kicknews.today – Sejumlah wilayah di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih sulit dijangkau pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Camat Lamba Leda Utara, Emil Hardjonit, mengatakan seluruh desa di wilayahnya terdampak gempa. Namun, sekitar 20 persen wilayah hingga kini belum mendapatkan bantuan secara maksimal karena kondisi geografis dan kerusakan infrastruktur.

“Di wilayah kami ada 11 desa, semuanya terdampak,” jelas Emil usai menerima bantuan Pemerintah Kota Bima di Posko Bantuan Desa Dampek, Senin (31/8/2026).
Sejumlah wilayah mengalami kerusakan cukup parah, terutama Desa Satar Padut dan Satar Kampas. Tingkat kerusakan di beberapa titik bahkan diperkirakan mencapai 70 persen.
Di Dusun Ronting, Desa Satar Kampas, sejumlah rumah mengalami kerusakan berat. Jembatan Trans Flores juga sempat rusak sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.
Sementara di Desa Satar Padut, ratusan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kondisi serupa terjadi di Desa Dampek, Compang Deru dan Lamba Keli. Sejumlah warga terpaksa bertahan di tenda karena rumah mereka tidak lagi layak ditempati.
Sejumlah Kampung Masih Sulit Dijangkau
Emil mengatakan, beberapa wilayah masih menjadi perhatian karena akses kendaraan belum sepenuhnya terbuka.
Desa Lencur, misalnya, sempat terisolir akibat kerusakan jembatan. Akses menuju desa tersebut kini kembali terbuka setelah dilakukan perbaikan oleh personel kepolisian dan Brimob.
Namun, beberapa titik di Golo Munga Barat, seperti Kawak dan Mengge, masih sulit dijangkau. Kampung Mengge menjadi salah satu lokasi yang paling menantang karena kendaraan tidak dapat masuk hingga permukiman warga.
“Di Mengge tidak bisa dilewati kendaraan. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari jalan umum dan harus melewati kawasan hutan lindung,” ungkapnya.
Wilayah Lianderuk juga masih membutuhkan perhatian meski sebagian bantuan telah masuk.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 17 ribu jiwa, Emil menyebut sekitar 80 persen wilayah terdampak sudah mendapatkan penanganan. Namun, sekitar 20 persen lainnya masih belum tersentuh bantuan secara maksimal.
Beras dan Terpal Jadi Kebutuhan Mendesak
Kebutuhan utama warga saat ini adalah beras dan terpal untuk tempat tinggal sementara.
“Dua kebutuhan mendesak kami, pertama beras karena itu kebutuhan pokok. Kedua terpal untuk pembuatan tenda,” katanya.
Emil menegaskan bantuan yang datang belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat terdampak.
“Kalau bilang tercukupi, memang tidak akan tercukupi. Kebutuhan masyarakat ini banyak,” ujarnya.
Ia pun berharap dukungan dari berbagai pihak terus mengalir hingga seluruh warga terdampak dapat tertangani.
Tim Kota Bima Siap Sisir Wilayah Sulit
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kota Bima memastikan bantuan logistik dan obat-obatan akan disalurkan secara bertahap, terutama untuk warga yang belum mendapatkan bantuan secara maksimal.
Kalak BPBD Kota Bima, A Faruk, mengatakan pihaknya telah menyiapkan 11 kendaraan untuk mendukung distribusi bantuan. Lima di antaranya merupakan kendaraan off-road dari komunitas Indonesia Off-Road Federation (IOF) yang disiapkan khusus menjangkau wilayah dengan medan sulit.
“Kami sudah siapkan 11 kendaraan. Termasuk lima mobil off-road dari komunitas IOF yang memang dikhususkan untuk menjangkau wilayah tersulit,” kata Faruk.
Menurutnya, penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan hasil koordinasi tim dengan Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara. Distribusi diprioritaskan ke wilayah yang dinilai paling jauh dan belum terjangkau secara maksimal.
Pada Senin (31/8/2026), tim menyalurkan bantuan ke dua desa terjauh yang berada dalam satu jalur.
Selain logistik, bantuan juga mencakup obat-obatan untuk mendukung kebutuhan masyarakat terdampak.
Untuk pelayanan kesehatan lebih lanjut, koordinasi dilakukan bersama Puskesmas Lamba Leda Utara agar kebutuhan medis warga dapat dipetakan dan ditangani sesuai kondisi di lapangan.
Sementara itu, aktivitas pemerintahan di Kecamatan Lamba Leda Utara mulai kembali berjalan pada 31 Agustus 2026 sesuai instruksi pemerintah daerah. Namun, kegiatan belajar mengajar masih terkendala karena banyak bangunan sekolah mengalami kerusakan.
Pemerintah setempat berupaya menyediakan tenda sebagai tempat kegiatan sementara, sembari menunggu kondisi fasilitas pendidikan memungkinkan untuk kembali digunakan.
Emil menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, termasuk Pemerintah Kota Bima yang mengirimkan bantuan logistik dan tenaga medis.
“Atas bantuan dari Pemerintah Kota Bima, baik logistik maupun tenaga medis, kami menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya,” pungkasnya. (jr)






