kicknews.today – Musim kemarau mulai meningkatkan risiko kebakaran di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) KLU mencatat sedikitnya 15 titik kebakaran yang terjadi di lima kecamatan.
Sekretaris Damkar KLU, Erwin Rahadi mengatakan, mayoritas kejadian tersebut merupakan kebakaran lahan yang dipicu kondisi kering selama musim kemarau.

“Yang satu bulan ini ada 15 titik kebakaran. Dominannya itu lahan yang agak kekeringan sekarang ini,” kata Erwin, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, salah satu pemicu kebakaran lahan adalah kebiasaan masyarakat membersihkan kebun atau lahan dengan cara membakar. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan menjelang musim hujan ketika masyarakat mulai mempersiapkan lahan untuk kembali ditanami berbagai jenis tanaman, seperti jagung dan ubi.
Namun, pembakaran lahan di tengah kondisi kering dinilai berisiko karena api dapat dengan mudah merambat dan sulit dikendalikan.
“Kita berharap masyarakat tidak membakar. Karena biasanya mereka menunggu musim hujan, kemudian nanti menanam jagung, ubi dan yang lainnya,” ujarnya.
Erwin menyebut pola kebakaran lahan tersebut cenderung berulang. Berdasarkan analisis kejadian pada tahun-tahun sebelumnya serta dokumen kajian risiko dan rencana kontinjensi kebakaran, wilayah Bayan dan Kayangan menjadi dua kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Yang paling banyak itu di Bayan sama Kayangan. Dari melihat lahannya, kemudian di dokumen kita, kontinjensi untuk risiko kebakaran memang di wilayah Bayan sama Kayangan,” jelasnya.
Karena itu, pihak Damkar KLU menjadikan dua wilayah tersebut sebagai salah satu pekerjaan rumah yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
“Bayan, Kayangan, itulah yang menjadi PR kita ke tahun berikutnya,” katanya.
Upaya pencegahan, lanjut Erwin, sebenarnya telah dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat hingga tingkat desa dan dusun. Pihaknya juga telah mengumpulkan para kepala dusun untuk menyampaikan imbauan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan.
Selain itu, keberadaan Babinsa di tingkat desa dan dusun diharapkan dapat membantu mengingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya pembakaran lahan saat musim kemarau.
Meski sosialisasi telah dilakukan, Damkar mengakui masih ada masyarakat yang tetap melakukan pembakaran dengan berbagai alasan, terutama untuk membersihkan lahan.
Di sisi lain, kesiapan armada pemadam kebakaran untuk menangani kebakaran rumah maupun bangunan dinilai masih mencukupi. Namun, kebutuhan armada pendukung untuk memasok air di wilayah tertentu masih menjadi kendala.
“Kalau untuk kebakaran rumah memang mobil itu cukuplah. Cuma yang di Bayan ini untuk mobil armada supply-nya belum ada,” ungkap Erwin.
Damkar KLU berharap pemerintah daerah dapat menambah armada pada tahun berikutnya. Sedikitnya tiga unit mobil suplai air dibutuhkan untuk memperkuat penanganan kebakaran, ditambah satu unit mobil pemadam atau mobil tembak.
“Yang kita butuhkan untuk mobil supply lagi tiga unit. Kemudian mobil tembak kita butuhkan lagi satu unit karena yang di Kayangan itu memang unitnya lama,” katanya.
Saat ini, Damkar KLU telah memiliki Pos Pemadam di Bayan dan Kayangan. Khusus di Kayangan, dua unit armada ditempatkan untuk mendukung penanganan kebakaran, masing-masing berupa mobil pemadam dan mobil suplai air.
“Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, kami mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan. Sebab, kebakaran yang bermula dari pembakaran kecil dapat dengan cepat meluas ketika kondisi vegetasi dan lahan dalam keadaan kering,” tutupnya. (gii/*)






