kicknews.today – Permintaan bantuan air bersih dari sejumlah wilayah di Kabupaten Lombok Timur meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai mengintensifkan distribusi karena puncak kekeringan diperkirakan baru terjadi pada Oktober 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Lombok Timur, Lalu Mulyadi dilansir Antara mengatakan, sekitar 30 tangki air bersih telah disalurkan kepada masyarakat hingga pertengahan September.

“Hingga pertengahan September ini puluhan tangki air bersih telah didistribusikan kepada masyarakat. Sampai dengan saat ini sudah kurang lebih 30 tangki air yang telah disalurkan,” kata Mulyadi, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, permintaan distribusi meningkat seiring berkurangnya sumber air warga akibat musim kemarau. Permohonan bantuan disampaikan melalui pemerintah desa dan kecamatan kepada BPBD.
Permintaan terbanyak sejauh ini berasal dari Kecamatan Jerowaru, terutama Desa Sekaroh dan Desa Seriwe. Dua desa tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayahnya belum terjangkau jaringan air bersih, baik dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).
“Sekarang ini ada dua desa yang menjadi atensi BPBD untuk Kecamatan Jerowaru, yaitu Desa Sekaroh dan Desa Seriwe. Itu yang paling intens,” ujarnya.
Permintaan bantuan juga datang dari Desa Keselet di Kecamatan Montong Gading dan Desa Jeringo di Kecamatan Pringgabaya. Sementara penyaluran untuk Desa Selaparang masih menunggu permohonan resmi dari pemerintah desa atau kecamatan.
“Selama ada permintaan, kami tetap siap memberikan pelayanan,” kata Mulyadi.
BPBD memprioritaskan bantuan bagi permukiman yang tidak memiliki akses terhadap jaringan perpipaan dan masyarakat yang sumber airnya mulai mengering. Distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki sesuai permohonan serta tingkat kebutuhan warga.
Meski permintaan mulai meningkat, BPBD menyebut kondisi kekeringan di Lombok Timur masih berstatus waspada. Perubahan status akan dipertimbangkan apabila dampaknya semakin luas hingga menjangkau kecamatan-kecamatan yang telah dipetakan sebagai wilayah rawan.
“Lombok Timur hingga saat ini belum masuk darurat bencana, masih kategori waspada,” ujarnya.
Mulyadi mengatakan puncak kekeringan di Lombok Timur umumnya berlangsung pada Oktober. Kondisi tahun ini diperkirakan tidak terlalu tinggi dari sisi intensitas, tetapi periode kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang.
“Puncak kekeringan biasanya terjadi pada Oktober,” katanya.
Berdasarkan prediksi cuaca yang menjadi acuan BPBD, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung hingga Desember 2026. Kondisi tersebut membuat pelayanan air bersih perlu disiapkan lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dulu November berakhir, sekarang prediksinya sampai Desember. Namun, intensitasnya tidak terlalu tinggi,” kata Mulyadi.
BPBD akan terus memantau perkembangan sumber air dan permintaan dari desa-desa terdampak. Masyarakat yang mulai kesulitan memperoleh air bersih diminta melaporkannya melalui pemerintah desa atau kecamatan agar penyaluran dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan di lapangan. (red.)






