Lombok Utara jadi bagian Program Nasional Dapur Gizi untuk daerah terpencil

Kepala BGN Dadan Hindayana (Keja putih) didampingi Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar (tengah) dan Ketua HKTI NTB, Willgo Zainar (kanan) saat memotong pita sebagai tanda peresmian dapur SPPT-SPPG 3T di Desa Genggelang. (Poto. kicknews.today/Anggi)

kicknews.today – Kabupaten Lombok Utara (KLU) kembali menjadi bagian dari pelaksanaan program nasional penguatan gizi masyarakat melalui peluncuran dapur SPPT-SPPG 3T di Desa Genggelang, Kecamatan Bayan. Program tersebut diharapkan mampu menjangkau masyarakat di wilayah terpencil yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pangan bergizi.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan jawaban atas tantangan pertumbuhan penduduk dan masih rendahnya akses masyarakat terhadap makanan bergizi seimbang, khususnya bagi keluarga kurang mampu.

Menurutnya, pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 3 juta jiwa per tahun harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini melalui pemenuhan gizi.

“Banyak anak-anak yang baru minum susu ketika ada program Makan Bergizi Gratis. Oleh sebab itulah kemudian kita lakukan program ini,” ujarnya, Selasa (12/05/2026).

Dadan menjelaskan, dapur SPPG 3T dibangun khusus untuk wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki jumlah penerima manfaat di bawah 1.000 orang. Meski skalanya lebih kecil dibanding dapur di wilayah aglomerasi, keberadaannya dinilai penting untuk memastikan pemerataan layanan gizi nasional.

Dia menyebutkan, hingga saat ini sudah ada sekitar 1.400 dapur SPPG terpencil yang selesai dibangun di berbagai daerah di Indonesia tanpa menggunakan anggaran APBN.

“Berapa pun penerima manfaat di daerah-daerah yang sulit dijangkau lebih dari 30 menit, kita tetap akan dirikan satu SPPG,” katanya.

Selain itu, secara nasional program Makan Bergizi Gratis disebut telah menjangkau 62,1 juta masyarakat Indonesia hanya dalam waktu satu tahun empat bulan pelaksanaan.

Sementara, Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar menegaskan kehadiran dapur SPPG 3T bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah nyata dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan gizi masyarakat.

Menurutnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan pendidikan, tetapi juga asupan gizi yang cukup agar mampu tumbuh sehat dan berkembang optimal.

“Kehadiran dapur SPPG 3T di Lombok Utara memiliki arti yang sangat penting. Program ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan layanan gizi dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan perhatian lebih,” ujarnya.

Najmul menilai program tersebut juga berpotensi memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, sekolah, organisasi masyarakat, hingga keluarga.

Dia berharap dapur SPPG 3T dapat menjadi pusat gerakan bersama dalam membangun kesadaran pentingnya gizi serta pemanfaatan pangan lokal di Lombok Utara.

“Jika anak-anak kita sehat, maka masa depan Lombok Utara juga akan lebih kuat,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB, Willgo Zainar menjelaskan dapur SPPG 3T dibangun untuk wilayah terpencil yang tidak dapat dijangkau dalam waktu kurang dari 30 menit dari pusat layanan terdekat.

Menurutnya, dapur di wilayah terpencil memiliki kapasitas lebih kecil dibanding dapur di kawasan aglomerasi karena jumlah penerima manfaatnya lebih sedikit.

“Ini adalah salah satu bentuk kehadiran negara di daerah-daerah di mana penduduknya sedikit,” ujarnya.

Willgo mengatakan, secara nasional ditargetkan akan dibangun sekitar 9.000 dapur SPPG terpencil di seluruh Indonesia. Hingga kini, sebanyak 1.400 unit telah selesai dibangun.

“Sisanya akan terus dilanjutkan untuk melayani jutaan penerima manfaat di berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” tutupnya. (gii/*)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Kontributor kicknews

Artikel Terkait

OPINI