Mahasiswa sorot proyek geothermal dan aktivitas tambang galian C di Lombok Timur

Mahasiswa IAIH dan Unham saat menggelar aksi simbolik di Selong Lombok Timur.Foto. Ist

kicknews.today – Puluhan Mahasiswa Universitas Hamzanwadi bersama Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor dan elemen mahasiswa lainnya menggelar aksi simbolik di simpang empat Taman Kota Selong pada Kamis sore (5/11/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyuarakan empat persoalan utama, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pendidikan, rencana proyek geothermal Sembalun, serta aktivitas tambang Galian C di kawasan Kali Rumpang.

 

Aksi simbolik tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap berbagai persoalan yang dinilai berdampak langsung terhadap ruang hidup, hak dasar, dan kesejahteraan masyarakat.

 

Presiden Mahasiswa IAIH, Maryadi, mengatakan aksi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa dan pemuda untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.

 

“Sebagai mahasiswa ataupun pemuda, kita harus menyuarakan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Langkah yang diambil teman-teman hari ini merupakan langkah konkret agar tuntutan dan keluhan masyarakat bisa diperhatikan serta didengarkan oleh pemerintah,” ucapnya.

 

Menurutnya, aksi tersebut juga bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dinilai belum mendapatkan perhatian dan penanganan secara maksimal.

 

Dalam aksi tersebut, mahasiswa turut menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan. Mereka menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika kebakaran terjadi, tetapi harus disertai upaya pencegahan, penegakan hukum, dan pemulihan lingkungan.

 

Selain itu, persoalan pendidikan menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian serius. Mahasiswa menilai pendidikan yang layak dan merata merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi oleh negara.

 

Maryadi menegaskan, kebijakan anggaran pendidikan perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama di tengah berbagai persoalan pembiayaan dan pemotongan anggaran yang berdampak pada sektor pendidikan.

 

“Yang dibutuhkan masyarakat hari ini bukan hanya persoalan makan, tetapi bagaimana memberikan pendidikan yang layak sehingga bisa melahirkan nalar kritis dan pemikiran yang mampu memajukan bangsa,” tegasnya.

 

Menurutnya, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta dukungan terhadap peserta didik harus menjadi prioritas dalam pembangunan sumber daya manusia.

 

Sementara, isu geothermal Sembalun menjadi salah satu tuntutan utama yang disuarakan mahasiswa. Mereka menyatakan penolakan terhadap rencana pengembangan proyek panas bumi di kawasan Sembalun, Lombok Timur.

 

Maryadi menilai kawasan Sembalun memiliki nilai ekologis, sosial, dan budaya yang penting bagi masyarakat Lombok Timur. Oleh karena itu, rencana pembangunan proyek geothermal perlu dikaji secara menyeluruh dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

 

“Kami menganggap geothermal ini tidak pantas untuk Lombok Timur, khususnya Sembalun, karena dampaknya cukup luar biasa. Apalagi jika dibangun di bawah kaki gunung, tentu ada kekhawatiran terhadap sumber air dan lingkungan masyarakat,” ungkapnya.

 

Ia menyebutkan, kekhawatiran mahasiswa dan masyarakat meliputi potensi gangguan terhadap sumber air, dampak lingkungan, kesehatan, serta kemungkinan munculnya konflik antara masyarakat dan aparat.

 

Mahasiswa juga menilai pembangunan energi tidak boleh mengabaikan keberadaan Gunung Rinjani dan kawasan sekitarnya yang memiliki nilai ekologis serta kesakralan bagi masyarakat.

 

Maryadi menegaskan, meskipun proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan, penolakan perlu disuarakan sejak dini sebagai bentuk perlindungan terhadap ruang hidup masyarakat.

 

Persoalan tambang Galian C di kawasan Kali Rumpang juga kembali menjadi sorotan. Mahasiswa menilai aktivitas pertambangan di kawasan Korleko dan sekitarnya telah menimbulkan dampak terhadap lingkungan, lahan pertanian, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

 

Maryadi mengatakan persoalan tersebut telah berlangsung cukup lama dan menjadi bagian dari gerakan kolektif mahasiswa bersama masyarakat.

 

“Galian C ini tetap kami angkat dan suarakan di mana pun ketika ada aksi di Lombok Timur. Ini merupakan bentuk gerakan kolektif yang kami bangun bersama teman-teman Korleko Melawan, mahasiswa, maupun pemuda,” bebernya

 

Ia menilai masyarakat belum mendapatkan penanganan dan mitigasi yang jelas atas dampak aktivitas pertambangan tersebut. Bahkan, menurutnya, terdapat kekhawatiran mengenai intimidasi terhadap masyarakat yang mempertahankan tanahnya.

 

Mahasiswa juga menilai, aktivitas tambang di kawasan Kali Rumpang disebut berdampak terhadap enam desa di sekitarnya. Aktivitas pertambangan yang tidak dikelola dengan baik dikhawatirkan menyebabkan kerusakan sungai, lahan pertanian, hingga pekarangan warga.

 

Mereka mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pertambangan serta mengambil langkah tegas untuk menghentikan kerusakan lingkungan.

 

Dalam aksi simbolik tersebut, mahasiswa juga mengangkat simbol tiga jari sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. (cit)

 

 

Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Kontributor →

Citra Maulida

–

Artikel Terkait

Ultah Lombok Tengah

OPINI