Kelengkeng Diamond River organik dari Sukadana jadi peluang baru agrowisata KLU

Buah kelengkeng varietas Diamond River yang dibudidayakan secara organik di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, KLU. (Foto. kicknews.today/Ist)

kicknews.today – Buah kelengkeng varietas Diamond River yang dibudidayakan secara organik di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mulai mencuri perhatian pasar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain diminati konsumen dan pedagang buah, kelengkeng lokal tersebut kini juga mulai dilirik untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dinilai memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan dan kesehatan.

Permintaan terhadap kelengkeng organik asal Desa Sukadana terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Namun tingginya permintaan itu belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh Kelompok Tani Lintang Utara lantaran masa panen utama telah berakhir dan saat ini hanya tersisa panen susulan.

Ketua Kelompok Tani Lintang Utara, Saftahandi mengatakan permintaan datang dari berbagai pihak, mulai dari pengelola dapur MBG hingga pelaku usaha buah di Kota Mataram.

“Permintaan tinggi sekarang. Cuma belum bisa kita penuhi karena masa panen sudah lewat. Sekarang buah susulan ini yang terakhir. Ke depan kami fokus meningkatkan produksi agar kebutuhan pasar dan dapur MBG bisa terpenuhi,” ujarnya, Rabu (03/06/2026).

Menurutnya, ketertarikan pasar bermula saat dirinya membawa sampel kelengkeng sebanyak lima kilogram ke Mataram. Ukuran buah yang besar, rasa manis alami, serta kualitas buah yang baik menjadi daya tarik utama kelengkeng tersebut.

“Tanpa perawatan khusus rasanya sudah manis seperti ini. Itu yang membuat mereka tertarik,” katanya.

Kelengkeng yang dibudidayakan warga Sukadana merupakan varietas Diamond River yang dikenal memiliki daging buah tebal, rasa manis, tekstur berair, serta produktivitas tinggi. Selain itu, buah ini memiliki daya simpan cukup baik dan mampu bertahan lebih dari satu minggu setelah dipanen.

Saftahandi menegaskan sebagian besar kelengkeng yang tumbuh di wilayahnya dapat dikategorikan sebagai organik karena tidak menggunakan pupuk maupun bahan kimia sintetis.

“Buah ini tumbuh alami. Tidak pernah diberi pupuk kimia. Hanya memanfaatkan pupuk kandang seperti kotoran kambing atau ayam dalam jumlah terbatas,” jelasnya.

Potensi pengembangan kelengkeng di Desa Sukadana juga dinilai sangat besar. Hampir setiap rumah warga memiliki pohon kelengkeng di pekarangan, bahkan ada keluarga yang menanam lebih dari tiga pohon.

Sementara, anggota Kelompok Tani Lintang Utara, Karman menjelaskan pengembangan kelengkeng di desa tersebut bermula dari program budidaya lebah madu Trigona pada 2021. Saat itu, sekitar 2.000 bibit kelengkeng dibagikan kepada masyarakat sebagai sumber nektar lebah.

“Dari 2.000 pohon yang ditanam, saat ini sekitar 1.400 pohon masih hidup dan berproduksi. Dalam empat tahun terakhir, pohon-pohon tersebut mulai berbuah lebat,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan kelompok tani, potensi produksi kelengkeng di Desa Sukadana mencapai sekitar 30 ton per musim dengan asumsi rata-rata satu pohon menghasilkan 30 kilogram buah. Manfaat ekonomi dari budidaya kelengkeng mulai dirasakan masyarakat. Sejumlah petani bahkan mampu menjual hasil panen secara daring dengan pendapatan berkisar Rp 600 ribu hingga Rp 3 juta per pohon.

“Kami melihat kelengkeng sekarang lebih menjanjikan dibanding madu Trigona. Kalau madu bisa dipanen enam sampai delapan bulan sekali, sedangkan kelengkeng hanya membutuhkan sekitar empat bulan sejak berbunga hingga panen,” kata Karman.

Selain meningkatkan pendapatan warga, kelompok tani juga tengah menyiapkan kawasan kebun kelengkeng seluas dua hektare di pinggir jalan utama sebagai cikal bakal agrowisata. Konsep yang dikembangkan memungkinkan wisatawan memetik buah langsung dari pohon. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI