Dinas Perdagangan terhadap dua distributor pada 29 September menemukan penurunan pasokan yang tajam. Pengiriman yang biasanya mencapai sekitar 600 ribu sak per bulan tinggal 150 ribu sak, atau turun 75 persen.

Dalam kondisi normal, pasokan diterima melalui empat kapal setiap bulan. Sejak Agustus, pengiriman berkurang menjadi satu kapal.

Harga distributor masih berada pada kisaran Rp61 ribu–Rp67 ribu per sak. Sementara itu, pemeriksaan di toko menemukan harga Rp75 ribu per sak. Petugas tidak menemukan stok yang mengendap di gudang distributor yang diperiksa.

Di Lombok Timur, pedagang sebelumnya melaporkan harga merek tertentu mencapai Rp100 ribu per sak. Namun, harga tersebut tidak berlaku merata. Pemantauan lain mencatat Tiga Roda sekitar Rp95 ribu, sedangkan Bosowa sekitar Rp70 ribu per sak.

Persoalan pasokan juga belum menunjukkan gambaran yang seragam. Ketika distributor mengeluhkan berkurangnya kiriman, pemantauan di Pelabuhan Lembar menunjukkan aktivitas bongkar muat masih berjalan normal.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag NTB, Lalu Afgan Muharor, mengatakan beberapa merek masih tersedia, sementara merek lainnya kosong di sejumlah lokasi. Pemerintah kemudian menelusuri penyaluran semen dari pelabuhan menuju wilayah konsumen.

“Distributor akan kami minta berkoordinasi dan melaporkan secara berkala bagaimana kondisi di lapangan. Kami ingin tahu sebenarnya di mana putusnya mata rantai distribusi ini,” katanya, Selasa (29/9/2026).

Baca juga: Stok semen di Lembar stabil, kenapa di pasaran Lombok langka?

Kepala Disperindag NTB, Lalu Wiranata, menyatakan pihaknya telah bersurat kepada produsen dan berkoordinasi dengan distributor. Menurutnya, hambatan pasokan dari pabrik menjadi persoalan yang ditemukan dalam penelusuran pemerintah.

“Sampai saat ini belum ada spekulan. Semata-mata karena kurang pasokan dari pabrik,” ujar Wiranata, Senin (28/9/2026).

Disperindag juga menyebut kendala pasokan batu bara untuk produksi sebagai salah satu faktor yang sebelumnya memengaruhi pengiriman. NTB masih bergantung pada pasokan semen dari Jawa dan Sulawesi.

Di tengah keterbatasan barang, pengusaha konstruksi meminta pengawasan harga diperketat. Bendahara Gapensi Lombok Barat, Toni Kuswandi, mengkhawatirkan kelangkaan dimanfaatkan untuk menaikkan harga secara berlebihan.

“Intinya kami meminta ke Dinas Perdagangan untuk membuat surat edaran, jangan sampai dengan keadaan semen langka ini dimanfaatkan oknum pengecer menaikkan harga,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Lombok Barat, Moh. Adnan, menyebut hasil pemantauan menemukan harga Bosowa di distributor sekitar Rp59 ribu–Rp60 ribu per sak, sedangkan di sejumlah toko atau pengecer mencapai Rp80 ribu–Rp85 ribu. Pemerintah daerah berencana meminta distributor meratakan penyaluran dan mengingatkan toko agar tidak menimbun barang.

Selisih harga tersebut menjadi alasan untuk memeriksa rantai penjualan lebih jauh. Namun, selisih harga distributor dan pengecer belum dapat langsung dianggap sebagai keuntungan bersih karena masih mencakup biaya angkut, bongkar muat, dan operasional penjualan.

Sejauh keterangan pemerintah yang tersedia, belum ada pihak yang dinyatakan terbukti menahan stok untuk mempermainkan harga. Penelusuran masih diarahkan pada pasokan pabrik, pemerataan distribusi, serta kenaikan harga di tingkat penjualan akhir. (red.)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

–

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI