kicknews.today – Krisis air bersih di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, mulai memaksa pengelola hotel menghentikan sementara penerimaan tamu. Tiga hotel dilaporkan tidak lagi menerima reservasi baru dan mulai mengembalikan pembayaran kepada tamu karena belum dapat memastikan ketersediaan air.
Ketua Gili Hotels Association, Lalu Kusnawan membenarkan, tiga hotel tersebut sedang mempersiapkan penghentian operasional sementara. Hotel hanya melayani tamu yang masih menginap sebagai bentuk tanggung jawab hingga masa tinggal mereka berakhir.

“Tiga hotel tidak beroperasi sementara waktu. Mereka tidak menerima reservasi, sudah melakukan refund dan hanya melayani tamu yang masih ada sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Kusnawan kepada kicknews.today, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar dalam operasional hotel. Tanpa pasokan air, pengelola tidak dapat menjamin pelayanan kamar, toilet, dapur, kebersihan maupun sanitasi bagi wisatawan.
Kusnawan menegaskan air dari jaringan utama belum diterima oleh hotel hingga Selasa, meskipun pemerintah telah memberikan diskresi selama enam bulan agar PT Tiara Cipta Nirwana kembali membuka distribusi air sambil menyelesaikan perizinan.
“Sampai hari ini air belum mengalir sama sekali,” ujarnya.
Baca Juga: Air mati, tamu pergi dari Gili Trawangan, bagaimana NTB bicara pariwisata berkelanjutan?
Ia memperingatkan jumlah hotel yang menghentikan penerimaan reservasi dapat bertambah apabila pasokan belum kembali mengalir hingga Rabu (9/9/2026).
“Kalau sampai besok air belum mengalir, kemungkinan hotel yang menutup operasionalnya akan bertambah signifikan. Persoalan air ini sangat krusial sehingga operasional hotel terpaksa dihentikan sementara,” katanya.
Pemerintah daerah saat ini melakukan distribusi air darurat. Namun, Kusnawan menyebut volume air yang dikirim masih terbatas dan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Menurutnya, pelaku industri pariwisata belum memperoleh solusi pasokan yang cukup untuk mempertahankan operasional hotel dalam kondisi normal.
“Dropping air saat ini hanya beberapa kubik dan prioritasnya untuk masyarakat. Untuk industri belum ada solusi,” jelasnya.
Penghentian operasional hotel juga berpotensi berdampak terhadap tenaga kerja. Apabila krisis berlangsung lebih lama, pengelola dapat kehilangan kemampuan mempertahankan seluruh karyawan tetap bekerja.
“Risikonya kami harus merumahkan karyawan,” tegas Kusnawan.
Baca Juga: Krisis air Gili Trawangan, PT TCN diberi diskresi enam bulan untuk buka kembali keran
Sebelumnya, Pemkab Lombok Utara bersama Pemprov NTB memutuskan memberikan diskresi operasional selama enam bulan kepada PT TCN. Perusahaan diminta kembali mengalirkan air ke Gili Trawangan sembari menyelesaikan persyaratan perizinan dari pemerintah pusat.
Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar mengatakan, pemerintah memilih diskresi karena proses mencari perusahaan penyedia air yang baru membutuhkan waktu, sedangkan masyarakat dan pelaku usaha memerlukan penanganan segera.
Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung juga disiapkan memasok sekitar 60 hingga 70 meter kubik air per hari untuk memenuhi kebutuhan sekitar 600 kepala keluarga. Pasokan darurat tersebut diprioritaskan bagi masyarakat dan kebutuhan dasar.
Namun, informasi yang diterima asosiasi hotel menunjukkan distribusi dari jaringan utama belum sampai kepada pelaku usaha hingga Selasa.
Krisis air bersih di Gili Trawangan telah berlangsung sejak Kamis (3/9/2026). Sebelumnya, sekitar 300 wisatawan dilaporkan memilih meninggalkan penginapan lebih awal, sementara sejumlah hotel menggunakan cadangan air dan mencari pasokan alternatif untuk mempertahankan pelayanan.
Asosiasi hotel berharap distribusi air segera benar-benar mengalir ke pelanggan. Jika tidak, penghentian operasional hotel, pengembalian dana kepada wisatawan dan ancaman terhadap pekerjaan karyawan diperkirakan semakin meluas. (red.)






