Terancam tergerus zaman, MAS inisiasi Kongres Bahasa Sasak

Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan. (Foto. kicknews.today/Anggi)

kicknews.todayKekhawatiran terhadap semakin memudarnya penggunaan bahasa Sasak di kalangan generasi muda mendorong Majelis Adat Sasak bersama sejumlah pemangku kepentingan menginisiasi penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak I di Nusa Tenggara Barat. Kongres tersebut dijadwalkan berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 dengan peserta dari seluruh kabupaten/kota di Pulau Lombok.

Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan mengatakan kongres ini lahir dari keprihatinan atas pergeseran penggunaan bahasa Sasak yang dinilai semakin mengikis identitas budaya masyarakat.

Menurutnya, masyarakat Sasak memang masih menggunakan bahasa daerah, namun banyak kosakata penting yang mulai ditinggalkan sehingga dikhawatirkan tidak lagi dikenal oleh generasi berikutnya.

“Kalau tidak segera dilakukan pembenahan, anak-anak kita akan kehilangan jejak bahasanya sendiri,” ujarnya, Senin (03/08/2026).

Dia mencontohkan banyak istilah dalam bidang pertanian yang dahulu akrab digunakan masyarakat, seperti penyakap, nggaru, mata’, blengseng, nyolasin, hingga nyiwa’, kini sudah tidak dipahami oleh sebagian besar anak muda. Padahal, kosakata tersebut lahir dari kehidupan sosial dan produktivitas masyarakat Sasak.

Tidak hanya di sektor pertanian, pergeseran juga terjadi pada istilah ekonomi dan kehidupan sehari-hari. Kata-kata seperti peken, ngadang, nyorok, nyorokan, hingga nyulang yang berkaitan dengan aktivitas pasar mulai jarang digunakan. Demikian pula sapaan keluarga seperti inaq yang perlahan tergeser oleh istilah lain.

Fenomena serupa juga terlihat pada berbagai istilah budaya, termasuk perlengkapan adat dan busana tradisional. Menurut Sajim, banyak generasi muda lebih mengenal istilah dari luar dibandingkan kosakata asli Sasak yang memiliki makna budaya dan sejarah.

“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi mencerminkan karakter, nilai, tata krama, dan identitas budaya masyarakat Sasak,” katanya.

Melalui kongres tersebut, Majelis Adat Sasak ingin mendorong pendokumentasian kosakata yang mulai hilang sekaligus memperkuat penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu rekomendasi yang akan dibahas adalah penguatan mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok) agar memuat pembelajaran bahasa Sasak secara lebih komprehensif, mulai dari tata bahasa, kosakata hingga penggunaannya di lingkungan pendidikan sejak jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP.

Selain itu, kongres juga akan menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah kabupaten, Pemerintah Provinsi NTB, dan DPRD agar melahirkan regulasi yang mendukung pelestarian bahasa Sasak, termasuk pembagian peran antara Majelis Adat Sasak, Balai Bahasa, pemerintah daerah, dan lembaga legislatif dalam pengembangan bahasa daerah.

“Harapannya, masing-masing lembaga memiliki tugas yang jelas sehingga bahasa Sasak tidak terus tergerus oleh perkembangan zaman maupun oleh masyarakatnya sendiri yang semakin kurang peduli terhadap bahasa daerah,” ujar Sajim.

Dia bahkan menaruh harapan besar agar suatu saat bahasa Sasak semakin dikenal luas hingga memiliki posisi penting di tingkat internasional, sebagaimana bahasa-bahasa lain yang terus dikembangkan oleh masyarakat penuturnya.

Sementara, Kepala Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Arie Anggara Saisab menyatakan pihaknya mendukung penuh pelaksanaan Kongres Bahasa Sasak sebagai bagian dari upaya pelestarian bahasa daerah.

Menurutnya, Badan Bahasa memiliki mandat untuk merevitalisasi bahasa-bahasa daerah, termasuk bahasa Sasak yang menjadi salah satu kekayaan budaya di NTB.

“Kami sangat mendukung penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak sebagai upaya melestarikan bahasa daerah dan memelihara budaya lokal. Harapan kami, bahasa daerah dapat terus lestari, terjaga, dan terpelihara dengan baik,” katanya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

HUT KLU11

OPINI