kicknews.today– Kesempatan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang permuseuman terbuka bagi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB). Kolektor seni asal Australia sekaligus Founder of The Abbott Collections, Michael Abbott, akan memberikan beasiswa kepada satu orang staf museum NTB untuk mengikuti program pembelajaran selama enam pekan atau sekitar 1,5 bulan di Australia.
Program tersebut secara khusus memberikan kesempatan kepada staf terpilih untuk mendalami manajemen dan konservasi permuseuman, sekaligus melakukan penelitian terhadap atribusi dan asal-usul berbagai benda budaya yang tersimpan di museum maupun galeri seni Australia.
Michael mengungkapkan, salah satu alasan dirinya menggagas program beasiswa tersebut adalah keprihatinannya terhadap banyaknya koleksi tekstil di museum dan galeri seni Australia yang selama ini dideskripsikan berasal dari Bali, sementara Lombok justru jarang disebut sebagai daerah asal koleksi tersebut.
Menurutnya, penelitian yang akan dilakukan peserta nantinya tidak hanya terbatas pada koleksi tekstil, tetapi juga mencakup keramik dan berbagai artefak budaya lainnya.
“Saya berharap program magang selama enam pekan ini dapat menjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Pada akhirnya, saya juga berharap seseorang dari Australia dapat datang ke Indonesia untuk belajar di sini, di Lombok,” ujar Michael saat tiba di Lombok, Kamis (29/10/2026).
Sementara itu, Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nur Alam, menyambut positif program beasiswa tersebut. Menurutnya, kesempatan ini menjadi peluang berharga bagi staf museum untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kemampuan dalam bidang konservasi dan penelitian koleksi budaya.
“Satu orang staf Museum NTB akan berada di Australia selama 1,5 bulan. Program itu dimulai akhir tahun ini. Tentunya kami sangat bersyukur,” ungkap Nur Alam.
Ia menjelaskan, staf yang akan diberangkatkan harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik serta pemahaman memadai tentang dunia permuseuman.
Selama mengikuti program tersebut, peserta dijadwalkan belajar di tiga institusi, yakni Art Gallery of South Australia (AGSA), Flinders University, dan Botanic Garden.
Selain manajemen dan konservasi koleksi museum, program pembelajaran juga mencakup pengembangan program publik di kebun raya Sydney, termasuk mempelajari pemberdayaan kelompok lanjut usia (lansia) sebagai edukator kebun raya.
Nur Alam menilai, manfaat program tersebut tidak hanya sebatas peningkatan kapasitas individu, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memperkuat jejaring kerja sama dan diplomasi kebudayaan antara Indonesia dan Australia.
Ia berharap pengalaman, pengetahuan, serta hasil penelitian yang diperoleh staf selama berada di Australia dapat diterapkan setelah kembali ke Museum NTB.
Dengan demikian, program beasiswa tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengelolaan koleksi, memperkaya pengetahuan tentang sejarah dan asal-usul benda budaya Lombok, serta membuka peluang kerja sama kebudayaan yang lebih luas antara kedua negara. (wii)


